• News

  • Peristiwa

Iman Brotoseno Jadi Dirut TVRI, Novel: Cacat Moral, Menambah Daftar Pengrusak Negeri

Direktur Utama TVRI, Iman Brotoseno
Istimewa
Direktur Utama TVRI, Iman Brotoseno

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Media Center Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin berpendapat, Iman Brotoseno tidak layak jadi Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI karena cacat moral.

Pendapat cacat moral disampaikan Novel terkait dengan rekam jejak Iman yang pernah bekerja sebagai kontributor di majalah dewasa Playboy Indonesia dan twit-twit lamanya soal video porno alias bokep.

"Bagaimana mungkin orang yang sangat cacat moral atau boleh dikatakan mengidap penyakit masyarakat yaitu pelaku yang diduga menyebarkan atau pendukung pornografi dan pornoaksi," kata Novel kepada netralnews.com, Minggu (30/5/2020).

"Jelas (penunjukan Iman sebagai Dirut TVRI) menambah daftar pengrusak negeri dan pengkhianat Pancasila, karena pornografi dan pornoaksi adalah bertentangan dengan sila pertama Pancasila. Ini sangat berbahaya untuk masa depan bangsa," tegasnya.

Selain itu, tokoh Front Pembela Islam (FPI) ini juga menyinggung soal jejak digital Iman yang pernah membahas soal Gerakan Wanita Indonesia atau Gerwani, organisasi perempuan yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). 

"Ditambah orang ini diduga kader PKI kalau dilihat postingangannya di medsos, dimana orang ini juga kader satu partai penampung dan pendukung kemungkaran yang didalamnya ada anak tokoh PKI sehingga pantes saja orang ini bisa menjabat," ungkap Novel.

Sebelumnya, Iman Brotoseno menjelaskan soal cuitannya tentang Gerwani. Ia mengaku gemar membaca buku sejarah, dan kuliah twit (kultwit) mengenai Gerwani diambil dari buku-buku yang ia baca, salah satunya berjudul 'Memahami Kontroversi Sejarah Orde Baru'.

Iman mengungkapkan hal tersebut setelah kultwitnya soal Gerwani diungkit sejumlah pihak, salah satunya mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo.

"Soal tuduhan dari Roy Suryo dalam kultwit itu. Itu kan merupakan rangkaian kultwit dari bedah buku 'Memahami Kontroversi Sejarah Orde Baru' dimana merangkum berbagai sejarawan seperti Taufik Abdullah, Anhar Gonggong, Asvi Warman Adam, dan lain-lain," kata Iman dalam keterangan tertulisnya, Minggu (31/5/2020).

Sutradara film 3 Srikandi itu pun meminta kepada Roy Suryo agar tidak menggiring opini publik berdasarkan cuitan lamanya. Menurut Iman, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) itu tak pantas melakukan hal yang demikian mengingat ia termasuk seorang intelektual.

"Pak Roy sebagai intelektual sebaiknya tidak mem-framing. Apalagi Pak Roy juga seorang pelaku fotografi, di mana perpaduan intelektual dan seni biasanya menghasilkan pemikiran yang jernih dan berbasis pengetahuan," jelas Iman.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati