• News

  • Peristiwa

Denny Siregar: Sejak 2017 Konsisten Memaki, Semoga Istiqomah Sampai Tahun 2030 Nanti

Denny Siregar
foto: istimewa
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial, Denny Siregar selalu menjadi sorotan warganet. Tak sedikit penggemarnya namun juga banyak warganet yang sangat gerah dengan sentilan-sentilan jahilnya.

Bahkan, ada sejumlah warganet yang memandang keberadaan Denny Siregar sebagai bagian dari buzzerRp. Mereka yang tak sejalan dengan Denny yang cenderung berpihak kepada Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) tak segan menyerang, memaki, mengkritik setiap pernyataan Denny.

Senin (29/6/2020), Denny mengunggah cuitan sindiran kepada mereka yang membencinya, salah satunya akun @Mustaqim Pua Tingga. Akun ini sejak tahun 2017 konsisten membuat cuitan menyerang Denny dan Abu Janda alias Permadi Arya. Salah satu pernyataan @Mustaqim Pua Tingga menyatakan:

Level warung kopi nongkrong di ILC... hahahahaha... Dua orang tolol ini bikin saya ketawa...

Menanggapi hal itu, Denny membuat cuitan:

KADRUN LEVEL SENIOR

Penggemar terbaik tuh gini...

Sejak 2017 sampe 2020, dia konsisten maki2. Sampai sekarang juga gak berubah, karena menurut dia itu tugas suci. Sampe gak cukup untuk memuat semua makiannya di page ini. Kita harus mencontoh tekad dan semangatnya..

Semoga tetap istiqomah dijalurnya sampai tahun 2030 nanti..

Banyak Warganet ikut memberikan komentar, di antaranya:

@Timothy Imam Syafii: Begitu cintanya dia sama bang Denny Siregar...

@Diana Jusana: Benci tapi cinta itu namanya, bang.. jadi ga bisa berpaling ke lain atii.. ehh.. ke yg lain selain abang, abiskan kopi nya dulu bang


Mengenai tuduhan buzzerRp, sebelumnya dilansir Suara.com, Direktur Eksekutif Lokataru Haris Azhar menyatakan, tidak rela dana rakyat dari APBN digelontorkan untuk para buzzer yang bekerja untuk menyerang aktivis demokrasi dan HAM, bahkan peyidik KPK seperti Novel Baswedan di media sosial.

“Saya keberatan uang rakyat dibuang-buang untuk membiayai kelompok ini (buzzer). Dicek teman-teman masyarakat sipil, follower akun-akun anonim penyerang itu cuma 3, 6,” kata Haris dalam diskusi bertopik Riuh Keruh Media Sosial dan Kebebasan Berpendapat yang diselenggarakan Rekat Anak Bangsa, Sabtu (20/6/2020).

Haris menilai pemerintah kerap abai dalam menegakan hukum bagi warga negara yang membutuhkan keadilan. Namun ketika warga yang bersuara dan mengkritik pemerintah justru dikriminalisasi.

Seperti kasus yang dialami Ravio Patra, pegiat demokrasi dan HAM, akun WhatsApp nya diretas karena terlalu lantang mengkritik kebijakan pemerintah dalam penanganan wabah.

“Negara sekarang perannya kebolak balik. Ketika harus intervensi seperti proses penegakan hukum kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan negara tidak hadir. Tetapi ketika ada warga yang berjuang untuk keadilan, mengkritik malah negara mengintervensi,” ujarnya.“Jadi negara tidak bisa mengintervensi sampai 24 jam itu (kerja-kerja buzzer).”

Editor : Taat Ujianto