• News

  • Peristiwa

Waspada, Asam Urat dan Obesitas Sangat Rentan Picu"Batu Tanduk Rusa" di Ginjal

Ilustrasi batu ginjal.
researchgate.net
Ilustrasi batu ginjal.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dr Ponco Birowo, Sp U(K), PhD menjelaskan, ada sebuah gangguan kesehatan bernama staghorn stone. Itu merupakan salah satu batu ginjal yang bentuknya menyerupai tanduk, dan mempunyai cabang-cabang yang terdapat di pelvis renalis sampai mengenai dua atau lebih kaliks renalis, sehingga membentuk gambaran seperti tanduk rusa. Besar kecilnya batu ini tergantung dari ukuran ginjal.

Hingga saat ini, masih belum ada data mengenai prevalensi batu tanduk rusa di Indonesia, tetapi menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi batu ginjal di Indonesia adalah 0,6 persen.

"Batu tanduk rusa sangat rentan dialami pasien yang memiliki riwayat keturunan saluran kemih, asam urat, infeksi saluran kemih, ginjal tunggal, obesitas dan sindrom metabolik," ujar Dr Ponco, baru-baru ini dalam media briefing virtual.

Selain itu, penyakit ini rentan pula bagi mereka yang memiliki penyakit lain seperti; hiperparatiroidisme, penyakit ginjal polikistik, penyakit pencernaan (reseksi usus, penyakit chron, gangguan absorpsi), kelainan saraf tulang belakang (medula spinalis) dengan gejala seperti sering mengompol (neurogenic bladder). 

"Abnormalitas struktur ginjal seperti obsruksi UPJ, divertikulum kaliks, striktur uretra, refluks vesiko-uretero-renal, ginjal tapal kuda, uretterocele juga merupakan pasien dengan faktor risiko batu tanduk rusa," jelas dia.

Bagi kelompok usia 55-64 tahun paling rentan terkena batu tanduk rusa,dengan prevalensi pada laki-laki 0,8 persen dan perempuan 0,4 persen.

Terdapat beberapa faktor risiko yang harus diperhatikan, yaitu faktor keturunan dengan riwayat saluran kemih, asam urat, infeksi saluran kemih, ginjal tunggal, obesitas dan sindrom metabolik.

Penyakit lain seperti: hiperparatiroidisme, penyakit ginjal polikistik, penyakit pencernaan (reseksi usus, penyakit chron, gangguan absorpsi), kelainan saraf tulang belakang (medula spinalis) dengan gejala seperti sering mengompol (neurogenic bladder)

“Batu tanduk rusa dapat muncul kembali, tetapi hal tersebut dapat dihindari dengan beberapa langkah," kata dia. 

Berbagai langkah yang dapat dilakukan yakni mengonsumsi air mineral cukup, mengontrol konsumsi garam, mengontrol konsumsi protein hewani, mengurangi minuman beralkohol, banyak mengonsumsi makanan yang mengandung serat, menjaga kebersihan diri untuk mengurangi kemungkinan infeksi saluran kemih, menambah aktivitas fisik.

"Aktivitas intensitas sedang minimal 150 menit per minggu atau Aktivitas fisik intensitas berat minimal 75 menit per minggu, atau mengombinasi aktivitas intensitas sedang dan berat yang sesuai," jelas dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan.H.P