• News

  • Peristiwa

Kapolresta Solo Dipukul Bertubi-tubi oleh Laskar Intoleran, Birgaldo: Speechless Gue...

Kapolresta Solo Kombes Pol Andy Rifai
Tribun Jateng
Kapolresta Solo Kombes Pol Andy Rifai

SOLO, NETRALNEWS.COM - Aksi kekerasan yang menghebohkan di Solo bikin banyak warganet geram. Pasalnya, Kapolresta Solo, Kombes Andy Rifai, bahkan ikut menjadi korban pemukulan oleh kelompok intoleran tersebut.

Kombes Andy terkena pukulan bertubi-tubi oleh oknum organisasi masyarakat atau ormas di Metrodanan, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, pada Sabtu (8/8/2020).

Pegiat kemanusiaan, Birgaldo Sinaga, Senin (10/8/2020) membuat cuitan menanggapi peristiwa itu. Di akun Facebooknya, ia mengatakan, "Speechless gue..., harusnya kebalik beritanya. Kelompok intoleran dihajar polisi karena melawan petugas. Ini malah sebaliknya. Lekas sembuh Pak Kapolres..."

Sebelumnya diberitakan, saat itu, Kombes Andy Rifai berusaha melindungi orang yang hendak dievakuasi di tengah-tengah sekelompok ormas yang mengamuk.

"Waktu berupaya melindungi korban, mereka (oknum ormas) sempat memukul saya," kata Andy seperti dikutip dari Tribunjateng.com pada Minggu (9/8/2020).

"Namun, saya tetap bertahan mengamankan korban."

Andy mengaku tidak mengingat berapa jumlah pukulan yang mengenai dirinya saat melakukan evakuasi terhadap korban.

"Saya tidak ingat. Waktu itu kita sampaikan korban akan keluar rumah," ujar Andy.

"Tetapi pada saat perjalanan di tengah jalan dicegat dan saya berusaha melindungi korban."

Kronologi Kejadian

Aksi ormas melakukan pemukulan hingga mengenai Kapolresta Solo berawal dari adanya dugaan pembubaran acara pernikahan.

Ketika itu, oknum organisasi massa melakukan aksi protes terhadap acara pernikahan yang terjadi di Mertodranan, Kelurahan/Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (8/8/2020).

Dari informasi yang dihimpun TribunSolo.com, awalnya oknum ormas mendatangi lokasi kejadian sekira pukul 16.00 WIB.

Tak hanya itu, mereka sampai-sampai menutup jalanan kampung sepanjang kurang lebih 200 meter. Mulai dari pintu masuk hingga ke lokasi kejadian.

Aksi itu diduga dipicu lantaran ormas tersebut mendapatkan informasi akan diadakannya penyelenggaraan upacara adat Midodareni di lokasi kejadian.

Dugaan pembubaran itu bahkan terekam dalam video dan tersebar di media sosial. Dalam video itu, terdengar pekikan sekelompok orang yang diduga hendak membubarkan suatu acara.

"Bubar.. Bubar.. Bubar," kata seseorang dalam video yang terdengar beberapa kali.

Menurut Andy, pihak kepolisian mendapatkan laporan dugaan pembubaran oleh sekelompok ormas sekira pukul 17.00 WIB.

"Tadi malam mendapat informasi soal adanya kelompok intoleransi yang menggeruduk rumah salah satu warga di situ," ujar Andy, Minggu (9/8/2020).

"Itu karena adanya salah satu kegiatan yang dianggap mereka tidak sesuai."

Andy menambahkan, kejadian mulai memanas menjelang salat Maghrib atau sekira pukul 17.20 WIB.

Pihak kepolisian, lanjut Andy, langsung menerjunkan personel berpakaian dan bersenjata lengkap ke lokasi kejadian. Pertama-tama, hal yang dilakukan aparat yakni bernegosiasi dengan kelompok tersebut.

"Kami langsung bergerak ke sana, kita melakukan negosiasi," ujarnya.

Oknum ormas itu sempat membubarkan diri sejenak untuk menunaikan salat Maghrib. Tapi, mereka kemudian kembali mendatangi lokasi seusai menunaikan salat Maghrib.

Pihak kepolisian lalu berusaha untuk mengevakuasi tamu-tamu yang hadir di lokasi kejadian. Ternyata oknum ormas kemudian melakukan tindakan kekerasan saat proses evakuasi keluarga dilakukan.

"Pada saat pengevakuasian itulah kelompok mereka melakukan tindakan melukai dari keluarga itu," ujar Andy.

Tamu-tamu itu kemudian menjadi sasaran penyerangan oknum ormas. Sebanyak tiga orang menjadi korban dalam penyerangan itu. Mereka kini menjalani perawatan di RS Indriati Solo Baru Sukoharjo.

"Tadi malam kena pukul dan lempar sehingga mengalami luka robek di kepala," ujar Andy.

"Saat ini sedang dirawat."

Editor : Taat Ujianto