• News

  • Peristiwa

JKW Menenangkan Pasar, DS: Andai Presiden Bisa Memecat, Anies Bisa Dipecat Kedua Kalinya

Denny Siregar
Foto: Istimewa
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Beberapa hari lalu, publik dihebohkan dengan pengumuman kebijakan Gubernur Anies Baswedan yang disebut-sebut akan berlakukan PSBB total yang dalam perkembangannya ternyata yang dimaksud adalah PSBB diperketat.

Namun, kehebohan tersebut telanjur berdampak buruk pada pasar. Rupiah dan investasi sempat anjlok walau akhirnya membaik kembali.

Mengenai hal ini, disebut-sebut terjadi salah satunya berkat pernyataan-pernyataan Presiden Jokowi yang dianggap berhasil menenangkan pasar.

Pegiat media Denny Siregar pun ikut membuat cuitan di akun twitternya, katanya:

"Akhirnya @jokowi juga yang harus membereskan masalah yang dibikin @aniesbaswedan.. Andai Presiden bisa memecat Gubernur, Anies bisa dipecat untuk kedua kalinya.."

 

Sementara sebelumnya, dilansir Katadata.com, nilai tukar rupiah menguat 0,07% ke level Rp 14.880 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot sore ini, Senin (14/9).

Rupiah berbalik menguat setelah sempat melemah usai Presiden Joko Widodo mengeluarkan pernyataan resmi soal kebijakan pembatasan soial berskala besar. Rupih sejak pagi bergerak melemah usai dibuka menguat dan sempat berada di posisi Rp 14.930 per dolar AS.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate bahkan menempatkan rupiah pada posisi Rp 14.974 per dolar AS. Hampir seluruh mata uang Asia menguat sore ini.

Mengutip Bloomberg, yen Jepang naik 0,16%, dolar Hong Kong 0,01%, dolar Singapura 0,13%, dolar Taiwan 0,07%, won Korea Selatan 0,27%, peso Filipina 0,08%, rupee India 0,07%, yuan Tiongkok 0,17%, dan ringgit Malaysia 0,18%.

Sementara hanya baht Thailand yang melemah 0,13%. Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa hari ini pasar sudah mendapat jawaban positif dari Presiden Jokowi dalam sidang kabinet di Istana Merdeka.

"Pada intinya kepala daerah dihimbau jangan terburu-buru dalam memutuskan menutup wilayahnya untuk mencegah penyebaran Covid-19," ujar Ibrahim kepada Katadata.co.id, Senin (14/9).

Jokowi pun mengingatkan kembali bahwa keputusan-keputusan dalam merespon penambahan kasus di provinsi atau kabupaten atau kota agar berdasarkan data sebaran.

Selain itu, diharapkan adanya peningkatan penanganan klaster transmisi lokal, terutama di delapan provinsi prioritas yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Papua.

Ibrahim menyebut pernyataan diplomatis Jokowi sangat jelas dan gamblang bahwa Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan dalam memutuskan kembali penerapan PSBB belum berkoordinasi dengan pemerintah pusat.

Namun, pemerintah terus berkomitmen mendukung kebijakan pemerintah daerah. Dia pun memperkirakan konsumsi masyarakat dan investasi yang sudah lebih baik akan kembali melambat akibat kebijakan PSBB DKI Jakarta.

Penyebabnya, pengurangan pegawai di kantor dari 50% menjadi 25%. Lebih lanjut, tempat pariwisata, rekreasi, serta tempat hiburan pun ditutup. Restoran bahkan kembali menerapkan larangan makan di tempat.

Hal tersebut tentunya akan menghambat laju konsumsi masyakarat. Dengan adanya sentimen itu, Ibrahim menilai investor memilih wait and see, menunggu dampak nyata dari pemberlakuan PSBB DKI.

Pelaku pasar terutama asing, masih akan memantau sejauh mana kebijakan itu mempengaruhi kinerja perekonomian nasional.

"Sebab, Jakarta adalah pemain kunci dan penyumbang terbesar dalam pembentukan produk domestik bruto Indonesia," kata dia.

Ekonom Permata Bank Josua Pardede menjelaskan penguatan rupiah juga didorong oleh kondisi pasar hari ini yang ditopang berita terkait progres vaksin Covid-19 perusahaan farmasi AS.

Perusahaan itu rencananya akan mendistribusikan vaksin sebelum akhir tahun. Astraveneca yang sebelumnya menunda pengujian terhadap pengembangan vaksin juga kembali melanjutkan pengujian klinis.

"Sehingga mendorong sentimen optimis pelaku pasar pada sesi perdagangan Asia hari ini," ujar Josua kepada Katadata.co.id di waktu yang berlainan.

Di sisi lain, ekspektasi kebijakan Bank Sentral AS, The Fed yang diperkirakan masih akan mempertahankan kebijakan akomodatif masih membatasi penguatan dolar AS dalam jangka pendek ini. Saat berita ini ditulis, indeks mata uang Ngeeri Paman Sam turun 0,24% ke level 93,11.

Sementara pemberlakuan PSBB per hari ini diperkirakan sudah masuk dalam perhitungan pelaku pasar pada hari Kamis dan Jumat pekan lalu. Dengan demikian, sentimennya hari ini cenderung mereda.

BI juga tetap berada di pasar untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi di pasar DNDF dan pasar spot hari ini.

Proyeksi surplus neraca perdagangan serta ekspektasi keputusan bank sentral pada rapat dewan gubernur bulan ini yang diperkirakan mempertahankan bunga acuan di level 4% juga turut mendorong penguatan rupiah.

Editor : Taat Ujianto