• News

  • Peristiwa

LDNU Sentil MUI, Jika Benar Ulama Mengapa Takut Disertifikasi, Respons Netizen: Takut?

Wakil Ketua Umum MUI KH Muhyiddin Junaidi (tengah) bersama jajarannya
Foto: Suara Islam
Wakil Ketua Umum MUI KH Muhyiddin Junaidi (tengah) bersama jajarannya

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Penolakan sejumlah tokoh terhadap rencana sertifikasi ulama yang akan diselenggarakan Kementerian Agama, hingga kini masih menjadi sorotan warganet.

Beberapa pengurus MUI bahkan mengkritik dan menolak kebijakan tersebut . Mereka antara lain Wakil Ketua Umum MUI Muhyiddin Junaidi dan Wakil Sekjend MUI Tengku Zulkarnain. Dua tokoh pengurus teras MUI tersebut tidak sepakat dengan rencana Kemenag.

"MUI menolak rencana program tersebut," kata Muhyiddin di Jakarta seperti dilansir Suara.com, Selasa (8/9/2020).

Ia mengatakan program tersebut juga memicu kegaduhan di tengah masyarakat karena ada kekhawatiran intervensi pemerintah dalam pelaksanaan program.

Khawatirnya, Muhyidin melanjutkan, pemerintah melalui program tersebut nanti dapat terlalu jauh mengintervensi aspek keagamaan.

"Dalam pelaksanaannya dapat menyulitkan umat Islam dan berpotensi disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu sebagai alat mengendalikan kehidupan keagamaan," kata dia.

Polemik pun berlanjut. Menanggapi respons MUI, Lembaga Dakwah PBNU (LDNU) melalui akun resmi Instagramnya, @Idnu1926 menulis cuitan yang diberi judul: Surat Cinta untuk Majelis Ulama Indonesia.

Surat Cinta untuk Majelis Ulama Indonesia

"Jika kalian benar-benar Ulama, Mengapa harus takut dengan ide sertifikasi ulama?
Sebagai perwakilan Ulama mestinya kalian tdk perlu galau dan takut pada apapun. Apalagi hanya sertifikasi"

"Tukang sertifikasi ko takut disertifikasi?"

Surat Cinta untuk Majelis Ulama Indonesia (2)

"MUI berani mengambil sertifikasi halal untuk kulkas, giliran ada ide perlu sertifikasi ulama, ada banyak orang MUI yang ketakutan dan paling dulu menolak"

KH. Ahmad Ishomuddin
Rais Syuriyah PBNU

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla mengatakan wacana sertifikasi bagi para ulama bisa diterapkan untuk masjid yang dimiliki kantor-kantor pemerintahan, bukan untuk semua masjid di Indonesia.

Lain lagi dengan respons warganet yang ikut membagikan surat cinta LDNU. Salah satunya adalah akun FB @Mang Joe Ned yang membuat cuitan:

Tukang "Lebel" gak mau pakai "Lebel"
Tukang "Cap" gak mau pakai "Cap"
Tukang "Halal" gak mau di"Halal"kan
Tukang "Sertifikasi" gak mau di"Sertifikasi"
Kenapa "Takut"...?

Editor : Taat Ujianto