• News

  • Peristiwa

Pakar Epidemiologi Sebut PSBB Jakarta yang Pertama Sukses dan Banyak Manfaatnya

Epidemiolog UI: PSBB Jakarta yang pertama sukses dan banyak manfaatnya.
Warkot
Epidemiolog UI: PSBB Jakarta yang pertama sukses dan banyak manfaatnya.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Iwan Ariawan mengatakan, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta yang pertama adalah PSBB yang sukses. Alasannya, karena hampir 60 persen masyarakat nurut diam di rumah saja sehingga epidemi Covid-19 lumayan terkendali.

Pernyataan ini disampaikan Iwan menjawab berbagai pertanyaan dari berbagai pihak yang mempertanyakan apakah PSBB ada gunanya atau tidak. Dia menunjukkan kurva kasus Covid-19 yang apabila tidak dilakukan PSBB tersebut justru akan jauh naik ke atas. Tetapi karena dilakukan PSBB, maka kurva menujukkan grafik yang melandai.

“Analisis kami, PSBB yang lalu itu manfaatnya banyak karena secara risiko kita sudah menurunkan risiko penduduk Indonesia untuk terinfeksi Covid-19 setengahnya. Banyak itu (PSBB) manfaatnya,” kata Iwan,  Minggu (20/9/2020).

Hal tersebut disampaikan Iwan dalam Webinar Nasional Seri 2 Kelompok Studi Demokrasi Indonesia dengan Tema “Strategi Menurunkan Covid-19, Menaikkan Ekonomi yang diadakan secara virtual.

Acara dihadiri oleh Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto, Direktur Eksekutif Indobaroeter M Qodari, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri, Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dengan Moderator Maruarar Sirait.

Lebih lanjut Iwan mengambil studi kasus pada periode April-Mei 2020 yang kurva kasus Covid-19 nya melandai. Menurutnya, itu salah satu indikator kesuksesan PSBB Jakarta yang pertama.

“Kami dapat akses data dari Cuebic Mobility Insights dari handphone dengan kerahasiaan penggunanya dijamin, tidak dapat diidentifikasi nama orangnya. Kita lihat, PSBB Jakarta sukses karena hampir 60 persen orang nurut diam di rumah,” jelas dia.

Tetapi keadaan berubah ketika PSBB dilonggarkan, kasus Covid-19 menjadi naik. Ini terjadi karena semakin banyak penduduk yang bergerak sehingga kasus Covid-19 semakin banyak.

Jadi diakui bahwa PSBB bermanfaat tetapi berdampak pada ekonomi. Maka dari itu perlu ntuk dicari pengganti dari PSBB.

“Kita tahu semua ada protokol kesehatan, cuci tangan, pakai masker, dan jaga jarak. Satu lagi, jangan lupa tes, lacak dan isolasi mandiri,” kata dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani