• News

  • Peristiwa

Banyak yang Teriak PKI, BS Mau Belajar Akting: Semut Merah Kalo Gigit Sakit, Jenderal!

Birgaldo Sinaga
FB/Birgaldo
Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Bulan September, isu "PKI" atau Partai Komunis Indonesia selalu rutin menjadi konsumsi untuk dipergunjingkan dan menjadi alat politik bagi sebagian masyarakat Indonesia. Pasalnya, pada bulan inilah Tragedi Kemanusiaan yang diawali dengan penculikan dan pembunuhan biadab terhadap 7 perwira TNI AD.

Bulan ini pula biasanya akan ada nonton bareng (nobar) film G-30-S/PKI garapan Arifin C Noer. Sementara baru-baru ini, isu "PKI" juga disebut-sebut oleh kelompok oposan.

Menanggapi hal itu, pegiat kemanusiaan Birgaldo Sinaga, Minggu (20/9/20) membuat cuitan kocak katanya:

Sebentar lagi  akan banyak yang ribut teriak2 PKI...
Gue mau ikutan casting filem PKI.

Kata seorang teman sepertinya saya cocok memerankan tokoh seorang jenderal dalam film G 30 S...
Benar gak ya...

Mau belajar akting dulu...
"Semut merah itu kalo gigit sakit Jenderalll !!!"

Sebelumnya dilansir Suara.com, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia menyebut semakin hari semakin banyak keturunan Partai Komunis Indonesia dan anak cucu komunis terungkap identitasnya.

"Dan ketahuan pada ngumpul bareng di kolam yang sama... Hemmm... Mau nyolot...? Silakan," kata Tengku melalui akun Twitter @ustadtengkuzul.

Pernyataan Tengku disambut gelombang cecaran dari netizen yang merasa heran dengan Tengku yang sering menggunakan narasi komunis. 

"Pertanyaannya adalah anda setiap hari bahas PKI dan PKI! Kalau memang PKI dan anak cucu PKI itu ada? Buktikan dan sebutkan siapa saja mereka, jangan cuma bisanya teriak PKI, PKI, tapi tak ada bukti sama sekali," kata seorang netizen.

Tengku mengkritik kalangan yang dinilainya tidak paham dengan program penceramah bersertifikat sehingga menjadikan MUI sasaran tembak.

"Ternyata buzzers itu akalnya lemah dan susah mencerna berita. Yang mau disertifikasi itu para dai, bukan MUI. Tapi mereka memahamkannya MUI takut disertifikasi... Berapa tiang listrik melesetnya pemahamannya mereka dari berita aslinya? hehehe... Melayani buzzers menghabiskan usia," kata Tengku.

Dia menyebut kalangan yang menyerang MUI, di antaranya buzzer yang sengaja dikerahkan untuk itu.

Tengku menyebut MUI mendapat serangan karena sejak awal menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila sehingga kemudian tak jadi disahkan DPR dan ditarik kembali oleh pemerintah.

MUI juga sejak awal menolak RUU Badan Pembina Ideologi Pancasila yang diusulkan pemerintah -- yang disebut-sebut gantinya RUU HIP.

Di balik serangan itu, menurut Tengku, ada kekuatan pendukung komunisme.

"Kenapa MUI diserang secara masif? Buzzers dikerahkan, bahkan umat seberang agama Islam pun ikut menyerang MUI, dan para personal MUI? Jawabnya terang benderang. Karena MUI menolak RUU HIP dan RUU BPIP. Ada kekuatan pro komunis dan raksasa besar yang terganggu. Umat rapatkan barisan..!" kata Tengku melalui akun Twitter @ustadtengkuzul.

Bak gula, pernyataan Tengku selalu menarik perhatian netizen untuk berkomentar dengan segala perspektif mereka.

Sebagian netizen menyarankan agar dibedakan antara yang menghantam, mengkritik karena cinta MUI, dan yang hanya iseng. "Saya sendiri cenderung lebih suka kalau MUI berbenah, menjadi lembaga yang lebih modern diterima semua kalangan," kata seorang netizen yang diamini netizen yang lain.

Isu komunis yang sering diangkat Tengku disoal netizen. Mereka merasa ada yang ganjil dan heran kenapa Tengku seakan menjadikan isu itu andalan untuk diangkat ke media sosial. "Andalannya itu gak jauh dari utang, buzzer, PKI. Itu aja diulang-ulang terus sampai pemilu, tetapi gak kunjung menang. Kasihan," katanya.

Editor : Taat Ujianto