• News

  • Peristiwa

Pandemi dan Resesi, DS: Buah Simalakama, Dimakan Tengku Zul Pingsan, Gak Dimakan...

Denny Siregar
Foto: Istimewa
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial, Denny Siregar, Minggu (27/9/20) membuat catatan mengritisi situasi ekonomi Indonesia yang diperkirakan akan mengalami resesi serius sebagai akibat pandemi Covid-19.

Denny mengibaratkan bahwa pandemi dan krisis ekonomi bak lingkaran Setan. Dengan gayanya yang kocak, ia menyebut: "Ini mirip buah simalakama memang. Dimakan TengkuZul pingsan, gak dimakan Sugik Nur meradang. Pilihan sulit, tinggal dilihat mana yang harus dikorbankan, pabrik mobil baru yang pekerjakan puluhan ribu pegawai, atau ribuan pedagang mobil bekas?"

"Tapi yang pasti, pemerintah harus memilih. Kalau kelamaan, Indonesia bisa pingsan," lanjut Denny.

"Mirip Pilkada. Demi ekonomi, pilkada harus dilangsungkan. Karena ada 270 daerah yang memilih dan disana ada ekonomi berputar di daerah senilai 10 triliun rupiah," tegas Denny.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

NGERINYA TSUNAMI RESESI EKONOMI

Yang mengerikan dari tsunami pandemi ini adalah berhentinya ekonomi.

Ekonomi dalam sebuah negara itu seperti darah yang harus terus mengalir didalam tubuh. Jika darah tidak mengalir lancar, atau berkurang atau bahkan berhenti, maka organ didalam tubuh akan mati. Negara bisa hancur karena chaos dan kudeta demi kudeta akan terjadi.

Pandemi ini membuat banyak negara harus mengurung dirinya dari dunia luar, atau istilahnya lockdown. Ketika orang dirumah saja, maka mereka tidak akan belanja keluar. Tingkat konsumsi kita anjlok. Karena gada yg belanja, maka produksi barang turun.

Karena produksi turun, maka pabrik hentikan produksi dan ribuan pegawainya dipecat. Pegawai2 yg dipecat itu ga punya uang utk belanja, konsumsi makin anjlok. Produksi makin turun dan pabrik tutup. Investasi kabur dari Indonesia.

Seperti lingkaran setan akhirnya.

Dan ini terjadi dibanyak negara produsen. Dibidang otomotif saja, Renault Perancis sudah memPHK 15rb karyawannya. BMW Jerman PHK 5rb karyawannya. Dan banyak lagi. Itu baru pabrikannya, belum pemasoknya yang sudah pasti gelombang PHK lebih besar lagi.

Karena itulah, ada rencana pemerintah Indonesia utk memotong pajak mobil baru. Dengan potongan pajak, maka harga mobil baru akan jadi lebih murah. Karena harga murah, masyarakat akan beli. Dengan begitu, produksi mobil terjaga. Ribuan pegawai pabrik mobil tidak akan dipecat. Pabrik bisa operasi.

Darimana rakyat bisa beli mobilnya ? Ya, dari uang cadangan yg mereka simpan dgn ketat selama Pandemi. Akhirnya krn mobil murah, mereka jadi belanja. Konsumsi jalan, aliran darah mengalir dan organ2 tubuh kembali berdetak.

Tapi pedagang mobil bekas teriak. Bayangkan, mobil Avanza baru yg biasa dijual 200 jutaan, bisa jatuh jadi 120 juta. Lha, trus bekasnya berapa ? Pedagang mobil bekas yg sudah beli mobil bekas dgn harga normal, harus hancur2an krn rugi besar.

Ini mirip buah simalakama memang. Dimakan TengkuZul pingsan, gak dimakan Sugik Nur meradang. Pilihan sulit, tinggal dilihat mana yang harus dikorbankan, pabrik mobil baru yang pekerjakan puluhan ribu pegawai, atau ribuan pedagang mobil bekas ?

Tapi yang pasti, pemerintah harus memilih. Kalau kelamaan, Indonesia bisa pingsan.

Mirip Pilkada. Demi ekonomi, pilkada harus dilangsungkan. Karena ada 270 daerah yang memilih dan disana ada ekonomi berputar di daerah senilai 10 triliun rupiah.

Jadi, jangan lagi menuding pemerintah lebih berpihak pada ekonomi dari kesehatan. Kalau ekonomi sehat, tapi tubuh sakit, itu pasti gak bagus. Tapi kalau tubuh sehat, ekonomi sakit, perut lapar juga tangisan anak menangis kencang, itu bisa membuat seorang bapak turun ke jalan.

Dan ratusan ribu bapak yang gelap mata, bisa membuat negara terbakar.

Ini bukan masalah si kaya (pabrik mobil baru) dgn si miskin (pedagang mobil bekas). Ini sudah masalah ekonomi nasional, yang berdampak pada stabilitas politik ke depan.

Kalau paham, seruput kopinya kawan..

Pernyataan Menkeu

Sebelumnya dinukil Kompas.com, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan, pada kuartal III, perekonomian Indonesia akan mengalami kontraksi hingga minus 2,9 persen.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III akan berada di kisaran minus 2,9 persen hingga minus 1,1 persen.  Angka tersebut lebih dalam jika dibandingkan dengan proyeksi awalnya, yakni sebesar minus 2,1 persen hingga 0 persen.

Adapun keseluruhan, pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun akan berada di kisaran minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen. Adanya hal tersebut maka tak menutup kemungkinan resesi ekonomi di Indonesia akan terjadi.

Editor : Taat Ujianto