Netral English Netral Mandarin
16:42wib
Sebanyak 11 siswa MTs Harapan Baru Cijantung, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meninggal saat kegiatan pramuka susur sungai di Sungai Cileueur. Presiden Joko Widodo alias Jokowi meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan moratorium penerbitan izin usaha baru untuk pinjaman online.
Perjuangan Pendamping PKH di Flores Timur, Hingga Cara Korkab Buat SDM Bandel Jadi Jera

Minggu, 15-Agustus-2021 09:38

Koordinator PKH Kabupaten Flores Timur, Dominikus Dore
Foto : Kemensos
Koordinator PKH Kabupaten Flores Timur, Dominikus Dore
12

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Kabupaten Flores Timur adalah sebuah kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagai kawasan kepulauan, ada berbagai kesulitan yang dihadapi oleh para Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), sebagai salah satu program Kementerian Sosial (Kemensos). 

 

Koordinator PKH Kabupaten Flores Timur, NTT, Dominikus Dore memaparkan, Kabupaten Flores Timur terdiri dari 19 kecamatan. Sebanyak delapan kecamatan ada di Larantuka, delapan kecamatan di Adonara, dan tiga kecamatan lainnya ada di Solor. 

 

“Ada tiga pulau besar (Larantuka, Adonara dan Solor). Di pulau kecil ada juga yang ditempati Keluarga Penerima Manfaat (KPM),” ujar Dominikus, dikutip dari  perbincangan di Channel Youtube Ditjen Linjamsos Kemensos, Minggu (15/8/2021). 

 

Dominikus sendiri membawahi sebanyak 51 orang, yang terdiri dari 48 Pendamping PKH dan sebanyak dua orang operator, termasuk satu orang koordinator yakni dirinya sendiri. 

 

Di Kabupaten Flores Timur, ada sebanyak 51 orang pekerja sosial. Terdiri dari 48 Pendamping PKH, dua orang operator, serta seorang koordinator yakni Dominikus sendiri. Para pendamping tersebar di Larantuka sebanyak 21 orang, di Adonara sebanyak 23 orang, dan di Solor sebanyak tujuh orang. 

 

Untuk jumlah KPM sendiri, di Januari 2021 ada sebanyak 11.148. Tetapi angka tersebut bertambah, menyusul sempat terjadinya bencana alam yang tidak terduga. 

 

“Ada wilayah yang termasuk kategori sulit, yakni Kecamatan Tanjung Bunga. Empat desa itu. Kalau musim hujan setengah mati,” ungkap Dominikus yang juga pernah menjadi Pendamping PKH pada 2013-2015 lalu.

 

Alasannya, karena kawasan tersebut minim dengan infrastruktur seperti jalanan dan jembatan. Apabila di musim panas, jalanan baru dan tanah, tetapi bila musim hujan datang, sulit untuk dilewati karena becek dan lumpur. Tidak heran untuk menembus kawasan tersebut, para Pendamping PKH memerlukan kendaraan khusus seperti motor trill. 

 

Tantangan lain berupa jaringan. Diakui Dominikus, di beberapa desa jaringan tidak ada sama sekali. Kalaupun ada hand phone, bisa menyala tetapi tidak ada sinyal. Maka dari itu diperlukan koordinasi sebelumnya dengan Pemerintah Daerah  (Pemda) apabila ada kegiatan di kawasan yang tidak memiliki jaringan. 

 

Lantas, bagaimana cara Dominikus memastikan KPM di wilayah sulit bisa mendapatkan pendampingan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) Kemensos? Dia tegaskan bahwa pendampingan kepada KPM tidak bisa dilakukan secara rutin karena keterbatasan tersebut, tetapi ada kewajiban para pendamping PKH untuk selalu memberikan informasi terupdate pada para KPM. 

 

“Bahkan KPM ada yang punya kemampuan lebih. Sudah tahu, jadwal Bantuan Sosial (Bansos) cair kapan. Ada yang sudah tahu. Ketika Dana Bansos cair, mereka ke Pasar Larantuka. Pencairan itu (Bansos),” ujar dia. 

 

Bagi KPM yang meyandang disabilitas dan Lanjut Usia (Lansia), pengambilan Bansos dilakukan oleh pihak keluarga. Dia juga tegaskan, tidak ada proses pengampilan Bansos secara kolektif melalui Pendamping PKH. Para KPM biasanya secara kompak, berbondong-bondong mengambil Bansos sendiri. 

 

“KPM berbondong-bondong ambil Bansos sendiri. Kecuali kompak, sama-sama ke Larantuka, sama-sama ke E-Warong, ambil. Kalau dititipkan kartu (untuk diambilkan), tidak ada,” tegas dia. 

 

Di tengah penyaluran Bansos dan suskseskan program pemerintah, Dominikus secara pribadi berusaha belajar dan memahami sifat SDM PKH. Dia mengakui bahwa ada yang memberikan respon lambat, tetapi itu terjadi karena adanya hambatan seperti masalah jaringan untuk berkomunikasi. Di sisi lain, dia pastikan bahwa SDM PKH di Flores Timur begitu aktif. 

 

“Sebelum-sebelumnya (dua tahun lalu) ada yang bandel (SDM PKH) tetapi untuk sekarang kita semua memberikan yang terbaik untuk masyarakat. Jadi kalau ada yang bandel, diberi catatan, peringatan, hingga ada yang pemutusan kontrak kerja. Jadi teman-teman saat ini sudah fokus sesuai Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) sebagai pendamping,” jelas dia. 

 

Diakui Dominikus, hal itu tidak terjadi secara instan dan alamiah. Dia selama ini berupaya untuk melakukan pendekatan secara personal dan berporses elan-pelan, hingga dua tahun lamanya, SDM PKH bandel dipastikan tidak ada di Flores Timur. 

 

“Kita bekerja sesuai SOP Kemensos, sesuai Surat Keterangan (SK). Kalau ada teman bandel melakukan di luar SK dan kode etik, beri peringatan. Panggil, sampaikan. Ditanya pula hambatan apa, kesulitan apa. Jadi beri peringatan sesuai SK,” tegas dia. 

 

Sebagai orag nomor satu di kalangan Pendamping PKH, Dominikus pun rela untuk berpindah dari kecamatan yang satu ke kecamatan yang lain untuk melakukan pendampingan. Tentu kendala medan perjalanan juga menjadi tantangan untuk melakukan pertemuan pendampingan kepada seluruh pendamping PKH. 

 

“Saya datengin per pulau (untuk pendampinggan SDM PKH). Saya rolling. Kumpul di kecamatan ini. Saya rolling untuk saling dengarkan hambatan dan keluhan,” kata dia. 

 

Tidak heran apabila dia kerap menginap di suatu kecamatan, karena ada pembatalan keberangkatan kapal untuk pulang ke kediamannya. Dia juga mengaku kerap numpang menginap di kediaman Pendamping PKH karena tidak bisa pulang di hari yang sama. 

 

Tak lepas berkat perjuangan para Pendamping PKH, ada sebanyak 200 KPM yang graduasi secara mandiri di 2020. Target yang sama, yakni minimal 200 KPM diharap Dominikus juga bisa graduasi mandiri pada tahun 2021. 

“Saya mengajak teman-teman Pendamping PKH untuk selalu aktif dan giat, selalu memberi kegiatan Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2), komunikasi dan koordinasi. Melakukan pendekatan KPM agar graduasi, memiliki penghasilan tetap. Sopan Integritas Profesional,” tegas Dominikus. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli