Netral English Netral Mandarin
22:03wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Pertumbuhan Sektor Manufaktur Diharapkan Berlanjut Hingga Akhir Tahun

Rabu, 11-Agustus-2021 23:00

Ilustrasi Manufaktur
Foto : Istimewa
Ilustrasi Manufaktur
25

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sektor manufaktur menunjukkan tajinya di sepanjang semester I tahun ini dan diharapkan akan terjaga hingga akhir 2021, sehingga kinerja saham emiten di sektor tersebut bisa kembali bersinar.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada pekan lalu memperlihatkan sumbangsih sektor manufaktur merupakan yang tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan II/2021 yakni 1,35%.

Pada periode ini sektor manufaktur pun mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,91% kendati ekonomi masih dihadang pandemi.

Sektor manufaktur juga menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan II tahun ini yakni sebesar 17,34%. Selain itu, kinerja ekspor sektor manufaktur pada semester I/2021 tercatat sebesar USD 81,06 miliar. Jumlah itu setara 78,80?ri total ekspor nasional yang mencapai USD 102,87 miliar.Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan hasil positif tersebut diharapkan bisa menular kepada kinerja saham emiten sektor manufaktur. Dia menilai, perbaikan kinerja tersebut tak terlepas dari pulihnya kegiatan masyarakat.

“Update terakhir sampai dengan semester I/2021 beberapa sudah mulai membaik kinerjanya kalau saya lihat. Triwulan II membaik. Aktivitas dari masyarakat yang sepanjang semester I sudah mulai pulih meningkatkan kinerja mereka. Menopang permintaan sehingga bisa membukukan kinerja yang membaik, katanya.

Di sisi lain, sejak Juli lalu pemerintah kembali menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk menekan laju pandemi Covid-19. Hal itu, memang akan menjadi tantangan bagi pelaku ekonomi di semester II/2021.

Namun, stimulus berupa kebijakan fiskal dan upaya pemerintah menekan laju pandemi di sepanjang tahun ini dinilai akan menekan risiko PPKM yang masih diperpanjang hingga pekan kedua Agustus 2021.

“Apa yang dilakukan pemerintah sudah mewakili. Stimulus membuat kinerja emiten membaik. Sentimen positif bisa juga datang dari luar pelaku pasar melihat upaya pemerintah menggalakan vaksin tumbuh persepsi baik dan sentiment positif yang menggerakan harga saham, tuturnya.

Senada, analis pasar modal dari Investor Cafe Handi Erawan menilai ada harapan pertumbuhan kinerja di sektor manufaktur hingga akhir 2021. Pelaku usaha di sektor tersebut setidaknya sudah beradaptasi dengan kondisi menantang karena pandemi Covid-19.

Dia menilai, agar kinerja saham sektor manufaktur lebih likuid di masa pandemi, emiten manufaktur ataupun yang terkait harus mampu menunjukkan efisiensi kinerja untuk menarik minat investor. Melihat rekam jejak saat pandemi, kalau mau likuid emiten harus menunjukkan efisiensi. Atau mungkin melakukan aksi korporasi untuk menjaga likuiditas perusahaan, ujar Handi.

Salah satu emiten yang bersinggungan dengan industri manufaktur adalah PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. atau IPCC yang merupakan anak usaha dari PT Pelindo II (Persero). Perusahaan pelat merah tersebut bergerak di bidang usaha terminal komersial yang menyediakan layanan di terminal mobil. IPCC adalah mata rantai industri otomotif Tanah Air. Presiden Direktur IPCC Rio T.N. Lasse mengatakan kegiatan perseroan sangat dipengaruhi oleh tren di industri otomotif.

Pada 2020 kinerja IPCC anjlok karena pandemi dan mengalami penurunan. Pendapatan IPCC pada semester I/2021 dari pasar domestik mencapai Rp55,85 miliar, naik dari periode yang sama pada 2020 hanya Rp44,28 miliar. Adapun pendapatan dari pasar internasional pada paruh pertama 2021 mencapai Rp177,17 miliar naik dari periode yang sama 2020 sebesar Rp130,83 miliar.

Hal itu pun berpengaruh pada saham IPCC yang saat IPO pada 2018 mencapai Rp1.715 per lembar, namun karena pandemi sempat menyentuh Rp232 yaitu pada Maret 2020. Saat ini saham IPCC kembali merangkak di kisaran Rp480-Rp550 per lembar.

Pada semester I 2021 kita rebound karena kondisi manufaktur sudah lebih baik, seiring pemulihan di negara tujuan ekspor dan pelonggaran pembatasan aktivitas masyarakat di negara ekspor, katanya dalam diskusi daring yang digelar D Origin Advisory bekerjasama dengan IGICO Advisory, Rabu (11/8/2021).

Menurut Rio, untuk kembali mengerek harga saham pihaknya memperkuat aspek fundamental, layanan, hingga kinerja secara keseluruhan, termasuk melalui digitalisasi.

Lebih lanjut, menurut Reza, adanya era teknologi turut berperan serta dan mendukung terciptanya ekosistem rantai logistik sehingga memungkinkan kegiatan logistik berjalan dengan efektif dan lebih efisien.

“Proses digitalisasi pada industri logistik membuat flow of goods bisa ter-tracking dengan lebih baik, mulai dari pemesanan, proses administrasi hingga proses receiving/delivering-nya. Ditambah dengan proses pembayaran dan penerimaan flow of money yang lebih ringkas karena terkoneksi dengan sistem pembayaran dan keuangan,” tutup Reza. 

Reporter : PD Djuarno
Editor : Sulha Handayani