Netral English Netral Mandarin
09:37wib
Pemerintah Indonesia kritik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang luput menyoroti kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di negara-negara maju. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin pada Sabtu (25/9/2021) dini hari.
Perusakan Baliho Puan, Begini Kata Pengamat

Selasa, 27-Juli-2021 22:30

Pengamat politik dari UMK Dr. Ahmad Atang, MSi
Foto : Antara
Pengamat politik dari UMK Dr. Ahmad Atang, MSi
6

KUPANG, NETRALNEWS.COM - Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Dr Ahmad Atang MSi mengatakan perusakan terhadap Baliho Puan Maharani sebagai tindakan yang tidak santun dan sama sekali tidak menggambarkan tabiat seorang demokrat sejati. 

"Atensi publik yang berbeda tentu sah-sah saja dalam negara demokrasi, namun tindakan resistensi dengan melakukan perusakan tidak menggambarkan tabiat seorang demokrat sejati," kata Ahmad Atang di Kupang, Selasa (27/7/2021). 

Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan perusakan sejumlah baliho bergambar Ketua DPR RI sekaligus Ketua DPP PDIP Puan Maharani pada delapan titik di Kota Surabaya, Jawa Timur, dan reaksi PDIP. 

Delapan lokasi baliho yang dirusak berada di Jalan Wiratno, Jalan Karang Asem, Jalan Mulyosari Bundaran Pakuwon City, Jalan Kalisari, Jalan MERR Mulyorejo, Jalan MERR RSIA, Jalan Ngagel, dan Jalan Kenjeran Makam Rangkah. 

Dia mengatakan saat ini sedang terjadi pertarungan politik untuk memperebutkan simpati publik menuju Pilpres 2024. 

Salah satu figur yang mewarnai wacana politik publik hari ini adalah Puan Maharani yang menjadi kandidat dari PDI Perjuangan. 

Kehadiran Puan Maharani di ruang publik sebagai salah satu kandidat capres/cawapres, di satu sisi dapat menarik simpati publik namun pada sisi yang lain dapat mematik resistensi. 

Menurut dia, perusakan baliho Puan Maharani dapat dimaknai sebagai bentuk ketidaksukaan publik terhadap tampilnya Puan Maharani. 

"Ini merupakan pesan politik bahwa tidak semua masyarakat memberikan apresiasi atas hadirnya figur di pentas politik nasional," katanya. 

Namun, menurut Ahmad Atang, atensi publik yang berbeda tentu sah-sah saja dalam negara demokrasi, namun tindakan resistensi dengan melakukan perusakan tidak menggambarkan tabiat seorang demokrat sejati. 

Seorang Demokrat selalu siap berbeda dalam kesantunan bukan anarkisme yang berlebihan, katanya menambahkan.

Reporter : Antara
Editor : Sesmawati