Netral English Netral Mandarin
22:42wib
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno memastikan kebijakan karantina berlaku untuk semua tim MotoGP 2022 tanpa terkecuali. Pemerintah memutuskan memberi nama ibu kota negara baru Indonesia dengan istilah Nusantara. Pemberian nama tersebut dinilai terkesan Jawa Sentris.
Kisah 'Cina Loleng Makan Babi Sekaleng' hingga Ejekan 'Arab Jingjing' di Betawi

Sabtu, 15-January-2022 18:26

Ilustrasi Masyarakat Betawi tempo dulu.
Foto : Wikipedia.org
Ilustrasi Masyarakat Betawi tempo dulu.
1

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Indonesia yang penduduknya multi etnis, multi budaya, multi ras, dan multi agama, segenarnya juga tercermin dalam kehidupan masyarakat Betawi baik di era penjajahan maupu di era kemerdekaan.

Namun, ada catatan menarik yang terjadi di awal kemerdekaan. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi, olok-olokan atau ejekan berbau SARA ternyata dahulu pernah terjadi namun justru menjadi bahan bercanda tanpa ada unsur kebencian dan permusuhan.

Suasana ini pernah “dipotret” oleh mendiang Firman Lubis dalam catatannya di buku Jakarta 1950-1970 (2018: 19-20).  Kesaksian tentang keseharian di era 1950-an, dikemas secara apik melalui catatan kenangan saat ia hidup dan tinggal di tengah-tengah masyarakat Betawi.

“Selain sebagai anak bangsa Indonesia, saya kira saya juga ingin memperkenalkan dan menyebut diri saya sebagai anak Jakarta karena sejak lahir saya tinggal dan besar di Jakarta. Saya lahir dan tinggal hingga dewasa di Menteng, tepatnya di Jalan Guntur,” tulis Firman tentang dirinya.

Daerah Guntur dikenal sebagai wilayah Menteng paling selatan dan berbatasan dengan kampung Pedurenan, Menteng Atas, Menteng Dalam, dan Menteng Wadas.  Di daerah Guntur, nama-nama jalannya terkenal menggunakan nama gunung, seperti Jalan Guntur, Malabar, Merapi, Muria, Lawu, Papandayan, Kencana, Kawi, Kelud, Bromo, Wilis, Halimun, Salak, Sindoro, Sumbing, Ungaran, Merbabu, dan Tangkuban Perahu. Maka tak mengherankan jika nama perkumpulan generasi mudanya juga menggunakan nama gunung.

Meski menggunakan nama marga “Lubis”, namun Firman Lubis mengaku lebih kental sebagai “orang Jakarta” karena ia lahir dan besar di Jakarta.

“Orang sering langsung bertanya, apakah saya dari Medan atau Mandailing—mungkin maksudnya dari kampung. Ada juga yang langsung menyapa saya dalam bahasa Batak, mungkin supaya akrab. Agak jengah juga kadang-kadang saya menjawabnya. Biasanya saya menjawab yang sebenarnya saja, yaitu ayah saya dari Mandailing, tetapi saya lahir dan besar di Jakarta,” tulisnya.

Ia sadar betul, sebagai warga Jakarta, maka ia merasa ada semacam percampuran darah dan budaya yang membentuk dirinya sebagai pribadi yang mengakui keberagaman.

“Dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia yang semakin kompleks, saya cenderung lebih menganut paham ius naturalis, walaupun juga tidak menafikan ius sanguinis mengenai asal usul saya. Menurut saya paham ini lebih wajar, egaliter, dan demokratis. Karena lahir dan besar di kota seperti Jakarta, hal ini tentu banyak mempengaruhi kepribadian, mentalitas, dan pandangan hidup saya. Ada beberapa pengaruh kuat yang dapat saya rasakan dari tumbuh di kota besar seperti Jakarta,” kata Firman.

Kehidupan yang multikultural sangat ia rasakan. Tetangga-tetangga Firman Lubis di sekitar Guntur, merupakan gado-gado dari berbagai macam suku, ras, dan agama.

“Saya pun menjadi terbiasa bergaul dan bermain dengan anak-anak tetangga dari suku Jawa, Sunda, Batak—suku yang terakhir tersebut relatif cukup banyak yang tinggal di Guntur pada 1950-an, mulai dari marga Nasution, Siregar, Pulungan, Lubis, Tobing, Batubara, Tampubolon, Gultom, Hutagalung, Hasibuan, Tambunan, Sitinjak, Simanjuntak, Simatupang, Siahaan, semua ada di situ,” katanya.

Keberagaman masyarakat Jakarta juga sangat terasa di wilayah lain, misalnya di daerah Gang Kernolong di Kwitang. Menurut pengamatan Firman Lubis, di sana juga banyaknya orang Batak-Betawi, Minang, Aceh, Ambon, Palembang, Bali, Manado, Gorontalo, serta Tionghoa, Belanda, dan Arab.

Di tahun 1950-an, masih sangat terlihat warga yang merupakan keturunan Eropa termasuk Belanda. Bahkan ada juga keluarga tetangga Firman Lubis yang berdarah Armenia. Firman juga mengaku pernah berteman dengan seorang anak tetangga yang berdarah Yugoslavia yang saat itu negaranya belum terpecah.

“Teman-teman saya ada yang pergi ke Masjid, ke gereja—setiap hari Minggu waktu itu ada kegiatan yang mereka sebut zondagsschool di gereja—atau sembahyang Toapekong, walaupun harus saya akui dengan jujur, teman-teman saya di tahun 50-an lebih sekuler, lebih senang bermain, ketimbang menghadap ke ”rumah Tuhan,” kenang Firman Lubis.

Maka, di hari-hari raya keagamaan, Firman Lubis dan teman-temannya malah lebih sering saling berkunjung ke rumah masing-masing ketimbang pergi ke tempat ibadat. Di antara mereka tak ada rasa sungkan, bersifat spontan, dan mungkin itu menjadi tradisi hingga kini.

“Oleh karena terbiasa dengan lingkungan sosial budaya yang mosaik seperti itui, bagi saya perbedaan suku, ras, dan agama merupakan hal biasa dan tidak pernah menjadi persoalan. Saya menjadi terbiasa menerima dan mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap berbagai perbedaan yang sering disebut sebagai masalah SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan),” kata Firman Lubis.

Dalam pergaulan sehari-hari, bahkan ejekan menjadi hal biasa.

“Walaupun dulu juga sering saling mengejek mengenai perbedaan suku atau ras, seperti Jawa kowek, Padang bengkok, Batak tukang makan orang atau tukang makan anjing—saya sendiri sering terkaget-kaget waktu ada yang melontarkan ejekan ini kepada saya karena kedua orang tua saya ”cukup Islami” dan saya agak takut dengan anjing, Cina loleng atau Cina tukang makan babi,” kata Firman Lubis.

“Saya masih ingat ejekannya: ‘Cina loleng, makan babi sekaleng, kalo enggak mau gue tempeleng.’ Termasuk ejekan Arab jingjing, Belanda mabok atau Belanda edan. Saya jadi teringat dengan si Hans, anak Indo tetangga saya zaman itu, yang sering diejek ‘Hansye gek Hansye doll, dicekek keluar dodol,’ imbuhnya.

Hanya saja, Firman Lubis sangat menyadari dan merasakan di masa itu ejekan benar-benar tidak disertai dengan unsur kebencian atau permusuhan. Semua hanya sebatas olok-olokan stereotip atau main-mainan kekanak-kanakan saja. Tidak lebih dari itu.

“Boleh dibilang, masalah SARA di lingkungan saya tumbuh dulu, terutama perbedaan agama, belum merupakan masalah. Jadi, kalau sekarang ini banyak orang yang mengkhotbahkan perlunya mengembangkan sikap toleransi terhadap perbedaan agama atau budaya di antara masyarakat Indonesia, saya sering mengatakan bahwa bagi saya hal itu sama sekali tidak perlu. Tidak ada gunanya bagi saya,” tulis Firman Lubis.

“Sejak lama sikap toleransi itu tumbuh dan berkembang dalam diri saya, sudah sejak dari rumah atau kata orang Belanda, “van huis uit.” Jadi, tidak perlu diajarkan lagi. Saya pun sangat membenci sikap dan perilaku yang diskriminatif, eksklusif, dan intoleran berdasarkan SARA,” tandasnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto

Berita Terkait

Berita Rekomendasi