3
Netral English Netral Mandarin
14:47 wib
Kementerian Lingkungan Hidup mengungkap ada peningkatan titik panas yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan di beberapa provinsi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan kegiatan sekolah tatap muka bisa dilakukan pada semester kedua tahun ini, atau tepatnya pada Juli 2021 mendatang.
Petinggi Demokrat Ungkap Pola Korupsi Bansos Gotong Royong, DS: Pengalaman Korupsi adalah Guru Terbaik

Selasa, 19-January-2021 16:10

Petinggi Demokrat Ungkap Pola Korupsi Bansos Gotong Royong, Denny sebut Pengalaman Korupsi adalah Guru Terbaik
Foto : Istimewa
Petinggi Demokrat Ungkap Pola Korupsi Bansos Gotong Royong, Denny sebut Pengalaman Korupsi adalah Guru Terbaik
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politikus Demokrat Rachland Nashidik menyoroti dugaan korupsi bansos dan mengaitkannya dengan falsafah Pancasila. Pernyataan ini jelas ditujukan untuk menyindir pihak Partai PDIP.

"Korupsi Bansos itu melanggar semua dari lima sila dalam Pancasila. Kecuali bila lima sila itu diperas jadi ekasila, yaitu gotong-royong, mungkin jadi terdengar masuk akal. Menggarong duit wong cilik secara gotong royong. Betul, Madam?" tanya Rachland.

Cuitannya langsung viral. Selasa (19/1/21), Pegiat media sosial Denny Siregar ikut mengomentari pernyataan Rachland.

"Ini pesan seorang kader dari partai yang sangat berpengalaman masalah korupsi seperti.. korupsi hambalang, korupsi wisma atlet, korupsi ESDM dan banyak korupsi lainnya.." kata Denny.

"Patut kita dengarkan, karna pengalaman korupsi adalah guru yg terbaik..," imbuhnya.

Secara terpisah sebelumnya diberitakan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang mendalami adanya arahan khusus dari tersangka mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara (JPB), dalam pengadaan bantuan sosial (bansos) untuk wilayah Jabodetabek Tahun 2020.

Menindaklanjuti kasus yang semakin mengerucut ini, KPK pada Jumat, 15 Januari 2021 telah memeriksa Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Kemensos Adi Wahyono (AW) sebagai saksi untuk tersangka Juliari dan kawan-kawan.

Sebagaimana dalam penyidikan kasus suap pengadaan bansos untuk wilayah Jabodetabek Tahun 2020, dalam hal ini diketahui pula Adi sebagai salah satu tersangka kasus tersebut.

Melalui Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, 17 Januari 2021, ia menjelaskan bahwa Adi Wahyono, PPK pada proyek bansos Tahun Anggaran 2020, masih terus didalami terkait dengan jabatan saksi selaku PPK.

Kemudian juga adanya dugaan arahan khusus dari tersangka JPB dalam pengadaan bansos untuk wilayah Jabodetabek Tahun 2020 di Kemensos. Sebagaimana dikutip Pikiran-Rakyat.com dari laman Antara.

Pada Jumat, 15 januari lalu KPK juga telah memeriksa dua saksi lainnya, untuk tersangka Juliari dan kawan-kawan yakni Manajer PT Pertani Muslih, dan Ivo Wongkaren dari unsur swasta.

Ali menyatakan, saksi Muslih didalami keterangannya terkait adanya kerja sama dalam proyek bansos untuk wilayah Jabodetabek Tahun 2020 pada Kemensos.

"Serta digali juga mengenai besaran nilai anggaran proyek yang didapat dari kerja sama tersebut dan berapa nilai anggaran yang dibayarkan ke oleh Pertani ke PT Mandala Hamonangan Sude dalam pengadaan ini," ujar Ali seperti dilansir Merdeka.com

Diketahui pula bahwa PT Mandala Hamonangan Sude merupakan salah satu rekanan penyedia bansos, untuk wilayah Jabodetabek Tahun 2020.

Sementara itu, saksi Ivo Wongkaren, penyidik mendalami pengetahuannya mengenai tahapan dari perusahaan saksi. Hingga akhirnya mendapatkan proyek distribusi bansos pada wilayah Jabodetabek Tahun 2020 di Kemensos, serta teknis pembayaran atas kerja sama tersebut.

Tak hanya Juliari, KPK pun telah menetapkan empat tersangka lainnya, yakni dua Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Kemensos Matheus Joko Santoso (MJS) dan Adi Wahyono (AW) serta Ardian Iskandar Maddanatja (AIM) dan Harry Van Sidabukke (HS) masing-masing dari pihak swasta.

Kasus yang menjerat mantan Kemensos itu, bahwasannya Juliari diduga menerima suap senilai Rp17 miliar dari ‘fee’ pengadaan bantuan sosial, yakni sembako untuk masyarakat terdampak Covid-19 di Jabodetabek

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto