Netral English Netral Mandarin
18:43 wib
Kasus terkonfirmasi positif COVID-19 yang dilaporkan melalui Satuan Tugas Penanganan COVID-19 per Minggu (17/1) pukul 12.00 WIB bertambah 11.287. Ganda putri Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu meraih gelar juara turnamen Yonex Thailand Open 2021 setelah menyingkirkan pasangan tuan rumah.
PG Jenar, Pabrik Gula Pertama dan Terakhir di Purworejo, Mengapa Terlupakan?

Sabtu, 09-January-2021 12:55

Proses penggilingan tebu di PG Jenar.
Foto : Troppenmuseum.nl
Proses penggilingan tebu di PG Jenar.
0

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – Dalam penelusuran Netralnews menguak keberadaan bekas Pabrik Gula Jenar, ternyata banyak warga sekitar Purworejo tidak tahu bahwa di daerah mereka pernah ada pabrik gula di masa kolonial Belanda.

Lokasi persisnya berada di Desa Plandi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. PG Jenar atau Pabrik Gula Jenar pernah berdiri megah setidaknya  selama beberapa puluh tahun.

Dalam kajian Lengkong Sanggar Ginaris Mahasiswa S2 Ilmu Arkeologi, FIB, Universitas Gadjah Mada berjudul Permukiman Emplasemen Pabrik Gula Purworejo (1910-1933), bisa dikatakan PG Jenar ini dibangun lebih lambat dibanding pabrik gula lainnya di Jawa Tengah.

Baca Juga :


Abad 20 adalah masa dimana puncak kejayaan kolonial. Pembangunan di mana-mana setelah jalur transportasi, terutama kereta api “mengalungi” pulau Jawa.

Purworejo sendiri di masa itu masuk dalam Karisidenan Kedu di mana hanya ada dua pabrik gula yakni di Jenar dan Prembun (sekarang masuk Kabupaten Kebumen).

Menurut jurnal dagang De Indische Mercuur, "N.V. Suikeronderneming Poerworedjo" seperti dikutip Lengkong, secara resmi dibentuk pada 4 Desember 1908 dan merupakan perusahaan hasil patungan antara dua perusahaan, Patijn van Notten Co. dan Wurfbain Son.

Dewan direksi pertamanya terdiri dari S.C. van Musschenbroek (mantan pejabat Nederlandshce Handel-Maatschappij), F.M. Delfos, Ph. L. von Hamert, Abram Muller, J.W. Ramaer, Jam A. R. Schuurbeque Boeye, dan mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jhr. C. H. A. van der Wijck.

Pabrik ini kemudian beroperasi setidaknya hingga tahun 1933. Tidak jelas secara pasti apa yang menyebabkan pabrik gula ini kemudian tutup di tahun 1933.

Dalam penelusuran Netralnews, justru mendapat  pernyataan salah satu narasumber di lokasi bekas pabrik gula yang justru berbeda.

Dalam memori Suparman (67), ia masih ingat bahwa kedua orang tuanya pernah menceritakan secara detail bagaimana gambaran Pabrik Gula Jenar. Menurutnya, pabrik tersebut baru berhenti beroperasi  saat proklamasi kemerdekaan.

“Ibu saya dahulu mengasuh anak-anak Tuan Suzenaar, salah satu pemilik pabrik gula. Bahkan putranya sendiri yang pernah diasuhnya, pernah datang kemari. Hingga kini saya masih selalu komunikasi dengan beliau,” tutur Suparman.

Dalam ingatannya, pabrik gula tersebut telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak karyawan yang mayoritas berasal dari daerah Yogyakarta.“Mayoritas berasal dari Yogyakarta. Mereka tinggal di konpleks karyawan. Di sebelah Utara para pejabat tinggi dan di bagian selatan, pejabat rendahan,” kata Suparman kepada Netralnews, Kamis (7/1/21).

“Pabrik ini terus beroperasi hingga peristiwa proklamasi. Pihak Belanda tidak ikhlas wilayah pabrik gula diambil alih pasukan republik, maka sebelum ditinggalkan kemudian dibom oleh mereka. Semua dihancurkan tapi ada yang masih berdiri. Tiga rumah pegawai rendahan dan satu rumah dinas,” imbuhnya.

Proses Pembangunan

Pembangunan PG Jenar memakan waktu dua tahun dan melalui proses tak sederhana. Ada perencanaan lain yang harus dilakukan seperti pemilihan lokasi, pengurusan izin, penyiapan modal, dan pembebasan lahan.

Untuk keperluan hal tersebut, Van Musschenbroek diutus untuk mencari calon lokasi pabrik serta mengurus izin pendirian pabrik kepada Residen Kedu.

Sebidang lahan di dekat Desa Jenar, Distrik Purwodadi kemudian dipilih perusahaan sebagai lokasi pabrik. Pilihan yang tepat karena letaknya dekat dengan akses transportasi berupa jalan raya Yogyakarta-Purworejo dan jalur kereta Yogyakarta-Cilacap.

Di samping itu, lokasi ini dipilih karena  keadaan tanahnya yang subur, iklimnya yang sesuai dan sumber airnya yang melimpah.

Berselang sembilan tahun kemudian, tepatnya pada 28 Februari 1917, N.V. Suikeronderneming Poerworedjo memberi kontrak kepada biro kontraktor dari Yogyakarta, Technish Bureau E. Rombouts untuk membangun pabrik yang "mampu menggiling sebanyak 40.000-48.000 pikul per hari dan harus dapat ditingkatkan seiring dengan perluasan area lahan".

Persiapan pun dilakukan dari mulai merancang konstruksi gedung pabrik hingga merencanakan mesin apa yang akan dipakai.

Setelah berbagai perencanaan dibuat, maka kontraktor memesan mesin-mesin yang dibutuhkan di Belanda.

Selain lokomotif lori dan mesin putaran, semua mesin dan material logam untuk PG Jenar dibuat oleh pabrikan Belanda.

Sekitar bulan Juni-Juli tahun 1918, pesanan komponen dan material telah tiba di Jawa tepat pada waktunya dan sesuai jadwal.

Dari pelabuhan, mesin-mesin tersebut kemudian diangkut ke lokasi pabrik menggunakan kereta Staatspoorwagen.

Bagian pabrik yang terlebih dahulu dibangun adalah gudang dan bengkel.

Hampir seluruh material dan mesin pabrik didatangkan dari luar negeri dan diangkut dari pelabuhan menggunakan kereta sehingga dibuatkan juga jalur kereta yang menghubungkan pabrik dengan jalur kereta Yogyakarta-Cilacap.

Jalur kereta tersebut juga akan menjadi sarana pendistrisbusian gula pabrik.

Material yang tidak didatangkan dari luar negeri hanyalah batu-bata yang dibuat di lokasi pembangunan dan material pasir yang ditambang dari Sungai Bogowonto.

Untuk tenaga kuli, Van der Linden menyebutkan bahwa penduduk sekitar tidak mau menjadi tenaga kerja pembangunan pabrik, sehingga sebagian besar tenaga kerja diambil dari tempat lain.

Hal ini sejalan dengan memori Suparman yang menyatakan bahwa tenaga kerja banyak berasal dari Yogyakarta.

Penyebab Kebangkrutan

Dalam kajian Lengkong disebutkan bahwa daya tahan PG Jenar ternyata tak begitu lama. Menjelang tahun 1930 terjadi guncangan krisis ekonomi global.

Padahal, saat itu PG Jenar sedang berada di masa puncaknya, tiba-tiba terjadi sebuah guncangan hebat yang menjadikan semua PG di Jawa nasibnya berada di ujung tanduk.

Asal guncangan itu bukan dari Jawa, melainkan dari ribuan kilometer jauhnya dari PG Jenar, tepatnya di Gedung Bursa Wallstreet New York, Oktober 1929, Bursa Saham Wallstreet ambruk.

Arus globalisasi yang sudah terasa pada waktu itu menjadikan krisis ini menjalar ke penjuru dunia. Sejalan dengan krisis itu, permintaan gula pun anjlog, padahal produksi gula dari Jawa bisa dikatakan lebih dari cukup.

Kenyataan pahit ini memaksa ditandatanganinya perjanjian Charbourne tahun 1931, dimana Jawa harus menurunkan produksi gulanya yang berujung dengan banyaknya pabrik gula yang ditutup atau dilikudiasi.

Salah satu pabrik gula yang tutup adalah PG Jenar. Berakhir sudahlah episode PG Jenar yang menghembuskan asap terakhirnya pada tahun 1933.

Setelah ditutup, bangunan-bangunan bekas PG Jenar diratakan. Lahan pabrik dan rumah dinas kemudian dibeli oleh seorang Belanda bernama Johannes Cornelis Suzenaar.

Separo lahan PG dijual lagi kepada Van Mook untuk lahan peternakan.

Terkubur dan terlupakan

Kini, bangunan-bangunan megah PG Jenar tinggal puing, pondasi, dan hanya tersisa beberapa saja yang berupa bangunan utuh.

Banyak lahan telah berubah menjadi area sawah dan ditanami padi oleh warga setempat.

Sulit bagi siapapun bisa membayangkan bahwa di lokasi bekas PG Jenar pernah ada bangunan dengan mesin-mesin modern penggiling lengkap dengan menara cerobong  asapnya.

Selain itu, banyak warga sekitar tak tahu menahu tentang sejarah PG Jenar. Besar kemungkinan, hal ini terjadi karena PG Jenar sebanrnya tak memberikan andil besar bagi peningkatan kesejahteraan warga Purworejo. Akibatnya, terlupakan.

Kesipulan tersebut bukan mengada-ada mengingat di sekitar PG Jenar bisa dikatakan tidak meninggalkan pembangunan signifikan yang bisa dimanfaatkan warga hingga kini.

Padahal, PG Jenar dipastikan pernah menghasilkan keuntungan yang melimpah ruah, namun hanya segelintir orang yang menikmati keuntungan tadi.

PG Jenar tak memberi dampak positif untuk masyarakat sekitar pabrik yang hanya menjadi penonton atau paling banter menjadi petani tebu atau kuli pabrik.

Sejalan dengan catatan Lengkong, PG Jenar juga tidak memberi banyak sumbangan konkrit untuk masyarakat sekitar. Satu-satunya sumbangan konkrit yang mungkin masih ada ialah sebuah jembatan kecil di Desa Pulutan, Ngombol.

Pada salah satu sisi jembatan, terdapat prasasti berbahasa Belanda yang berbunyi “K.W. POELOETAN UITGEVORD DOOR DE SUIKERONDERNEMING POERWOREDJO 1925“.

Jika diartikan jembatan tersebut didirikan oleh perusahaan perkebunan gula Purworejo pada tahun 1925.

 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto