Netral English Netral Mandarin
19:04wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Pigai Sudah Kerja Keras, Berhak Minta Jatah Jadi Menteri, Tak Disangka Netizen Malah Bilang Begini

Selasa, 12-Oktober-2021 07:24

Natalius Pigai
Foto : Oposisi Cerdas
Natalius Pigai
5

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Klaim Natalius Pigai bahwa dirinya sudah bekerja keras dan berhak mendapat jatah sebagai menteri Presiden Joko Widodo malah ditanggapi dengan berbagai kecaman di media sosial.

Eko Kuntadhi juga ikut mencuit nyinyir dan ditanggapi banyak netizen.

“Sampai mengeras begitu...,” kata Eko Kuntadhi, Senin malam 11 Oktober 2021.

Adapun sejumlah netizen mencuit begini:

@putucangkiriku: “Nanti tak bantu telpon bpk presiden agar kiranya beliau bersedia & sudi mengangkat anda jadi mentri tumbuh2an..atau mentri sayur2an..”

@WarosyImam: "Suwara dia hanya satu sama dengan suara tukang bakso dan gak ada bedanya. Beda halnya kalau dia punya jama'ah yang loyal dan bisa digerakkan dengan satu komando.:

@Cwen555: “Kalo hak untuk meminta mah gpp, tapi Presiden ga pny kewajiban utk ngabulin permintaan Pigai kalo ga sesuai dgn keinginan.”

Untuk diketahui, Aktivis asal Papua, Natalius Pigai mengaku dirinya berhak meminta jabatan menteri kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hal tersebut diungkapkan mantan Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dalam tayangan video YouTube pada di kanal Akbar Faizal Uncensored, dikutip Sabtu 6 Februari 2021.

Seperti diketahui Natalius Pigai merupakan salah satu sosok yang rajin mengkritisi kebijakan pemerintah dalam berbagai aspek.

Terkait hal itu, Akbar Faizal menanyakan alasan Pigai bersikap demikian kepada pemerintah serta kemungkinan terkait isu Pigai batal ditawari posisi menteri.

"Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa penyikapanmu hari ini karena kau sakit hati," ujar Faizal.

"Sakit hati karena apa?" respons Pigai.

"Tidak jadi menteri, tidak jadi apa yang kau inginkan. Apa tanggapanmu?" tanya Faizal.

Pigai mengaku dirinya merasa punya hak menuntut ditawari jabatan menteri oleh Jokowi setelah pemilihan presiden 2014 dan 2019.

"Saya kalau 2014 sampai 2019 saya punya hak menuntut Jokowi kasih menteri," ungkapnya.

Ia beralasan dukungannya terhadap Jokowi memberi kontribusi kemenangan yang besar pada pilpres.

Selain itu, Pigai mengungkit dirinya pernah dihubungi sejumlah tokoh dalam koalisi partai pengusung Jokowi.

"Saya memberi kontribusi kemenangan. Besar, lebih dari 5 persen," klaimnya.

"Saya bilang tadi itu. Hasto Kristianto telepon saya, Ibu Mega tahu, Suryo Paloh, Viktor Laiskodat, Pak Jokowi," lanjutnya.

"'Kan saya tidak perlu jelasin apa yang saya lakukan," tambah Pigai.

Diketahui Pigai juga dikenal masyarakat Papua sebagai pejuang HAM.

Ia menuturkan kontribusinya terhadap kemenangan Jokowi terlihat paling besar dari pengaruhnya kepada masyarakat Papua.

"Kampung saya itu satu kabupaten. Di dunia ini tidak ada satu kabupaten 0 untuk Pak Prabowo, 100 persen untuk Pak Jokowi," kata Pigai.

"Itu tempat kelahiran saya, Kabupaten Dogiyai. Saya punya saudari perempuan Yuliana Pigai (pengurus) Pasar Mama-mama Papua, pendirinya mama saya," tuturnya.

"Yuliana Pigai itu adalah Ketua Pasar Mama-mama yang Jokowi kasih tumpeng di Monas. Yang dikasih tumpeng itu saya punya darah," tambah dia.

Berdasarkan hal itu, Pigai merasa dirinya berhak menuntut jabatan dari Jokowi.

"Jadi kalau saya jelaskan, panjang. Saya punya hak menuntut karena saya sudah bekerja keras 2014 sampai 2019," tegasnya.

Walaupun begitu, pada pilpres selanjutnya Pigai beralih mendukung Prabowo.

Ia beralasan banyak aktivis HAM lainnya yang juga menunjukkan dukungan terhadap Prabowo.

Menurut Pigai, dalam periode pemerintahan Jokowi banyak janji tentang penyelesaian isu HAM yang tidak pernah terwujud.

"Kalau 2019-2021, saya pendukung Prabowo," tandasnya seperti dilansir Pikiran Rakyat.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto