Netral English Netral Mandarin
17:56wib
Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumatera Selatan membuka posko pengaduan bagi masyarakat yang merasa pernah menjadi korban dugaan penipuan oleh anak bungsu Akidi Tio, Heriyanty. Pesawat Kepresidenan ganti warna cat dari biru langit menjadi merah putih. Pergantiam cat itu menuai pro kontra.
Plesiran di Era Kolonial dari Batavia hingga Pelosok Garut

Minggu, 13-Juni-2021 15:50

Suasana di depan Hotel des Indes 1910
Foto : Tropenmuseum
Suasana di depan Hotel des Indes 1910
16

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Untuk memperkuat cengkeraman kekuasaan di Nusantara dan membangun hegemoni di Eropa, pemerintah kolonial Hindia-Belanda pernah melakukan serangkaian upaya mendatangkan orang-orang Eropa melalui program tourism atau pariwisata. Brosur dan iklan pun gencar disebarkan.

Upaya itu semakin kentara ketika pada 1910, Gubernur Jenderal  AWF Idenburg  mendirikan lembaga khusus yang menangani pariwisata yang bernama Vereeniging voor Toeristenverker (VTV). VTV berwenang sebagai lembaga resmi yang mengatur arus lalu lintas dan kegiatan kepariwisataan, layaknya seperti biro perjalanan.

VTV mencetak beragam bahan informasi mengenai objek wisata di Jawa, Lombok, Bali, mulai dari brosur hingga buku penuntun wisata (guide book) dengan berbahasa Inggris dan Belanda. Pada 1923, lembaga ini menerbitkan semacam artikel bulanan bernama Tourism yang disebar ke seluruh dunia.

Upaya VTV ternyata juga mendapat respon positif di sejumlah basis wisata daerah. Salah satu contohnya adalah di Garut (kini menjadi Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat). Untuk mempromosikan objek wisata di Garut, sebuah kantor informasi wisata Garut menerbitkan Java Tourist Guide.

Yang menarik, informasi dan selebaran tentang wisata di Nusantara selalu diwarnai unsur yang sama dengan model promosi wisata moderen. Di dalamnya selalu ada ilustrasi tentang kereta api, pemandangan gunung yang indah, perempuan yang molek, hotel, foto objek wisata, dan lain-lain.

Unsur keelokan Nusantara sebagai alat promosi yang dipasarkan ke seluruh dunia, sebenarnya sudah digunakan pada masa-masa sebelumnya, terutama melalui media lukisan. Citra pariwisata Indonesia yang eksotis menjadikan lahirnya aliran seni lukis yang dinamakan Mooi Indie, artinya  Hindia-Belanda yang elok.

Peranan Trem di Batavia

Di Batavia, pelancong dapat menyusuri kota dengan menggunakan trem. Trem dioperasikan sejak 10 April 1869 oleh Bataviasche Tramweg Maatschappij (BTM) yang kemudian berganti nama menjadi Nederlands-Indische Tramweg Maatschappij (NITM).

Pada awalnya, trem masih ditarik dengan kuda. Selanjutnya pada 1882, berubah dengan mesin uap. Dan terakhir, diganti lagi dengan tenaga listrik pada 1899.

Dalam buku, “Keadaan Jakarta Tempo Doeloe” (2007), trem kuda digambarkan penulisnya, yaitu Tio Tek Hong, berwujud “kereta panjang di atas rail (rel-Red) yang ditarik tiga sampai empat ekor kuda”. Setiap kali akan berjalan kembali dari pemberhentian di halte, sang kusir akan meniup terompet.

Layanan transportasi tersebut berlangsung sejak pukul lima pagi hingga delapan malam. “Tiap lima menit lewat satu trem,” kenang Tio Tek Hong. Dalam setiap gerbong dapat memuat 40 orang penumpang yang dikenakan biaya sebesar 10 sen.

Trem kuda dimulai dari Kota Intan menuju Harmoni kemudian terpecah menjadi dua jalur yaitu ke arah Tanah Abang dan satunya menuju arah Pasar Baru, Lapangan Banteng, Pasar Senen hingga berakhir di Jatinegara. Panjang trem mencapai sekitar 14 kilometer.

Sementara dalam kenangan Firman Lubis dalam buku “Jakarta 1950-1n” (2008), trem listrik peninggalan Hindia-Belanda masih ada hingga tahun  1959. Firman Lubis termasuk orang yang menyayangkan transportasi pengangkut massal itu harus dihapus.

Ia tidak tahu penyebab trem listrik dihapus oleh pemerintah kota Jakarta. Semua rel dibongkar dan ditimbun aspal. Mungkin penyebabnya karena tidak ada anggaran peremajaan dan perawatan. Padahal, trem adalah angkutan massal anti polusi.

Firman juga mengkaitkan penghapusan trem dengan kemacetan di Jakarta yang sudah mulai muncul sejak tahun 1970. Padahal, apabila teknologi kendaraan massal dipertahankan dan terus dikembangkan, bisa mencegah meledaknya kepemilikan kendaraan pribadi sebagai penyebab utama kemacetan Jakarta.

Peran Kereta Api dan Telegraf bagi Pelancong

Telegraf, pada masa Hindia-Belanda adalah teknologi komunikasi tercepat. Alat tersebut sangat dihandalkan dan menopang dunia pariwisata. Para pelancong dapat memesan kamar hotel dan memesan tiket kereta secara jarak jauh dengan menggunakan telegraf.

Sedangkan untuk berkeliling menuju destinasi wisata di wilayah Jawa, kereta api adalah alat penghubungnya. Pelancong atau turis mancanegara dapat bekeliling Batavia dengan menggunakan trem . Sedangkan menuju daerah lainnya, menggunakan  kereta api.

Menengok peran kereta api bagi dunia pariwisata dapat kita lihat dari catatan sejarah tentang jalur kereta api di Garut. Berkat selebaran Java Tourist Guide, sejumlah pelancong dari mancanegara pernah berdatangan ke Garut untuk menikmati Mooi Garoet yang tak kalah terkenal. Objek wisata di Garut yang menjadi sasaran pelancong adalah Gunung Papandayan dan Danau Bagendit.

Dalam sebuah surat kabar di New Zealand, Nelson Evening Mail, edisi 3 Oktober 1911, terdapat catatan perjalanan seorang pelancong dari New Zealand yang datang ke Garut. Seperti dikutip Naratasgaroet, judul catatan itu adalah “Java and Its People” yang mengisahkan perjalanan pelancong bernama Robert Allan bersama dua rekannya.

Sebelum datang ke Garut, Robert Allan sudah mengirim telegraf untuk memesan hotel di Garut. Namun, kala itu semua kamar hotel disebutkan sudah dipesan oleh para bule yang berdatangan dari Batavia dan Surabaya. Konon, bule-bule dari kedua kota itu sedang mengungsi karena wabah kolera yang melanda Batavia dan wabah pes yang melanda Surabaya.

Walau begitu, Robert Allan bersama dua rekannya tetap melanjutkan plesirannya. Dengan kapal laut mereka tiba di Surabaya, lalu menuju ke Semarang, dan kemudian dilanjutkan lagi ke Garut. Perjalanan semua ditempuh dengan kereta api.

Robert  Allan menyebutkan bahwa dari Maos menuju Garoet, ia naik kereta api “Java Express” sejak pukul 02.00 dan tiba di Tjibatu pada kira-kira pukul 18.00. Kereta api berjalan pelan setiap kali melalui tanjakan dan jalan berkelok di daerah pegunungan Jawa Barat.  

Tiba di Garut, seperti dikabarkan sebelumnya, hotel telah penuh. Ia kemudian mendatangi mandor Hotel Van Horck. Oleh petugas hotel itu, Robert Allan dan rekannya akhirnya mendapat penginapan pengganti yaitu di Losmen Pension. Hanya ada penginapan itu saja yang tersisa. Walau kurang memuaskan, Robert akhirnya tetap bermalam di losmen tersebut.

Hari selanjutnya, Robert menuju objek wisata yang dituju yaitu ke Gunung Papandajan. Ia mengendarai kuda dan sesekali berjalan kaki hingga mendekati puncak gunung yang berada di ketinggian 8.000 kaki. Pendakian berakhir saat tiba di “rotorua”, atau bekas kawah gunung yang khas dengan pemandangan air panas yang mendidih dan bongkahan belerang alami.

Bagi turis mancanegara yang di negerinya tidak memiliki gunung berapi , objek wisata seperti Gunung Papandayan adalah objek wisata bergengsi dan diimpikan untuk menjadi sasaran plesiran. Dan setelah menikmati Gunung Papandayan, Robert juga menyempatkan berwisata ke Danau Bagendit yang tak kalah indahnya.

Kereta Api Bermasalah, Pelancong Dirugikan

Kisah mengenai betapa pentingnya kereta api bagi para pelancong semakin kentara ketika terjadi gangguan kereta api. Jika perjalanan kereta api terganggu, pelancong pasti dirugikan.

Seperti diberitakan dalam Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 11 September 1912, salah satu kejadian yang pernah membuat perjalanan pelancong terganggu menuju Garut adalah kejadian anjloknya kereta api SS ABR 206 WL. 

Peristiwa nahas tersebut terjadi pada 10 September 1912 di Pasirjengkol, Garut, yang tentu berdampak negatif bagi citra pariwisata Hindia Belanda.

Semua kereta api yang melaju di sepanjang jalur Batavia menuju Bandung dan Garut, otomatis juga ikut terganggu. Jadwal kereta berubah. Perubahan jadwal harus segera diberitahukan ke semua setasiun terkait dengan menggunakan telegraf.

Selanjutnya, melalui telegraf, kabar itu juga harus disampaikan kepada semua biro perjalanan pariwisata. Biro layanan pariwisata kemudian akan memberitahukannya kepada setiap pelancong sebagai bentuk pelayanan prima bagi para turis.

Kecelakaan kereta SS ABR 206 WL yang anjlok keluar dari rel, kondisinya cukup parah. Lokomotif terbalik. Dua gerbong barang beserta isinya hancur. Sementara dua gerbong penumpang juga mengalami rusak berat. Namun, tidak disebutkan berapa korban jiwa di balik kecelakaan tersebut.

Untuk memulihkan jalur kereta api, dibutuhkan waktu selama enam hari.  Akibatnya, para pelancong harus mencari alternatif lain jika tetap ingin melanjutkan plesirannya ke daerah yang dituju.

Dalam catatan harian itu, disebutkan bahwa penumpang kereta yang mayoritas adalah turis, akhirnya memilih melanjutkan perjalanan dengan kendaraan menuju Garut. Namun, mereka terlebih dahulu harus berjalan kaki sekitar lima ratus meter menuju kendaraan yang telah disediakan biro perjalanan.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati