Netral English Netral Mandarin
02:21wib
Relawan Sahabat Ganjar kembali melakukan deklarasi mendukung Ganjar Pranowo untuk maju sebagai calon presiden 2024. Penembakan seorang ustad bernama Armand alias Alex di depan rumahnya Jalan Nean Saba, Kelurahan Kunciran, Kecamatan Pinang, Tangerang hingga kini masih menjadi misteri.
Prajurit TNI AU Injak Kepala Warga Papua Tuli, Surya Sahetapy: Tak Bisa Diterima, Pendidikan Militer Darurat

Rabu, 28-Juli-2021 13:30

Surya Sahetapy
Foto : Istimewa
Surya Sahetapy
17

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Surya Sahetapy turut angkat bicara terkait kasus prajurit TNI AU menginjak kepala seorang warga Papua yang diketahui tuli. Sebagai seorang aktivits tuli dan seorang yang tuli, Surya menegaskan tindakan itu tidak bisa diterima. 

Menurutnya tindakan itu mencerminkan pendidikan militer yang sedang darurat yaitu tidak ada materi atau pelajaran atau mata kuliah tentang bagaimana berinteraksi dengan rakyat tuli dan disabilitas. Bagi Surya, pendidikan Bahasa Isyarat dan disabilitas seharusnya dimulai dari pendidikan usia dini.

"Tidak bisa diterima. Menangkapnya tidak manusiawi. Kepala diinjak?. Borgolnya buat apa?," ujar anak dari Penyanyi Dewi Yull dan Aktor Ray Sahetapy ini, dikutip dari unggahan Instagramnya, Rabu (28/7/2021).

Surya meminta siapapun yang memiliki sekolah, universitas dan lembaga pendidikan untuk segera menerima pengajar tuli dan disabilitas. Itu perlu dilakukan demi melahirkan pelayan rakyat seperti tentara, polisi, aparat hukum, perawat dan lain-lain. Harapannya dapat memahami orang yang berbeda seperti disabilitas dan kelompok minoritas. 

Kasus hukum menurutnya harus tetap berjalan, tetapi perlu ada perbaikan kurikulum pendidikan agar menciptakan manusia yang memanusiakan sesamanya. 

"Jadi, kita harus kenalkan anak-anak & adik-adik kita untuk berteman dengan disabilitas supaya mereka semakin peka dan mewujudkan Indonesia ramah disabilitas," kata pria 27 tahun ini.

Lebih lanjut dijelaskan Surya bahwa korban bukanlah bisu melainkan tuli. Alasannya karena korban memiliki cara komunikasi yang berbeda. Jadi yang membuat korban disabilitas bukan karena tidak mendengar, tetapi aparat yang tidak memahaminya. 

Surya meminta masyarakat menghindari menggunakan kata bisa atau mute. Alasannya, bisu atau mute merupakan kata kasar atau offensive (18th-19th century). Ada baiknya menggunakan kata tuli atau HoH. 

"Jika orang tidak memiliki bahasa maka disebut orang “language deprived” atau orang yang deprivasi bahasa (tidak dapat menulis, membaca, berbahasa isyarat serta bentuk komunikasi lainnya)," jelas Surya.

Pernyataan itu disampaikan Surya sambil mengunggah video kasus yang dimaksud. Video diunggah ulang dari sumber Instagram @antallosub. 

"Ada perspektif lain, memang korban Tulinya salah karena melakukan hal yang merugikan. Ingat pendidikan untuk disabilitas masih belum ramah di Indonesia apalagi Indonesia timur," terang pria lulusan perguruan tinggi di New York ini. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Wahyu Praditya P