Netral English Netral Mandarin
13:20wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Profesor Singapura Puji Jokowi Jenius, Rocky Gerung: Kita Sebagai Rakyat Justru Malu

Sabtu, 09-Oktober-2021 13:30

Kolase Rocky Gerung (kiri) dan Presiden Jokowi
Foto : Istimewa
Kolase Rocky Gerung (kiri) dan Presiden Jokowi
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamat politik Rocky Gerung berpendapat, seharusnya rakyat malu jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut sebagai sosok pemimpin yang jenius.

Hal tersebut disampaikan Rocky mengomentari pujian profesor sekaligus peneliti institut di National University of Singapore Kishore Mahbubani bahwa Presiden Jokowi sebagai sosok pemimpin yang jenius dan paling efektif di dunia. 

"Kita sebagai rakyat justrunya malu tuh," kata Rocky dalam video yang diunggah di kanal YouTube-nya, Rocky Gerung Official, Jumat (8/10/2021).

Rocky juga menyindir Kishore Mahbubani dengan menyebutnya sebagai pendengung atau buzzer.

"Jadi ini semacam jualan, semacam advetorial memuji-muji Jokowi," ujarnya.

"Ini kayak buzzer doang nih profesor kan. Buzzer juga ada di luar negeri sebetulnya tuh," ucap Rocky.

Alasan Rocky menyindir demikian karena menurutnya apa yang disampaikan Kishore tentang Jokowi, terlalu berlebihan.

"Kan gak masuk akal kalau tiba-tiba pujian itu berlebih. Kalau pujiannya standar- standar masih masuk akal," imbuhnya.

Menurut Rocky, Kishore harusnya melakukan riset atau penelitian di negara-negara yang dijadikan perbandingan sebelum memberikan pujian ke Jokowi.

"Harusnya dia bikin riset kan si profesor ini. Tapi saya baca dia cuma wawancara doang tuh presiden. Atau bahkan email- emailan, ya pastilah Presiden tunjukkan kejeniusannya," ujar Rocky.

"Kan mestinya sebagai analis dari Singapura ini lakukan research dengan perbandingan apa yang di-research di Australia, apa yang di-research di Amerika," sambungnya.

Pasalnya, lanjut Rocky, pendapat Kishore soal Presiden Jokowi tidak objektif, berbeda dengan para analis dunia. Ia mengklaim seluruh analis dunia menyatakan Presiden Jokowi gagal.

"Seluruh analis dunia, terutama Australia dan Amerika, memperlihatkan bahwa Presiden Jokowi gagal dalam semua hal," ucap dia.

"Jadi tiba-tiba ada seseorang mengatakan oh berhasil dan secara subjektif memberi pujian kepada Presiden Jokowi," jelas Rocky.

Diberitakan sebelumnya, Kishore Mahbubani memuji Presiden Jokowi sebagai sosok pemimpin yang jenius. Ia menyebut Jokowi pemimpin paling efektif di dunia.

Hal tersebut diulas Kishore dalam tulisan berjudul 'The Genius of Jokowi'. Tulisan ini tayang pada 6 Oktober 2021 di Project Syndicate, sebuah media nirlaba yang fokus pada isu-isu internasional.

Menurutnya, Jokowi layak mendapat pengakuan atas keberhasilannya dalam memimpin. Jokowi, tulisnya, membuat model pemerintahan yang bisa dipelajari oleh dunia.

"Pada saat bahkan beberapa negara demokrasi kaya memilih penipu sebagai pemimpin politik mereka, keberhasilan Presiden Indonesia Joko Widodo layak mendapat pengakuan dan penghargaan yang lebih luas. 'Jokowi' memberikan model pemerintahan yang baik yang dapat dipelajari oleh seluruh dunia," ujar Kishore Mahbubani dalam tulisannya, seperti dikutip detikcom.

Presiden Jokowi, katanya, bisa menjembatani kesenjangan politik di Indonesia. Dia membandingkan keberhasilan Jokowi ini dengan Joe Biden dalam Pilpres AS 2020 yang belum bisa mengatasi perpecahan.

"Sebagai permulaan, Jokowi telah menjembatani kesenjangan politik Indonesia. Hampir satu tahun setelah Joe Biden memenangi pemilihan Presiden AS 2020, 78 persen dari Partai Republik masih tidak percaya dia terpilih secara sah. Biden menjabat sebagai senator AS selama 36 tahun, tetapi dia tidak dapat menyembuhkan perpecahan partisan Amerika," tulis Kishore.

"Sebaliknya, capres dan cawapres yang dikalahkan Jokowi dalam pemilihannya kembali 2019--Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno--kini menjabat di kabinetnya (masing-masing sebagai Menteri Pertahanan dan Menteri Pariwisata)," jelasnya.

Selain itu, Kishore juga menyoroti cara Jokowi membalikkan momentum pertumbuhan partai-partai paling 'islamis' di Indonesia, sebagian dengan menjadi inklusif. Dia membandingkannya dengan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, yang memperdalam perpecahan di Brasil.

"Jokowi telah menyatukan kembali negaranya secara politik. Seperti yang dia katakan kepada saya dalam sebuah wawancara baru-baru ini, 'Pilar ketiga ideologi Indonesia, Pancasila, menekankan persatuan dalam keragaman'. Untuk itu, pembangunan koalisinya yang terampil menyebabkan disahkannya omnibus law tahun lalu, yang bertujuan untuk meningkatkan investasi dan menciptakan lapangan kerja baru," ungkapnya.

Kishore Mahbubani menyebut Jokowi telah menetapkan standar baru dalam pemerintahan Indonesia. Hal inilah yang, menurutnya, membuat negara demokrasi lain iri. "Dia telah menetapkan standar pemerintahan baru yang seharusnya membuat iri negara-negara demokrasi besar lainnya," tulis Khisore. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati