Netral English Netral Mandarin
06:31wib
Sebanyak 1.296 sekolah menjadi klaster Covid-19 di saat pembelajaran tatap muka (PTM) diduga akibat penularan. Sejumlah sumber di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membenarkan bahwa Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin sudah ditetapkan sebagai tersangka
Konsultan Demokrat Ngotot Desak Lockdown, Ade: Memang Dungunya Level 7

Jumat, 06-Agustus-2021 06:43

Rachland Nashidik dan Ade Armando
Foto : Kolase Terkini
Rachland Nashidik dan Ade Armando
16

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dosen Universitas Indonesia menyentil keras tokoh Demokrat yang mendesak agar lockdown dilakukan daripada PPKM diperpanjang terus menuerus. 

“Konsultan komunikasi Partai Demokrat memang dungunya level 7. Orang lagi pada minta PPKM dilonggarkan, mereka malah minta Lockdown,” kata Ade Armando melalui akun FB-nya, seperti dinukil NNC, Jumat 6 Agustus 2021.

Sebelumnya, Politikus Demokrat, Rachland Nashidik  menyebut ada logika keliru yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam merespons ramainya desakan untuk memberlakukan karantina wilayah atau lockdown.

Dikatakan Presiden Jokowi, pemerintah enggan menerapkan lockdown karena kebijakan yang ada saat ini saja sudah banyak diprotes rakyat. Padahal kebijakan seperti PPKM masih bersifat semi lockdown.

Namun demikian, pandangan Presiden Joko Widodo tersebut dinilai keliru. Jeritan rakyat kini nyaring karena pemerintah tidak memenuhi kebutuhan makan.

"Menjerit karena lapar, Pak. Disuruh di rumah tapi tak diberi makan," kata politisi Demokrat, Rachland Nashidik dikutip dari akun Twitternya, Jumat (30/7).

Dalam kebijakan karantina wilayah atau lockdown, sudah jelas ada kewajiban pemerintah untuk memberi jaminan kebutuhan dasar rakyat sebagaimana perintah UU 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Hal itu berbeda dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dipilih pemerintah saat ini. Tidak ada jaminan kebutuhan masyarakat dipenuhi negara. Padahal, kebutuhan tersebutlah yang membuat rakyat menjerit.

"Makanya negara kasih makan rakyat dong. Itu syaratnya lockdown," tandas Rachland Nashidik.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli