Netral English Netral Mandarin
03:28wib
LSI Denny JA menilai, PDI Perjuangan berpotensi akan mengalami kekalahan jika mengusung Ketua DPR Puan Maharani sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia menegaskan fasilitas kesehatan di Indonesia bisa tumbang dalam 2-4 minggu jika pengendalian pandemi tidak diperketat.
Racun Sianida di Sate Beracun, Banyak Jenisnya dan Dijual Bebas

Jumat, 07-Mei-2021 03:00

Ilustrasi botol racun.
Foto : freepik.com
Ilustrasi botol racun.
21

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Kasus pembunuhan menggunakan racun Sianida kembali terjadi. Kali ini memakan korban seorang anak dari pengendara ojek online di Bantu, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Racun tersebut dicampurkan ke makanan sate yang sebenarnya bukan ditujukan untuk sang ojek. Setelah diteliti, Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Dinas Kesehatan DIY mengungkap ada kandungan potasium sianida (kalium sianida) dalam paket sate beracun itu. Apa sebetulnya kalium sianida dan seberapa berbahayanya jika tertelan oleh manusia? 

Dilansir dari berbagai sumber, kalium sianida adalah padatan putih berupa butiran atau kristal. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), kalium sianida melepaskan gas hidrogen sianida, zat kimia sangat beracun mengandung zat asfiksia yang dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk menggunakan oksigen. 

Paparan kalium sianida bisa berakibat fatal. Zat ini dapat berdampak sistemik (seluruh tubuh), terutama pada sistem organ yang paling sensitif terhadap kadar oksigen rendah, yakni sistem saraf pusat (otak), sistem kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), dan sistem paru (paru-paru). 

Gas hidrogen sianida yang dilepaskan lleh kalium sianida memiliki bau almond pahit yang khas. Beberapa orang juga menggambarkan baunya seperti bau sepatu apak. Namun, sebagian besar orang tidak mampu mendeteksinya sehingga bau tidak bisa memberikan peringatan yang memadai tentang konsentrasi bahayanya. 

Menurut Healthline, beberapa bentuk sianida yang mematikan selain kalium sianida antara lain natrium sianida, hidrogen sianida, dan sianogen klorida. Bentuk-bentuk ini dapat muncul sebagai padatan, cairan, atau gas. 

Kita kemungkinan besar akan menemukan salah satu bentuk ini ketika terjadi kebakaran bangunan. Kalium sianida masih dapat diperoleh bebas karena digunakan secara komersial untuk fumigasi, pelapisan listrik, dan mengekstraksi emas dan perak dari bijih. 

Sianida sendiri juga dilepaskan dari bahan-bahan alami di beberapa makanan dan tanaman tertentu seperti singkong, kacang lima dan almond. Buah-buahan biji seperti aprikot, apel, dan persik, juga mungkin memiliki sejumlah besar bahan kimia yang dimetabolisme menjadi sianida. 

Namun, bagian yang dapat dimakan dari tanaman-tanaman ini mengandung sianida dalam jumlah yang jauh lebih rendah. Selain itu, sianida juga terkandung dalam asap rokok dan hasil pembakaran bahan sintetis, seperti plastik. 

Gejala keracunan kalium sianida Gejala keracunan sianida mungkin akan muncul dalam beberapa detik setelah paparan. Beberapa kondisi yang mungkin dialami antara lain: Tubuh terasa lemah. Mual. Sakit kepala. Kesulitan bernapas. Kejang. Penurunan kesadaran. Gagal jantung. 

Seberapa parah kondisi juga dipengaruhi pada beberapa hal seperti dosisnya, jenis sianidanya, dan berapa lama korban terpapar. Ada dua cara berbeda bagaimana tubuh kita terpapar sianida, yakni keracunan akut dan kronis. 

Keracunan sianida akut memiliki efek langsung yang seringkali mengancam jiwa. Sementara keracunan sianida kronis diakibatkan oleh paparan dalam jumlah yang lebih kecil dari waktu ke waktu. 

Keracunan sianida akut relatif jarang terjadi, dan sebagian besar kasus berasal dari paparan yang tidak disengaja. Jika memang terjadi, gejalanya dapat muncul tiba-tiba dan parah. Beberapa di antaranya: Kesulitan bernapas. Kejang. Penurunan kesadaran. Gagal jantung. Sedangkan keracunan sianida kronis dapat terjadi jika Anda terpapar 20 hingga 40 bagian per juta (ppm) gas hidrogen sianida dalam jangka waktu yang cukup lama. 

Gejalanya sering kali bertahap dan semakin parah seiring berjalannya waktu. Beberapa gejala di antaranya: Sakit kepala. Rasa ngantuk. Mual. Muntah. Vertigo. Gejala tambahan mungkin termasuk pupil terdilatasi, napas lebih lambat dan pendek, denyut nadi melemah atau lebih cepat, hingga kejang. 

Secara khusus, jika tertelan, sianida dapat menyebabkan gejala seperti: Mual. Muntah. Sakit perut. Iritasi atau korosi pada lapisan esofagus dan lambung. Keracunan sistemik juga bisa terjadi. Dalam beberapa kasus, keracunan sianida dapat menyebabkan kematian. 

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Irawan HP