3
Netral English Netral Mandarin
21:50 wib
Salah satu pendiri Partai Demokrat (PD), Hencky Luntunngan, menyebut KLB dipastikan akan digelar pada Maret ini. Pemerintah memutuskan mencabut aturan mengenai investasi industri minuman keras yang tercantum dalam lampiran Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal.
Refly Harun Bertanya Soal 'Pejabat Bodoh', Rustam Ibrahim Jawab Begini... 

Rabu, 17-Februari-2021 23:38

Rustam Ibrahim, pengamat politik.
Foto : Twitter Rustam Ibrahim
Rustam Ibrahim, pengamat politik.
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pemerhati sosial dan politik Rustam Ibrahim ikut menjawab cuitan Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun yang bertanya apakah ucapan 'pejabat bodoh' masuk dalam kategori kritik, fitnah, hinaan, ujaran kebencian, atau berita bohong (hoaks). 

Menurut Rustam, jika menyebut seorang pejabat bodoh maka harus dijelaskan apa atau dimana letak kebodohan itu. Namun, lanjut Rustam, akan lebih baik mengkritik kebodohan pejabat tersebut tanpa harus menyebutnya bodoh. 

"Kalau anda menyebut seorang pejabat bodoh, anda harus menjelaskan apa atau dimana letak kebodohannya," tulis Rustam di akun Twitternya, Rabu (17/2/2021). 

"Akan lebih baik jika anda mengkritik kebodohannya tanpa menyebut dia bodoh. Tanpa itu kritik anda akan kedengaran seperti kritik orang tidak terpelajar yang sombong atau bohong," jelas Rustam. 

Sebelumnya, Refly Harun di akun Twitternya melempar pertanyaan ke warganet (netizen) apakah kalimatnya masuk dalam kategori kritik, fitnah, hinaan, ujaran kebencian, atau berita bohong (hoaks). 

"Kalau saya bilang pejabat A pintar, padahal bodoh. Ini kategorinya apa: kritik, fitnah, ujaran kebencian, atau berita bohong?" tanya @ReflyHZ, Selasa (16/2/2021). 

Refly Harun pun kembali mengajukan pertanyaan serupa, katanya jika dia menyebut 'pejabat bodoh dan memang bodoh' maka itu masuk dalam kategori kritik, fitnah, hinaan, ujaran kebencian, atau berita bohong. 

"Kalau saya bilang pejabat itu bodoh dan memang bodoh. Apakah ini kategorinya: kritik, fitnah, hinaan, ujaran kebencian, atau berita bohong?," cuit eks Komisaris Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I (Persero) itu.  

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Irawan HP