Netral English Netral Mandarin
23:56wib
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan keputusan pemerintah untuk menggelontorkan dana triliunan rupiah ke perusahaan-perusahaan produsen minyak goreng dinilai sudah sangat tepat. Komisi Pemberantasan Korupsi mengembangkan kasus korupsi proyek infrastruktur di Kabupaten Buru Selatan 2011-2016.
Reuni 212 Artinya Merayakan Hari Ahok Nasional? Anies Justru Jaga Jarak

Jumat, 03-December-2021 07:07

Ilustrasi aksi 212
Foto : Head Topic
Ilustrasi aksi 212
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Banyak netizen justru menilai aksi reuni 212 merupakan perayaan “Hari Ahok Nasional”.  

Seperti diketahui, aksi tersebut mulanya membesar karena terkait dengan kasus pelecehan agama di mana Basuki Tjahja Purnama (Ahok) menjadi tersangka dan dinyatakan bersalah. 

Pernyataan ini bermunculan dari warganet di akun FB Mak Lambe Turah, Jumat 3 Desember 2021. 

Namun di sisi lain, keberadaan Gubernur Anies Baswedan yang absen dari acara Reuni 212 juga dimaknai sejumlah pihak sebagai upaya menjaga jarak.

MLT:  “Hari Ahok Nasional.”

Tini Jayadi: “Yg dibicarain Anies kok pada komennya Ahok ya Mak ...apa maksudnya?”

Wibowo: “Jaga jarak Tapi tetap pada dukung anis pastine 212.”

Fance Bok: “Wuah iy y Mak.. jd dikenang hari AHOK Nasional..”

Yusuf Adi Ryadi: “#national_ahok_day.”

Sebelumnya dilansir Kompas.com, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dipastikan tak menghadiri acara reuni 212 yang dipusatkan di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada Kamis (2/12/2021).

Anies lebih memilih menghadiri acara penandatanganan perjanjian kredit pembiayaan bagi pelaku usaha mikro di Balai Agung Balai Kota DKI Jakarta. Ia terlihat hadir dalam acara yang diinisiasi Permodalan Nasional Madani (PNM) pukul 10.15 WIB, Kamis, saat sebagian massa 212 sudah berkumpul di sekitar Patung Kuda.

Ini adalah kedua kalinya secara berturut-turut Anies tak menghadiri acara yang digelar tiap tanggal 2 Desember itu. Anies juga tak hadir saat reuni 212 digelar secara virtual tahun lalu.

Padahal, pada reuni tahun-tahun sebelumnya, Anies selalu hadir di tengah-tengah kelompok massa yang telah mendukungnya pada Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu.

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai Anies kini mulai menjaga jarak dengan kelompok gerakan 212.

"Anies terlihat mulai menjaga jarak demi kepentingan Pilpres 2024. Jangankan hadir, bahkan tahun ini izin acaranya saja tidak dikasih," kata Ujang seperti dilansir Kompas.com, Kamis (2/12/2021).

Ujang menilai langkah Anies menjaga jarak dari kelompok 212 adalah suatu langkah politik yang wajar. Sebab, kedekatan dengan kelompok 212 yang selama ini kerap diidentikkan dengan kelompok islam garis keras bisa merugikan Anies.

"Kalau Anies masih dekat (dengan 212), dia akan dituduh radikal oleh lawan politiknya," kata Ujang.

Apalagi, jumlah massa pendukung dan simpatisan gerakan 212 juga tidak signifikan untuk kancah politik nasional.

Pada 2016 silam, Anies boleh jadi diuntungkan dengan gerakan kelompok itu yang menuntut gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama dipenjara atas penistaan agama. Namun, Ujang menilai lanskap politik nasional akan sangat berbeda.

Oleh karena itu, Anies terpaksa melupakan kelompok yang sudah berjasa membawanya ke kursi DKI 1.

"Anies kalau hanya didukung 212 itu sesuatu kekurangan. Anies kalau mau capres harus didukung semua kalangan," ucap Ujang.

Analis politik UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno menilai kedekatan Anies dengan kelompok islam tertentu membuat elektabilitas mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu stagnan. "Anies tidak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang kelompok Islam tertentu.

Memang solid pendukungnya, tapi kan tidak bisa melebar ke mana pun, karena kelompok lain agak sulit merapat. Wajah agamanya terlampau dominan," jelas Adi. Oleh karena itu, Adi menilai wajar jika belakangan Anies berupaya memoles dirinya agar terlihat pro keberagaman.

Ini ditunjukkan Anies saat bertemu dengan Ketua Perwakilan Wilayah Nadhlatul Ulama Jawa Timur, Marzuki Mustamar. Adi menilai kunjungan itu merupakan hasil kalkulasi politik yang matang karena selama ini Anies dianggap hanya mewakili basis pemilihnya di Pilkada Jakarta 2017 yang sarat politik identitas.

“Karena basis Nahdliyin (warga NU) yang selama ini memang punya tarikan mazhab yang agak beda dengan basis (pemilih) Anies. Kelompok Nahdliyin kan agak susah menerima Anies karena Anies terlampau dekat dengan kelompok-kelompok yang dianggap tidak plural itu,” ungkap Adi.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati

Berita Terkait

Berita Rekomendasi