3
Netral English Netral Mandarin
00:25 wib
Ketua Majelis Tinggi Partai Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku merasa bersalah karena pernah memercayai dan memberikan jabatan kepada Moeldoko ketika masih menjadi presiden. Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengucapkan terima kasih setelah terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dalam kongres luar biasa (KLB) kubu kontra-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
RG Sebut Pelaku Rasisme pada Papua Adalah Cebong−cebong Spesial

Kamis, 28-January-2021 11:15

Pengamat Politik Rocky Gerung (RG).
Foto : Twitter
Pengamat Politik Rocky Gerung (RG).
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Pengamat Politik Rocky Gerung menjuluki para pelaku rasisme pada Papua adalah cebong−cebong spesial. Pernyataan ini disampaikan Rocky menyusul tindakan rasisme yang dilakukan Ketua Umum Projamin Ambroncius Nababan dan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) Prof Yusuf L Henuk.

Menurut Rocky, Ambroncius dan Prof Yusuf telah melakukan tindakan rasisme pada Mantan Komisioner HAM yang juga Aktivits Kemanusiaan Natalius Pigai. Keduanya melakukan tindakan serupa, yakni menyandingkan Pigai dengan Hewan Gorila dan Monyet.

“Mereka yang menghina adalah cebong−cebong spesial. Cebong ini tidak merujuk pada binatang tapi pada karakter manusia,” tegas Rocky, dikutip dari pernyataan di kanal Youtubenya, Kamis (28/1/2021).

Menurutnya cebong memiliki makna orang yang rendah kemampuan berpikirnya dan tidak bisa beradaptasi dengan lengkap. Hingga akhirnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan penghentian atas fenomena cebong dan kadrun, tapi disayangkan Rocky, fasilitas untuk menghasilkan kedunguan justru masih ada di “kolam−kolam” Istana.

“Jelas si Profesor mengaku pendukung Jokowi dan akhirnya kita temui sendiri definisinya bahwa IQ dia 200 tapi dikumpulin sekolam,” tegas Rocky menyindir.

Di sisi lain Rocky melihat, Papua sedang menjadi pusat perhatian internasional hingga akan berdiplomasi.  ementara di dalam negeri, kedunguan dari para pendukung Jokowi seolah dipamerkan.

“Karena kita sudah tahu cebong itu memang dungu, tapi ternyata yang lebih dungu dari cebong adalah cebong−cebong spesial,” tegas dia.

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani