Netral English Netral Mandarin
06:58wib
Menkes Singapura meminta pasien Covid-19 yang masih muda dan telah mendapatkan vaksin penuh untuk dirawat di rumah mengingat kapasitas unit gawat darurat hampir penuh. KPK menjadwalkan pemanggilan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai saksi dugaan korupsi pengadaan lahan di Munjul, Cipayung, Jakarta Timur, hari ini.
Rizal Ramli: Tumben Buya Syafii Bijaksana Lagi, Sekian Lama Tutup Mata terhadap Ketidakbenaran

Selasa, 03-Agustus-2021 14:10

Rizal Ramli dan Buya Syafii
Foto : Kolase Netralnews
Rizal Ramli dan Buya Syafii
16

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ekonom Rizal Ramli menanggapi pernyataan Syafii Maarif yang mengritik keberadaan buzzer. 

“Tumben Buya Syafii Maarif sudah bijaksana lagi setelah sekian lama tutup mata terhadap ketidak-benaran,” kata Rizal Ramli, dinukil NNC melalui akun Twitternya, Selasa 3 Agustus 2021.  

“Syafii Maarif mengingatkan Pemerintah Jokowi agar tidak menggunakan buzzer untuk menyikapi lawan politiknya,” imbuhnya.

Sementara sebelumnya dinukil Fajar.co, Akademisi Rocky Gerung blak-blakan menilai keberadaan buzzer pendukung Pemerintah Joko Widodo (Jokowi) saat ini sangat bertentangan dengan Pancasila karena hanya membuat gaduh.

Hal tersebut diungkapkan pengamat politik ini dalam video yang tayang di kanal YouTube Rocky Gerung Official, Kamis (29/7).

Pernyataan Rocky Gerung itu menyindir Ketua Umum PP Muhammadiyah 1998-2005 Ahmad Syafii Maarif yang kini menjabat Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

“Seharusnya Buya Syafii Maarif undang para buzzer dan jelaskan bahwa buzzer itu bertentangan dengan Pancasila,” jelas Rocky Gerung.

Menurut mantan dosen Ilmu Filsafat Universitas Indonesia itu, masukan Buya Syafii Maarif yang meminta pemerintah untuk tidak menggunakan buzzer itu sangat realistis karena bertolak belakang dengan tugas anggota BPIP.

“(Buzzer bertentangan dengan Pancasila), karena tidak mengasilkan persatuan Indonesia, tidak mengandung keadilan sosial, tidak berkemanusiaan yang adil dan beradab, saya kira itu, Buya Syafii,” tegas Rocky Gerung.

Menurut Rocky Gerung, jika para buzzer pemerintah yang saat ini bikin gaduh khawatir tidak dipakai lagi, bisa ditempatkan sebagai komisaris di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada di pelosok Indonesia.

“Masih ada kebutuhan (pemerintah kepada buzzer), mungkin semacam konsorsium BUMN gorong-gorong, semuanya (buzzer) dimasukin ke situ karena sesuai dengan habitatnya,” ungkap Rocky Gerung.

Sebelumnya, Syafii Maarif mengingatkan Pemerintah Jokowi agar tidak menggunakan buzzer untuk menyikapi lawan politiknya.

Syafii Maarif menyarankan pemerintah dan oposisi sebaiknya membangun budaya politik yang lebih arif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Dalam situasi yang sangat berat ini antara pemerintah dan pihak sebelah semestinya mampu membangun budaya politik yang lebih arif, saling berbagi, sekalipun sikap kritikal tetap dipelihara,” jelas Syafii Maarif.

“Tidak perlu main “Buzzer-buzzeran” yang bisa menambah panasnya situasi,” ujar Syafii Maarif kepada wartawan beberapa waktu lalu seperti dinukil Fajar.co.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli