Netral English Netral Mandarin
13:58wib
Publik dihebohkan dengan ucapan selamat hari raya dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas kepada umat Baha'i. Video itu jadi sorotan karena Baha'i bukan salah satu dari enam agama yang diakui negara. Menaker Ida Fauziyah menyatakan karyawan dengan gaji di atas Rp 3,5 juta tetap bisa mendapatkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) sebesar Rp 1 juta.
Rizieq Khawatir Jutaan Pecintanya Kepung PN Jaktim, Guntur: Provokasi dan Intimidasi

Jumat, 18-Juni-2021 16:30

Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Mohamad Guntur Romli 
Foto : Istimewa
Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Mohamad Guntur Romli 
5

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Mohamad Guntur Romli mengomentari pernyataan Habib Rizieq Shihab (HRS) yang mengaku khawatir kalau jutaan pendukungnya bakal mengepung pengadilan saat sidang vonis nanti karena tidak terima dengan ucapan jaksa soal 'imam besar hanya isapan jempol'.

Guntur Romli menilai kalau pernyataan Rizieq itu bentuk provokasi dan intimidasi terhadap pengadilan, khususnya hakim dan jaksa. Ia berpendapat Rizieq melontarkan hal tersebut karena ingin divonis ringan dalam kasus swab test RS Ummi Bogor yang menjeratnya.

"Rizieq menyinggung-nyinggung soal jutaan orang bisa ke Pengadilan, itu provokasi, juga intimidasi terhadap Pengadilan, khususnya Majelis Hakim & Jaksa. Rizieq pengen divonis rendah," tulis Guntur di akun Twitternya, Jumat (18/6/2021).

Sebelumnya, Habib Rizieq mengaku khawatir kalau pernyataan jaksa soal 'imam besar hanya isapan jempol' dianggap para pecintanya sebagai sebuah tantangan sehingga bisa mendorong jutaan pendukungnya untuk mengepung Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) saat sidang vonis nanti.

Hal tersebut disampaikan Habib Rizieq saat membacakan duplik atas replik jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang lanjutan kasus swab test RS Ummi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (17/6/2021).

Awalnya, Rizieq mengatakan bahwa sebutan imam besar dari umat Islam di Indonesia sebagai tanda cinta mereka terhadapnya. Rizieq menyatakan kalau ia tidak pernah mengklaim diri sebagai imam besar.

"Sebutan imam besar untuk saya datang dari umat Islam yang lugu dan polos serta tulus di berbagai daerah di Indonesia. Saya pun berpendapat sebutan ini untuk saya agak berlebihan. Namun saya memahami bahwa ini adalah romzul mahabbah, yaitu tanda cinta dari mereka terhadap orang yang mereka cintai," ucap Rizieq.

Eks pentolan Front Pembela Islam itu mengaku tak tersinggung jika jaksa meragukan sebutan imam besar kepadanya, namun dia khawatir para pendukungnya menganggap pernyataan jaksa sebagai hinaan sehingga bisa memicu aksi massa di PN Jaktim pada sidang vonis nanti.

"Dan saya lebih khawatir lagi kalau hinaan JPU tersebut akan ditafsirkan oleh umat Islam Indonesia sebagai tantangan, sehingga akan jadi pendorong semangat mereka untuk datang dan hadir serta mengepung dari segala penjuru Pengadilan Negeri Jakarta Timur ini, untuk menyaksikan langsung sidang terakhir, yaitu sidang putusan pada hari Kamis tanggal 24 Juni 2021 yang akan datang," ujar Rizieq.

Karenanya, Rizieq mengingatkan JPU agar berhati-hati dalam membuat pernyataan yang bisa memicu reaksi dari para pecintanya.

"Nasihat saya kepada JPU agar hati-hati. Jangan menantang para pecinta, karena cinta itu punya kekuatan dahsyat, yang tak kan pernah takut akan tantangan dan ancaman. Saya tidak bisa membayangkan di masa pandemi yang semakin parah ini, bagaimana jika jutaan pecinta yang kemarin menyambut kepulangan saya di bandara terprovokasi oleh tantangan JPU, lalu berbondong-bondong mendatangi pengadilan ini dari segala penjuru," ungkapnya.

Seperti diberitakan, JPU dalam replik atau tanggapan atas pleidoi terdakwa, menyebut bahwa Rizieq kerap melempar tudingan terhadap jaksa dan sejumlah tokoh tanpa dasar yang jelas. Rizieq juga disebut sering mengumpat dengan kata-kata kasar dan tidak etis dalam pledoinya.

Jaksa menilai, tidak sepantasnya Rizieq melontarkan kata-kata tersebut di persidangan, apalagi selama ini Rizieq dianggap sebagai guru, tokoh dan berilmu, bahkan disebut sebagai imam besar.

"Tanpa filter, kalimat-kalimat seperti ini lah dilontarkan terdakwa dan tidak seharusnya diucapkan yang mengaku dirinya ber-akhlakul karimah, tetapi dengan mudahnya terdakwa menggunakan kata-kata kasar sebagaimana di atas," kata jaksa di PN Jaktim, Senin (14/6/2021).

"Padahal status terdakwa sebagai guru, yang dituakan, tokoh, dan berilmu ternyata yang didengung-dengungkan sebagaimana imam besar hanya isapan jempol belaka," jelas jaksa.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati