Netral English Netral Mandarin
01:07 wib
Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno-Hatta akan menerapkan sistem baru agar tak ada lagi surat hasil tes Covid-19 palsu. Dinas Kesehatan DKI Jakarta melaporkan bahwa keterisian tempat tidur Intensive Care Unit (ICU) pasien Covid-19 di 101 rumah sakit rujukan telah mencapai 85 persen.
RK Bicara Soal HRS, Rocky: Lagi-Lagi Menghindar Adalah Keahlian Mahfud

Kamis, 17-December-2020 16:10

Pengamat Politik Rocky Gerung
Foto : Istimewa
Pengamat Politik Rocky Gerung
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamat Politik Rocky Gerung menilai tindakan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil (RK) atau akrab disapa Kang Emil sangat tepat. 

Sebelumnya Kang Emil beropini secara pribadi, bahwa kekisruhan berlarut terkait Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS) dimulai sejak adanya keterangan dari Menkopolhukam Mahfud Md. Kang Emil sebut, penjemputan HRS ini diizinkan oleh Mahfud. 

Menurut Kang Emil, pernyataan itu timbul tafsir dari ribuan orang yang datang ke Bandara bahwa selama tertib dan damai boleh menjemput HRS. Sejak itu terjadilah kerumunan yang dinilai Kang Emil luar biasa. 



Maka dari itu Kang Emil meminta pertanggungjawaban dari Mahfud. Kang Emil meminta tidak tidak hanya para kepala daerah yang dimintai klarifikasi soal kekisruhan HRS.

"Pertanggungjawaban pertama harus diminta pada pejabat yang izinkan kerumunan itu dan memang Pak Mahfud yang mengizinkan kerumunan itu," kata Rocky, dikutip dari pernyataan di kanal Youtubenya, Kamis (17/12/2020).

Menurutnya, Mahfud terbuka untuk "berbalas hukum" bukan malah "berbalas pantun" dengan membalas cuitan-cuitan Kang Emil. "Saya sepakat dengan gubernur saya," sambung Rocky.

Rocky menilai, Mahfud cenderung menghindar. Keadaan ini membuat orang meragukan Mahfud sebagai seorang pejabat yang seharusnya menegakkan disiplin dan hukum. 

"Lagi-lagi menghindar adalah keahlian Mahfud. Kalau pejabat tegakkan disiplin, hukum, orang akan paham Mahfud tanggung jawab," tegas Rocky. 

 

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli