Netral English Netral Mandarin
23:45wib
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 optimistis target capaian program vaksinasi virus corona di Indonesia akan rampung sesuai target awal pemerintah yakni pada Desember 2021. Kasus COVID-19 meningkat drastis selama seminggu terakhir. Rumah sakit hingga Wisma Atlet melaporkan bed occupancy rate yang terus meningkat.
Sate Maut Renggut Nyawa Naba, Korban Salah Bidik dari Sang Perempuan Berjilbab? Netizen: Cara Teroris

Kamis, 29-April-2021 08:10

Ilustrasi paket sate beracun yang merenggut putra driver ojol
Foto : Infomenia.net
Ilustrasi paket sate beracun yang merenggut putra driver ojol
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kasus sate beracun yang telah merenggut putra seorang driver ojol ramai menjadi pergunjingan warganet. Disebut-sebut, sang pemberi sate adalah seorang perempuan muda, berkulit bersih, dan kenakan jilbab. 

Diduga, perempuan itu membidik ke seseorang yang mau dikirim namun karena ditolak dan diberikan ke sang driver ojol, jadilah korban salah alamat alias salah bidik. 

Di akun FB Mak Lambe Turah, sejumlah netizen ikut sampaikan keprihatinananya. Saking sadisnya, ada yang menyebut  seperti “cara teroris”.

MLT: “Duh kasian adeknya itu. Semoga pelakunya segera ketemu.”

Ferry Setiawan: “Kok sadis amat.”

Ciani Kwa: “Beritanya sama kyak tadi..kirain dah ada titik terang.”

Ratna Trikora: “Si teroris menebar teror lewat makanan...hati2 jgn sembarangan menerima pemberian makanan2 untuk berbuka..banyak cara sang teroris menebar kejahatan di jmn susah begini..”

Arien Daw: “Pahit dan panas, mirip yg dirasain mirna ga sih?”

Tini Jayadi: “Ada saja ya dikerjain penjahat, teroris ini.”

Sebelumnya diberitakan, polisi masih melakukan penyelidikan terkait kasus kematian Naba Faiz Prasetya (NFP) (8). Warga Padukuhan Salakan, Kalurahan Bangunharjo, Kapanewon Sewon tersebut meninggal dunia setelah menyantap sate yang dibawa oleh ayahnya, Minggu (25/04/21).  

Kasat Reskrim Polres Bantul, AKP Ngadi mengatakan ada dua saksi tambahan yang sudah diperiksa oleh penyidik. Sehingga total saksi yang sudah diambil keterangannya ada enam. 

Meski tidak menjabarkan secara detail identitas saksi, ia menyebut penerima makanan yang asli juga akan dimintai keterangan.

"Kami sudah berkomunikasi dengan penerima yang asli, nanti teknisnya bagaimana kami komunikasikan lagi. Tentu kami masih mencari saksi-saksi lain, ada kemungkinan jumlah saksi bertambah. Keluarga korban sudah dimintai keterangan, tetapi kalau ada yang perlu dikonfirmasi lagi akan kami panggil lagi,"katanya, Rabu (28/04/2021). 

Saat ini pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan makanan, termasuk sate yang dikonsumsi oleh Naba. Sampel makanan sudah dikirimkan ke Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Yogyakarta sejak Senin (26/04/2021) kemarin. 

Selain memeriksa saksi dan makanan, penyidik juga mengecek sejumlah CCTV. Namun sayangnya tidak ada CCTV di lokasi kejadian. 

"Kami periksa CCTV, tetapi CCTV dilokasi kejadian tidak ditemukan. Kami lihat CCTV yang memang diperlukan, dan nanti bisa menjadi petunjuk,"ujarnya. 

Kronologi Kejadian

Bandiman, driver ojol, kehilangan anak kesayangannya, Naba, gara-gara paket sate bakar beracun. Paket tersebut dikirim perempuan misterius dan dibawa pulang oleh Bandiman.

Warga Kalurahan Bangunharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta kini hanya bisa meratapi nasibnya.

Terungkap sate itu beracun hingga Naba tewas usai mengonsumsinya. Bandiman mengatakan, Naba tak sadarkan diri setelah mengeluh pahit ketika memakan sate tersebut. Istrinya juga muntah-muntah.

"Pas saya makan nggak apa-apa. Ternyata, racunnya ditaruh di bumbu. Anak saya bilang bumbunya pahit. Ia lalu ke dapur dan muntah-muntah. Istri juga muntah-muntah. Anak saya lantas tidak sadarkan diri," jelasnya.

Karena panik, Bandi membawa putranya ke rumah sakit terdekat, tetapi nyawanya sudah tidak tertolong. Terkuak pula bahwa racun di bumbu sate itu begitu kuat.

"Meninggal dunia saat perjalanan ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan di laboratorium, racunnya lebih kuat dibanding pupuk pertanian," beber Bandi seperti dikutip TribunJatim, Rabu (28/4/2021).

Kejadian itu bermula saat Bandiman tengah beristirahat di sekitar Masjid daerah Gayam, Yogyakarta. Tiba-tiba datang seorang perempuan muda yang bermaksud meminta tolong mengantarkan paket takjil.

Dari pengakuannya, perempuan itu berciri-ciri masih muda, berkulit putih, dengan tinggi sekitar 160 cm dan mengenakan hijab dan baju berwarana krem.

"Dia mengatakan bahwa tidak punya aplikasi, dan meminta mengirimkan paket takil ke seseorang bernama Tomi di Villa Bukit Asri, Sembungan, Kasihan, Bantul," ujarnya saat ditemui, Selasa (27/4/2021).

Bandiman pun menyanggupi permintaan tersebut. Perempuan itu pun menanyakan berapa tarif untuk mengantarkan paket berisi sate dan snack tersebut.

"Saya minta Rp25 ribu, lalu saya dikasih Rp30 ribu. Saya juga minta nomor HP orang yang dituju. Dan minta nama si pengirim, dia mengatakan bahwa pengirim atas nama Hamid dari Pakualaman," ujarnya.

Bandiman pun mengantarkan paket tersebut, namun sesampai di alamat yang dituju, rumah orang yang bernama Tomi tersebut terlihat sepi. Bandiman pun berusaha menghubungi Tomi.

"Setelah saya hubungi, benar yang mengangkat bernama Tomi dan alamatnya juga benar. Tapi dia mengatakan bahwa tidak merasa memiliki teman yang bernama Hamid di Pakualaman. Lalu tomi mengatakan bahwa paket tersebut untuk saya saja untuk berbuka puasa," paparnya.

Bandiman pun pulang dengan membawa paket makanan tersebut. Sesampainya di rumah, ia bertemu dengan anaknya, Naba yang baru pulang dari masjid. Naba membawa bungkusan nasi gudeg untuk berbuka puasa.

"Kebetulan anak saya tidak begitu suka gudeg, anak saya memberikan gudeg ke saya itu dan memilih sate yang saya bawa. Tapi saya sempat makan dua tusuk sate, anak saya yang besar juga, tapi tidak merasakan apa-apa." jelasnya.

"Anak saya (naba) kemudian disuapin istri saya, pakai lontong dengan bumbu sate. Tiba-tiba anak saya mengeluh pahit dan panas. Lalu lari ke kulkas untuk minum, tapi sampai dapur dia terjatuh, istri saya mutah-mutah," katanya.

Melihat anaknya tak sadarkan diri, Bandiman pun langsung melarikan anaknya ke RS Wirosaban. Di perjalanan Naba sempat mengeluarkan buih dari mulutnya.

"Ditangani sekitar seperempat jam, mengatakan sudah tidak tertolong lagi. Kalau kata dokter itu positif kena racun, tapi racunnya apa masih menunggu hasil lab," tuturnya.

Istri Bandiman yang bernama Titik Rini (43) juga mengeluhkan hal yang sama, ia sempat memutahkan sate tersebut.

Titik juga sempat mendapat perawatan dokter dan keadaannya berangsur membaik dan diperbolehkan pulang pada Minggu malam. Atas kasus tersebut, Bandiman melapor ke kepolisian.

"Kami berharap kasus ini benar-benar sampai tuntas karena ini sudah merenggut nyawa anak saya. Jangan sampai ini terulang pada driver-driver yang lain," tutupnya.

Ahli forensik UGM, dr Lipur Riyantiningtyas BS SH SpF ikut memberikan tanggapannya.

“NFP kemungkinan besar memang meninggal dunia karena racun,” tegas dr Lipur Riyantiningtyas BS SH SpF, Senin (26/4/2021).

Namun, ia mengaku sulit untuk mengetahui jenis racun apa yang terkandung di sate tersebut jika hanya membaca dari berita.

“Kami harus tahu terlebih dahulu gejalanya. Harus lengkap,” tambahnya.Gejala itu kemudian dihubungkan dengan hasil pemeriksaan di tubuh korban serta hasil uji sampel dari sisa makanan.

Ditanya apakah mungkin racun yang digunakan mirip dengan sianida, Lipur enggan berspekulasi.

Menurutnya, peristiwa nahas yang menimpa NFP menjadi ranah kepolisian sehingga publik diimbau tidak berasumsi.

"Harus menunggu pernyataan resmi dari aparat. Soal kepastian racun yang ada di bumbu sate, sebaiknya tunggu hasil laboratorium,” tandasnya dinukil Grid.id.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Widita Fembrian