Netral English Netral Mandarin
15:01wib
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 optimistis target capaian program vaksinasi virus corona di Indonesia akan rampung sesuai target awal pemerintah yakni pada Desember 2021. Kasus COVID-19 meningkat drastis selama seminggu terakhir. Rumah sakit hingga Wisma Atlet melaporkan bed occupancy rate yang terus meningkat.
Sayang Kali Vila-Vila BUMN di Parapat itu

Rabu, 19-Mei-2021 12:59

Toni P Sianipar
Foto : Dokumen Pribadi
Toni P Sianipar
9

TOBA SAMOSIR, NETRALNEWS.COM - Kota Parapat sudah melewati zaman keemasannya. Tahun 60-80an dulu rasanya Parapat jadi tujuan wajib bagi keluarga, sekolah dan kantor dan instansi untuk berdarma wisata. 

Pembaca tentu ingat suasana Parapat yang dulu begitu meriah di hari Minggu dan liburan.

Speed boat berkeliaran, ski air, sampan dan pantai penuh dengan keluarga dan rombongan yang menggelar tikar, piknik, sementara anak-anak bermain air seharian di danau yang bening berair sejuk. Suasananya sangat ceria. 

Jaman itu bagi pegawai dan karyawan BUMN,  vila dan wisma jadi pilihan untuk menginap. Belasan vila, bungalow atau wisma berdiri mentereng di perbukitan dan pantai Parapat.

Biasanya lokasinya terbaik, halamannya luas, bangunannya unik bergaya kolonial tropis yang dibangun di zaman Belanda. 

Pemilik vila-vila ini sebagian besar adalah milik BUMN Perkebunan (dulu disebut PNP, sekarang PTPN), milik instansi pemerintah seperti PLN, Pertamina, instansi militer (Kodam, TNI-AL dan Polda), dan tentunya milik Pemda Kabupaten Simalungun dan Provinsi Sumut.  

Kini Parapat sunyi, cuma dilewati wisatawan yang ingin cepat-cepat menyeberang ke samosir menaiki ferry modern. 

Dalam sunyi dan kusamnya Parapat, vila, bungalow, pesanggrahan dan wisma itu masih berdiri, kesepian bagai kehilangan aura kegembiraannya. 

Beberapa terlihat masih dipelihara baik, namun lebih banyak yang kondisinya seadanya. Hidup segan, mati pun malas. 

Padahal, kawasan Danau Toba kini sedang menggeliat. Pemerintah pusat habis-habisan menggenjot pembangunan infrastruktur maupun sarana pariwisata. Ferry penyeberangan, lengkap dengan dermaga mentereng sudah bertebaran. 

Parapat sedang menyaksikan pembangunan sarana pantai kelas dunia di depan Hotel Atsari dan di Pantai Bebas, di pinggir jalan provinsi. 

Trotoar sepanjang jalan Parapat hingga ke Tigaraja dibuat berkelas premium. Namun terlihat ada yang timpang. 

Belum ada hotel baru yang akan dibangun di Parapat. Apalagi vila. Demikian juga resto maupun cafe yang standar bagus. Lalu bagaimana kita bisa menyegarkan wajah Parapat?

Di sinilah kita seharusnya melirik keberadaan vila-vila tersebut. Sayang kali kalau vila-vila yang sangat potensial itu dibiarkan begitu saja. Teronggok sepi. 

Dengan sentuhan rancangan arsitektur yang berkelas, vila-vila tersebut bisa di-revival, dihidupkan kembali menjadi penginapan berkelas, stylish, dan bergengsi. 

Dari segi investasi, menghidupkan vila-vila ini rasanya masih terjangkau. Bangunannya sudah ada kan? Tinggal di face-lift.

Trend berwisata dan menginap di vila sebenarnya sudah melanda berbagai destinasi di Indonesia. Bali dan Jogja contohnya. 

Ada keakraban dan suasana guyub yang dirasakan saat bersama teman maupun keluarga beramai-ramai menginap di vila. 

Membayangkan pesta barbeque di vila di malam dingin, rasanya akan menyenangkan sekali. 

Mengalihkan vila-vila ini menjadi cafe dan resto kelas satu juga sangat memungkinkan. Trend cafe dengan setting rumah kini sedang marak di mana-mana.

BUMN dan instansi seharusnya membuka kemungkinan untuk menghidupkan kembali, merevitalisasi vila-vila miliknya. Bila perlu kerjasamakan dengan swasta. 

Contoh sukses kerjasama antara BUMN dan swasta sudah banyak. Salah satunya adalah M Bloc Space di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. 

Belasan bekas perumahan dinas milik PT Peruri di hidupkan kembali menjadi kawasan kuliner dan gaya hidup. Rumah-rumah bergaya tahun 60-an tersebut dipertahankan keaslian eksteriornya. 

Bahkan cat luarnya pun masih asli peninggalan tahun 70-an. Sementara dalamnya disulap jadi cafe, resto, galeri dan co-working space

Tempat yang dikelola dalam bentuk kerjasama bagi hasil antara PT Peruri dengan swasta ini sekarang menjadi spot favorit kaum milenial Jakarta.

Vila-vila yang direvitalisasi dalam sekejap bisa merubah wajah Parapat yang sekarang kusam itu. Akan lahir spot-spot instagrammable yang tidak terkesan murahan. 

Spot yang keren secara arsitektur maupun art-work. Tambahkan back-ground danau biru dan perbukitannya. Bayangkan ribuan foto akan membanjiri instagram dari spot-spot unik dan keren tersebut. 

Keluarga dan kaum muda yang ingin berlibur dari Medan bahkan Jakarta akan memasukkan vila di Parapat dalam list wajib mereka. Tempat nongkrong berkelas pun muncul dari vila-vila yang selama ini ngga jelas manfaatnya. 

Parapat bakalan langsung “bangkit dari tidurnya”. Free ride advertising buat Parapat dan Danau Toba secara umum.

Tol yang menghubungkan Medan-Parapat segera jadi. Dari Medan (dan Kualanamo) ke Parapat bakalan ditempuh cuma dalam dua jam kurang. 

Parapat harus bersiap diri. Harus. Parapat jangan ketinggalan dan jangan ditinggalkan. 

BUMN dan instansi bisa membantu dengan merelakan assetnya dibangunkan kembali dan dikelola oleh swasta. 

Atau mau dimodali atau dikelola sendiri oleh BUMN juga memungkinkan toh?

BUMN harus mendukung program pemerintah untuk membangun Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba. 

Parapat bisa hidup lagi. Vila-vila yang keren akan membantu mengangkat image Parapat.

Dan jangan salah, daripada cuma ngabisin duit mengurusnya, BUMN juga akan mendapat penghasilan dari vila yang selama ini bagai rumah hantu itu.

Ayo. Siapa yang mau memulai?

#GoodNewsFromToba  #CalderaOfKings #wonderfulindonesia #BPODT

Penulis: Toni P Sianipar

Arsitek, Pegiat/Pemerhati Pariwisata Danau Toba

Reporter :
Editor : Taat Ujianto