3
Netral English Netral Mandarin
07:34 wib
Partai Demokrat memecat sejumlah kader yang dianggap terlibat dan mendukung gerakan pengambilalihan kepemimpinan partai atau kudeta. Pertumbuhan jumlah orang kaya raya atau crazy rich di Indonesia diproyeksi bakal melampaui China seiring dengan proses distribusi vaksin Covid-19 dilakukan.
SBY: Ucapan Pemimpin Harus Benar dan Jujur, Kebohongan Sistematis akan Berakhir Gagal

Rabu, 20-January-2021 12:15

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan bahwa ada pelajaran yang dapat dipetik dari drama politik.
Foto : Twitter
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan bahwa ada pelajaran yang dapat dipetik dari drama politik.
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Demokrasi Amerika Serikat tengah menjadi sorotan dunia menyusul sikap Presiden Donald Trump yang tidak mengakui kekalahannya dari Joe Biden dan menuding Pilpres AS 2020 curang. Bahkan pendukung Trump menyerang Gedung Capitol Hill pada Rabu (6/1/2021) dan terjadi kericuhan.

Terkait hal itu, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan bahwa ada pelajaran yang dapat dipetik dari drama politik yang terjadi di Amerika saat ini, salah satunya yakni pemimpin atau presiden harus berkata jujur di era post-truth politics.

"Di era "post-truth politics", ucapan pemimpin (presiden) harus benar & jujur. Kalau tidak, dampaknya sangat besar," tulis SBY di akun Twitter @SBYudhoyono, Rabu (20/1/2021).

"Post-truth politics' (politik yang tidak berlandaskan pada fakta), termasuk kebohongan yang sistematis & berulang, pada akhirnya akan gagal. Pemimpin akan kehilangan "trust" dari rakyatnya, karena mereka bisa bedakan mana yang benar (faktual) dengan yang bohong (tidak faktual)," jelas Presiden keenam itu.

Berikut ulasan lengkap SBY mengenai pelajaran yang bisa dipetik dari drama politik di Amerika Serikat saat ini, seperti dikutip dari kultwit akun @SBYudhoyono.Bagi para pencinta demokrasi, drama politik di Amerika Serikat saat ini dapat dipetik pelajarannya.

Pertama, demokrasi tidaklah sempurna, terutama implementasinya. Ada wajah baik dan wajah buruk dalam demokrasi. Namun, tidak berarti sistem otoritarian dan oligarki lebih baik.

Kedua, di era "post-truth politics", ucapan pemimpin (presiden) harus benar & jujur. Kalau tidak, dampaknya sangat besar.Ucapan Trump bahwa pilpresnya curang (suaranya dicuri) timbulkan kemarahan besar pendukungnya. Terjadilah serbuan ke Capitol Hill yang coreng nama baik Amerika Serikat.

Ketiga, "post-truth politics" (politik yang tidak berlandaskan pada fakta), termasuk kebohongan yang sistematis & berulang, pada akhirnya akan gagal. Pemimpin akan kehilangan "trust" dari rakyatnya, karena mereka bisa bedakan mana yang benar (faktual) dengan yang bohong (tidak faktual).

Keempat, tiap pemilu ada yang menang, ada yang kalah. Meskipun berat & menyakitkan, siapapun yang kalah wajib terima kekalahan & ucapkan selamat kepada yang menang. Itulah tradisi politik & norma demokrasi yang baik. Sayangnya, sebagai champions of democracy, ini tidak terjadi di AS sekarang.

Kelima, kali ini pergantian kekuasaan yang damai (smooth & peaceful) tak terjadi di AS. Transisi kekuasaan dibarengi luka, kebencian & permusuhan. Ini petaka bagi AS yang politiknya terbelah (deeply divided). Energi Biden bisa habis untuk satukan AS hadapi tantangan ke depan.

Keenam, jelang pelantikan Biden, Washington DC mencekam, banyak barikade & dalam pengamanan ketat 25.000 tentara. Siapa ancamannya ? Kali ini bukan musuh dari luar, seperti biasanya, tapi "teroris domestik". Ini titik gelap dalam sejarah AS. Juga warisan buruk yang ditinggalkan Trump.

Ketujuh, setiap krisis selalu ada pahlawannya. Saya respek kepada Wapres Mike Pence yang tunjukkan karakter kesatrianya dengan menerima hasil Pilpres yang lalu meskipun kalah. Dia tolak “perintah” Trump untuk ubah hasil pemilu karena tak berdasar. Dia hormati konstitusi & demokrasi.

Kedelapan, Pence bukan tipe yang haus kekuasaan. Dia tak memanfaatkan kesempatan untuk ambil alih kepemimpinan meskipun diminta secara resmi oleh DPR AS (sesuai amandemen ke-25 konstitusi AS). Pence menolak, karena bukan itu yang terbaik bagi bangsa AS.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sulha Handayani