Netral English Netral Mandarin
01:45wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Sebanyak 60 Persen Anak Indonesia Menderita Karies Gigi, Ini Penyebabnya Menurut Ikorgi

Rabu, 22-September-2021 12:42

Konferensi pers Kongres Nasional Ikorgi XII dan Temu Ilmiah Nasional Ikorgi (TINI) V di Yogyakarta.
Foto : Istimewa
Konferensi pers Kongres Nasional Ikorgi XII dan Temu Ilmiah Nasional Ikorgi (TINI) V di Yogyakarta.
22

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Karies gigi dan penyakit jaringan pulpa menjadi penyakit gigi dengan prevansi terbesar di Indonesia. Penyakit ini kebanyakan menyerang anak-anak, dengan prevalensi mencapai 60-90 persen. 

Menurut Ketua Pengurus Pusat Ikatan Konservasi Gigi Indonesia (Ikorgi) Wignyo Hadriyanto, sampai saat ini sekitar 60 persen anak di Indonesia menderita karies gigi.

"Karies gigi dan penyakit jaringan pulpa masih menjadi penyakit gigi dengan prevalensi tertinggi di Indonesia. Bahkan sekitar 60 persen lebih kasus karies gigi terjadi pada anak-anak. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian semua pihak," katanya di sela Kongres Nasional Ikorgi XII dan Temu Ilmiah Nasional Ikorgi (TINI) V di Yogyakarta, Senin (20/9/2021).

Menurut dia, tingginya prevalensi karies dan pulpa di Indonesia salah satunya disebabkan hampir 99 persen masyarakat mengonsumsi karbohidrat. Mereka tidak menyadari karbohidrat tersebut menjadi penyebab munculnya karies. 

"Kalau gigi tidak dipertahankan dengan jalan konservasi, tentu karies akan berkembang menjadi pulpa yang terkadang menimbulkan rasa sakit pada gigi," katanya.

Apalagi ketika kondisi pandemi COVID-19 saat ini, kata Wignyo, pasien takut untuk mendatangi dokter gigi. Padahal secara nasional, kasus penyakit pulpa ini merupakan kasus rawat inap terbesar di Indonesia.

"Sampai saat ini belum teratasi, karena biasanya orang datang ke dokter gigi sudah dalam keadaan sakit. Yang tidak sabar memilih cara mencabut gigi. Padahal cara seperti itu bisa menyebabkan masalah dikemudian hari," ujarnya.

Upaya pemerintah, menurut Wignyo, melalui departemen konservasi gigi di perguruan tinggi mendorong supaya dokter gigi berinovasi untuk mengatasi masalah tersebut. Dokter gigi bidang konservasi juga didorong mengikuti Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kedokteran Gigi untuk mengejar ketertinggalan saat ini.

Ia mengatakan penyelenggaraan "event" temu ilmiah ini bertujuan untuk meningkatkan dan menambah wawasan ilmu pengetahuan dan keterampilan bagi semua anggota Ikorgi.

"Kegiatan ini juga sangat bermanfaat dalam ajang publikasi hasil penelitian maupun standar pelayanan kesehatan di bidang konservasi gigi, baik teknologi restorasi maupun endodontik," ujar Wignyo.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia TINI V Hendargo Agung Pribadi menjelaskan kegiatan TINI V sedianya digelar secara "offline" pada Desember 2020 namun dikarenakan pandemi COVID-19 baru dapat digelar pada September 2021.

"Kegiatan ini salah satu 'event' terbesar Ikorgi yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali dengan berbagai rangkaian 'event' seperti seminar, pengabdian masyarakat, 'hands on', kegiatan keterampilan, kongres dan kolegium konservasi gigi," katanya.

Ia mengatakan, pandemi global COVID-19 yang melanda di Indonesia sangat berdampak pada semua bidang, termasuk di dunia Kedokteran Gigi. Berbagai hambatan akibat pandemi global COVID-19 dapat dilihat mulai dari kegiatan pendidikan, penelitian, hingga pelayanan kepada masyarakat.

"Namun pandemi ini tidak menyulutkan semangat kami untuk tetap mengembangkan diri dalam keilmuan konservasi gigi terkini," katanya.

TINI V, lanjut Hendargo, menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negri. Para pembicara merupakan pakar di bidang konservasi gigi, lintas bidang keilmuan, dan klinisi. Terdapat lebih dari 100 narasumber "short lecture" yang akan mempresentasikan tentang keilmuan lainnya.

"Meraka memberikan edukasi kepada lebih dari ratusan masyarakat umum melalui pengabdian masyarakat secara virtual, serta lebih dari 20 kelas kegiatan keterampilan," katanya.

Panitia "event" TINI V Prisca Bernadeti mengatakan TINI V diikuti oleh 1.142 peserta dengan 20 seri webinar. Kegiatan ini juga diisi dengan pameran produk alat kesehatan gigi melalui website ikorgitini.com atau digelar secara virtual.

Panitia memberikan teknologi Analytic Intelligence di mana para "vendor dental supplier" bisa memiliki data pengunjung booth beserta produk-produk "vendor dental supplier" yang diminati oleh peserta.

"Ini pengalaman pertama kami menggelar 'exhibition' secara 'online', biasanya digelar 'offline'. Namun berkat kerja sama semua pihak, pameran ini dapat terlaksana dengan baik," katanya.

Selain Analytic Intelligence, TINI V kali ini juga memberikan sistem Flash Sale untuk membantu meningkatkan penjualan produk-produk kedokteran gigi yang ditawarkan oleh "vendor dental supplier".

"Dengan cara seperti ini para 'vendor dental supplier' mempunyai bank data untuk meningkatkan penjualan mereka secara 'online'," ujar Prisca.

Salah satu event terbesar Ikatan Konservasi Gigi Indonesia atau yang biasa disingkat dengan sebutan IKORGI, yaitu Temu Ilmiah Nasional IKORGI V (TINI V) dilaksanakan setiap 3 tahun sekali. TINI V dilaksanakan dengan berbagai rangkaian event seperti seminar, pengabdian masyarakat, hands on / kegiatan ketrampilan, Kongres IKORGI dan Kolegium Konservasi Gigi, serta pemilihan Ketua Pengurus Pusat IKORGI (PP IKORGI).

Reporter : Widita Fembrian
Editor : Widita Fembrian