Netral English Netral Mandarin
03:38wib
LSI Denny JA menilai, PDI Perjuangan berpotensi akan mengalami kekalahan jika mengusung Ketua DPR Puan Maharani sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia menegaskan fasilitas kesehatan di Indonesia bisa tumbang dalam 2-4 minggu jika pengendalian pandemi tidak diperketat.
Sebut Elektabilitas Ganjar Pranowo Hasil Pencitraan, Pengamat: Peluangnya Jadi Capres Sangat Kecil

Jumat, 14-Mei-2021 22:54

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Foto : Jatengprov.goid
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamat komunikasi politik Jamiluddin Ritonga menilai, Gubernur Jawa Tengah (Jateng) yang juga politisi PDIP Ganjar Pranowo termasuk sosok yang pandai memainkan suatu peristiwa untuk pencitraan dirinya.

Hal tersebut disampaikan Jamiluddin mengomentari pernyataan Ketua DPP PDIP bidang Pemenangan Pemilu, Bambang Wuryanto baru-baru ini yang menilai elektabilitas tinggi yang melekat pada Ganjar hanyalah bagian dari pencitraan di 'udara', dan merupakan hal yang wajar dalam 'perang politik'.

Bambang juga mengatakan tingginya elektabilitas Ganjar itu tidak menjamin untuk mendapatkan rekomendasi dari Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri sebagai capres atau cawapres di Pilpres 2024 mendatang.

"Penilaian Bambang Wuryanto ada benarnya. Sebab, Ganjar termasuk sosok yang pandai memainkan suatu peristiwa untuk pencitraan dirinya," kata Jamiluddin melalui keterangan tertulis, Jumat (15/5/2021).

"Baru-baru ini, Ganjar naik ke truk untuk melihat apakah ada orang yang ikut mudik. Perilaku semacam ini dilakukannya terkesan kalau ada wartawan. Karena itu, perilaku Ganjar sangat kental dengan nuansa pencitraan," ujarnya.

Jamiluddin berpendapat, tingginya elektabilitas Ganjar dalam hasil survei berbagai lembaga terkait Pilpres 2024, merupakan hasil pencitraan dan bukan karena kinerjanya sebagai Gubernur Jateng.

"Elektabilitas Ganjar selama ini memang terkesan hasil pencitraan, bukan karena kinerja. Apalagi, selama ini belum ada informasi terkait kinerja Ganjar yang monumental. Kinerja Ganjar hanya biasa-biasa saja," ungkapnya.

"Jadi wajar kalau banyak pihak yang terheran-heran dengan tingginya elektabilitas Ganjar. Keheranan itu makin menguat manakala ada lembaga survei tertentu yang menempatkan elektabilitasnya tertinggi," jelas Jamiluddin.

Karenanya, Jamiluddin menilai bahwa sangat logis kalau ada petinggi PDIP yang juga mempertanyakan elektabilitas Ganjar.

Keraguan Bambang itu, lanjutnya, sekaligus menjadi indikasi kuat bahwa DPP PDIP belum memplot Ganjar sebagai salah satu calon kandidat capres.

Hal tersebut, tambah Jamiluddin, sekaligus menguatkan dugaan jika PDIP sudah menyiapkan Puan Maharani bersama Prabowo Subianto untuk maju pada pilpres 2024.

"Ini makin menguatkan adanya perjanjian Batutulis 2 antara PDIP dan Gerindra yang akan mengusung Prabowo dan Puan," paparnya.

"Jadi, peluang Ganjar menjadi capres atau cawapres dari PDIP tampaknya kecil sekali," jelas Jamiluddin.

Lebih jauh, Jamiluddin menyebut, jika Ganjar ingin tetap maju di Pilpres 2024, maka harus mencari parpol lain sebagai kendaraan politiknya di Pilpres 2024.

Namun, menurut Jamiluddin, tampaknya sejumlah parpol yang disebut-sebut bakal mengusung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di pilpres mendatang, akan sulit menerima kehadiran Ganjar Pranowo.

"Masalahnya, perahu mana yang mau mengusung Ganjar yang selama ini menjadi kader banteng tulen ? Perahu yang akan mengusung Anies Baswedan tampaknya akan sulit menerima kehadiran Ganjar," ucap dia.

"Memasangkan Anies-Ganjar tampaknya akan sulit diterima partai lain. Sebab, PDIP sendiri meragukan elektabilitas Ganjar, apalagi partai lain," pungkas Jamiluddin.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli