Netral English Netral Mandarin
13:45wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Sebut Pengaburan Sejarah PKI Mulai Terasa, HNW: Waspadai Kemungkinan Bangkitnya Komunisme

Kamis, 07-Oktober-2021 15:45

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW)
Foto : Istimewa
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW)
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan, peran umat Islam membela bangsa dan negara, meninggalkan jejak yang sangat jelas.

Berkenaan dengan Peringatan HUT ke-76 TNI misalnya, HNW menyebut, bangsa Indonesia mencatat dengan tinta emas jasa Bapak Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman yang merupakan seorang santri dan anggota pemuda Muhammadiyah.

Pernyataan itu disampaikan HNW secara daring saat mengisi acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kerja sama MPR dengan Yayasan Ulil Al-Bab Batam. Acara tersebut berlangsung di Aula Pusat Informasi Haji (PIH) Provinsi Kepri, Jl. Engku Putri, Batam, Selasa (5/10/2021).

“Jenderal Soedirman merupakan seorang muslim yang taat. Dia adalah seorang santri, anggota Pemuda Muhammadiyah, dan juga guru di sekolah Muhammadiyah,” kata HNW, seperti dikutip dari laman mpr.go.id, Kamis (7/10/2021).

HNW menceritakan, pada saat para pemimpin Indonesia ditangkap Belanda, Soedirman memimpin perang gerilya untuk melawan klaim sepihak dari penjajah yang menyatakan bahwa mereka sudah menguasai Indonesia, dan Indonesia sudah tidak ada.

Soedirman beserta pasukannya sukses menyulitkan tentara Belanda. Berkali-kali, Soedirman yang kala itu ditandu oleh prajuritnya karena sedang sakit, lolos dari sergapan kolonialis Belanda.

Sampai satu hari, Soeparjo Rustam, salah satu ajudannya, penasaran dan memberanikan diri mengajukan pertanyaan, rahasia dibalik keberhasilan Soedirman meloloskan diri dari sergapan Belanda.

“Pertama, karena tidak pernah batal, dan selalu memiliki wudhu, sehingga selalu terjaga kesuciannya, sementara Allah mencintai hambanya yang bertobat dan selalu mensucikan diri," ujar HNW.

"Kedua adalah salat tepat waktu. Salat tepat waktu adalah amal paling baik, yang disukai Allah. Ketiga ikhlas berjuang tanpa pamrih, padahal pahala ikhlas atau ikhsan, itu langsung dari Allah,” imbuhnya.

Belajar dari sosok Jenderal Soedirman, Anggota Komisi VIII DPR ini ini menyatakan, sepantasnya umat Islam senantiasa turut menjaga dan melestarikan hasil-hasil kesepakatan yang diambil para Bapak Bangsa.

Termasuk kesepakatan tentang Pancasila sebagai dasar dan Ideologi negara, UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Apalagi, tambah HNW, bangsa Indonesia sudah mengalami dua kali pengalaman buruk terkait Partai Komunis Indonesia, yakni peristiwa Madiun pada 18 September 1948 dan pemberontakan G30S PKI tahun 1965.

Kedua pemberontakan itu, ungkapnya, bertujuan mendirikan negara komunis dan menggantikan dasar serta ideologi Pancasila dengan komunisme.

“Pada peristiwa pertama banyak ulama, santri, pesantren dan masjid yang menjadi korban kekejaman PKI. Mereka juga sudah memproklamirkan berdirinya Negara Rapublik Soviet Indonesia," ucap dia.

"Sedangkan pada 1965, PKI melakukan pemberontakan, penculikan serta pembunuhan yang menyebabkan tewasnya tujuh Pahlawan Revolusi,” jelas Wakil Ketua Majelis Syura PKS itu.

Menurut HNW, saat ini pengaburan tentang kekejaman PKI sudah mulai bisa dirasakan. Bahkan, lanjutnya, kerap muncul gerakan-gerakan sebagaimana yang terjadi sebelum pemberontakan PKI pada 1948 dan 1965, seperti kekerasan terhadap ulama yang pelakunya kerap divonis gila.

“Peristiwa terakhir bahkan terjadi di Batam. September lalu, Ustad Abu Syahid Chaniago, yang tengah berceramah di siang hari, tiba-tiba diserang oleh oknum yang mengaku komunis,” paparnya.

Inilah yang kata HNW membuat Sosialisasi Empat Pilar sangat penting, karena masih banyak orang yang mau mengaburkan, merusak dan mengganti Pancasila dengan ideologi yang lain, termasuk komunisme.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli