Netral English Netral Mandarin
banner paskah
05:50wib
Polisi menduga kelompok kriminal bersenjata (KKB) membakar sejumlah fasilitas umum di wilayah Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, lantaran sempat dijadikan sebagai Posko Komando Taktis alias Pos Kotis. Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian permohonan uji materi Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK.
Seharusnya Donald Trump Belajar dari Gus Dur

Kamis, 07-January-2021 16:31

Birgaldo Sinaga menyatakan bahwa Seharusnya Donald Trump Belajar dari Gus Dur
Foto : Istimewa
Birgaldo Sinaga menyatakan bahwa Seharusnya Donald Trump Belajar dari Gus Dur
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - 22 tahun yang lalu, ribuan mahasiswa menduduki Gedung DPR MPR. Mereka memaksa Presiden Soeharto mundur karena pemerintahannya penuh KKN dan otoriter.

Akhirnya, kita merasakan demokrasi. Demokrasi melahirkan banyak pemimpin baru. Semua orang punya kesempatan menjadi pemimpin.

Presiden Jokowi adalah produk dari reformasi pada 1998 itu. Ia menjadi presiden langsung kedua setelah SBY.

Hari ini, Gedung Kongres Amerika Serikat diduduki pendukung Donald Trump.

Massa pro Trump datang untuk memaksa agar Kongres memutuskan Trump menjadi Presiden. Bukan Joe Biden.

Ribuan orang itu datang dengan amarah. Mereka tidak terima proses demokrasi yang memenangkan Joe Biden. Mereka tidak percaya proses pemilihan itu. Mereka yakin Trump yang menang. Kemenangan Trump dirampok. Begitu yakin mereka.

Hari ini, sejarah kelam Amerika dicatat dunia. Amerika bak anak bawang yang baru belajar demokrasi. Belajar menerima kekalahan. Belajar menerima hasil demokrasi.

Sekarang, Amerika terlihat bodoh. Dan semua warisan leluhur mereka sejak Washington, Lincoln hingga Jefferson terinjak-injak oleh bangsa Amerika sendiri.

Saya teringat akan Gus Dur. Saat itu Gus Dur sedang dilengserkan oleh genk sengkuni Amien Rais.

Gus Dur bilang. "Jabatan tertinggi presiden itu apa? 300 ribu pendukung saya siap tumpah darah membela saya".

"Tapi untuk apa jika kita anak bangsa bersimbah darah? Untuk apa mempertahankan jabatan presiden dengan darah?"

"Saya akan membela mati-matian kalo soal prinsip. Saya akan relakan nyawa darah saya kalo soal prinsip. Jika ada yang coba mengganti Pancasila, konstitusi kita, akan saya bela dengan jiwa raga saya".

Gus Dur benar-benar menyanyangi bangsa dan negara ini. Baginya jauh lebih berharga mempertahankan kemanusiaan daripada kekuasaan.Prinsip Gus Dur menjadikan kemanusiaan itu indah.

Saat lengser itu, Gus Dur keluar istana dengan celana pendek. Lalu menyapa orang-orang di luar.

Ia melambaikan tangan pertanda perpisahan. Ia tidak mendorong pengikutnya datang ke Jakarta. Ia tidak mengompori pengikutnya ngamuk dan marah.

Celana pendek itu menjadi catatan sejarah bangsa ini. Bagi Gus Dur kekuasaan itu biasa-biasa saja. Tapi kemanusiaan dan menjaga negara agar tidak perang saudara, itu tak bisa ditawar-tawar.

Sayang sekali, Donald Trump tdk membaca biografi Guru Bangsa Indonesia Gus Dur.

Penulis: Birgaldo Sinaga

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto