Netral English Netral Mandarin
19:09wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Sekalipun Resikonya Bui, Rachland Demokrat Tak Gentar untuk Terus Kritik Pemerintahan Jokowi

Jumat, 13-Agustus-2021 00:02

Elit Partai Demokrat (PD) Rachland Nashidik.
Foto : Istimewa
Elit Partai Demokrat (PD) Rachland Nashidik.
18

JAKARTA, NETRALNEWS.COM -  Elit Partai Demokrat Rachlad Nashidik memberikan penjelasan melalui kultwit (kuliah twitter/thread) mengenai akun Twitternya yang diretas hingga muncul tuduhan bahwa dirinya menistakan simbol negara.

Rachland mengatakan, akun @rachlannashidik miliknya sudah berhasil diambil kembali setelah sempat diretas dan diambil alih oleh pihak tak dikenal pada 8 Agustus 2021.

"Tanggal 8 Agustus malam diretas dan diambil alih pihak yang belum diketahui  Pagi ini, 11 Agustus, akun Twitter saya berhasil direbut kembali," tulis Rachland di akun Twitternya, @rachlannashidik, Rabu (11/8/2021).

Rachland menyebut, akunya diretas setelah ia mengunggah karikatur Presiden Joko Widodo (Jokowi) karya Yayak Kencrit. Tak hanya akun yang diretas, tapi juga muncul tudingan kalau dirinya menghina lambang negara gara-gara karikatur tersebut.

Diketahui, Rachland Nashidik mengunggah karikatur Presiden Jokowi, Bendera Merah Putih, Lambang Negara Garuda Pancasila dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya di akun Twitternya baru-baru ini.

Banyak netizen menuding karikatur yang diunggah Rachland pada Sabtu (7/8/2021) itu merupakan bentuk pelecehan atau penistaan terhadap simbol-simbol negara serta menghina Presiden Jokowi.

Karenanya, netizen mendesak aparat kepolisian untuk menangkap Rachland. Bahkan, mereka menggaungkan tagar #TangkapRachlandNashidik hingga menjadi trending topic di Twitter pada Senin (9/8/2021).

"Saya sempat menjadi sasaran kampanye tuduhan menista "lambang negara" karena mengunggah gambar Jokowi karya Yayak Kencrit, yang sudah beredar di jagat medsos sejak tahun lalu. Usai mengunggah gambar inilah akun Twitter saya diretas dan diambil alih," ujar Rachland.

Menurut Rachland, pihak-pihak yang mendesak polisi untuk menangkap dirinya merupakan fanatikus Presiden Jokowi dan pendengung bayaran (buzzeRp).

"Fanatikus Jokowi dan pasukan BuzzeRp kompak mendesak polisi agar saya diciduk dan dipidana. Mereka bahkan menuding peretasan cuma akal-akalan saya saja untuk menghilangkan bukti bahwa saya pernah mengunggah gambar yang keren dan ekspresif itu," bebernya.

Namun demikian, Rachland tak gentar dengan seruan penangkapan dirinya. Ia bahkan mengunggah ulang karikatur karya Yayak yang dipersoalkan pendukung Jokowi.

Bagi Rachland, karikatur tersebut merupakan kritik visual yang tajam, dan tak bisa ditafsirkan sebagai pelecehan atau penghinaan simbol negara.

"Hari ini, pagi tadi, saya sudah kembali mencuit menggunakan akun yang kemarin diretas ini. Saya unggah lagi gambar karya Yayak di atas, yang dalam pendapat saya, adalah kritik visual yang tajam, samasekali tak bisa ditafsirkan sebagai 'pelecehan simbol negara' atau penghinaan," katanya.

Dalam kultwit itu, Rachland juga melontarkan kritik terhadap pemerintahan Jokowi terkait penanganan pandemi Covid-19. Salah satu kebijakan pemerintah yang dikritik Rachland yakni soal dikeluarkannya angka kasus kematian dari indikator penanganan Covid-19 dengan alasan ditemukan masalah dalam input data akumulasi dari kasus kematian.

Rachland menentang kebijakan itu. Ia berpendapat, dikeluarkannya angka kematian dari indikator penanganan Covid-19 menjadi bukti kegagalan pemerintah.

"Pada 10 Agustus, warga negara Indonesia yang dilapirkan mati karena Covid naik menjadi 2.048 jiwa. Pada hari yang sama, diberitakan Pemerintah memutuskan akan menghapus angka kematian dari indikator penanganan pandemi. Bagi saya, ini samasekali tak bisa diterima," ungkapnya.

"Sebuah pemerintahan yang menutupi angka kematian, niscaya tak menghargai kehidupan. Ini adalah bukti paling keras dan kasar bahwa Pemerintahan ini sudah gagal!" tegas @rachlannashidik.

Rachland lantas mengaitkan dikeluarkannya angka kematian kasus Covid-19 yang dianggapnya bukti kegagalan pemerintah itu dengan karikatur Jokowi yang diunggah di akun Twitternya.

"Bukan gambar Yayak melecehkan simbol atau lambang negara, tapi pemerintah Jokowi melecehkan hak-hak warga negara atas kesehatan. Kebijakan pemerintah yang harus disorot, dikritik dan diperbaiki, bukan menciduk dan mengirim pengeritik ke balik bui," imbuhnya.

Di akhir kultwit-nya, Rachland menegaskan bahwa ia akan terus mengkritik pemerintahan Jokowi soal penanganan pandemi. Rachland juga menyatakan siap menghadapi segala resiko yang mungkin terjadi karena sikap kritisnya itu.

"Kekacauan penanganan pandemi harus terus disoroti. Saya akan terus melakukannya, meski akun medsos saya kembali diretas, atau bahkan apabila resikonya bui," pungkas @rachlannashidik.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati