Netral English Netral Mandarin
00:25 wib
Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno-Hatta akan menerapkan sistem baru agar tak ada lagi surat hasil tes Covid-19 palsu. Dinas Kesehatan DKI Jakarta melaporkan bahwa keterisian tempat tidur Intensive Care Unit (ICU) pasien Covid-19 di 101 rumah sakit rujukan telah mencapai 85 persen.
Senjata FPI Diusut, DS Ungkit Munarman: Itu Maenan Anak2 yang selalu Dibawa...

Sabtu, 09-January-2021 11:43

Senjata FPI Bakal Diusut, Denny Siregar Ungkit Munarman Sebut Itu Maenan Anak2 yang selalu Dibawa Laskar
Foto : Istimewa
Senjata FPI Bakal Diusut, Denny Siregar Ungkit Munarman Sebut Itu Maenan Anak2 yang selalu Dibawa Laskar
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sebelumnya diberitakan, Front Pembela Islam (FPI) memberikan pernyataan terkait kematian 6 anggota laskar FPI dalam penembakan di Km 50 Tol Jakarta-Cikampek pada Senin, 7 Desember 2020 dini hari lalu.

FPI mengomentari pernyataan Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran yang menyebut bahwa 6 laskar FPI tewas dalam baku tembak.

Sekretaris Umum FPI Munarman menyebut hal itu adalah fitnah besar. Sebab, menurutnya, laskar FPI tidak pernah dibekali senjata api.



"Fitnah besar kalau laskar kita disebut membawa senjata api dan tembak-menembak. Fitnah itu," ujar Sekretaris Umum Front Pembela Islam (Sekum FPI) Munarman dalam konferensi pers, Senin (7/12/2020).

Munarman melanjutkan, FPI tak pernah membekali anggotanya dengan senjata tajam karena mereka terbiasanya menggunakan tangan kosong untuk menyelesaikan masalah yang mengancam keselamatan.

Munarman menyebut keterangan polisi soal adanya senjata yang dikuasai anggota FPI adalah upaya memutarbalikkan fakta.

"Laskar kami tidak pernah dibekali senjata api, kami terbiasa tangan kosong. Kami bukan pengecut. Jadi fitnah, dan ini fitnah luar biasa, memutarbalikkan fakta dengan menyebutkan bahwa laskar yang lebih dahulu menyerang dan melakukan penembakan," ucap Munarman.

Buntut dari pernyataan tersebut, Munarman akhirnya berurusan dengan polisi.

Menanggapi polemik tersebut, pegiat media sosial Denny Siregar, Sabtu (9/1/21) mengatakan: "Kita dengar nanti pembelaan Munarman.."

"Itu bukan senjata beneran ! Itu maenan anak2 yang selalu dibawa laskar, krn para laskar kami punya jiwa kanak2 yg ga pernah selesai, sehingga kadang mereka suka maen tembak2an di taman..," kata Denny menirukan pernyataan Munarman.

Sementara itu dilansir Kompas.com, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ( Komnas HAM) mengeluarkan sejumlah rekomendasi menyusul keluarnya hasil investigasi terkait tewasnya enam anggota laskar Front Pembela Islam ( FPI) di Km 50 Tol Jakarta-Cikampek (Japek), Karawang, Jawa Barat.

Salah satu rekomendasinya yakni pengusutan kepemilikan senjata yang diduga kepunyaan laskar FPI.

"Mengusut lebih lanjut kepemilikan senjata api yang diduga digunakan oleh laskar FPI," ujar Komisioner Komnas HAM dalam konferensi pers, Jumat (8/1/2021).

Pihak kepolisian sebelumnya menyebut bahwa ada senjata rakitan yang diduga digunakan FPI pada saat peristiwa tersebut. Akan tetapi, tudingan itu dibantah FPI.

Menurut pihak FPI, anggotanya tidak dibekali senjata. Sejalan dengan adanya dugaan kepemilikan senjata tersebut, Komnas HAM juga menemukan proyektil peluru yang identik berasal dari senjata rakitan.

Dugaan itu juga diperkuat dengan informasi yang didapatkan Komnas HAM dari data ponsel milik laskar FPI yang diserap melalui cellebrite UFED touch, sebuah alat yang mampu menyedot data dari ponsel milik Polri.

"Oleh karenanya dalam rekomendasi kami soal kepemilikan senjata oleh FPI harus ditindaklanjuti apakah betul dan tidak. Kalau betul ya harus ada tindakan hukum, kalau tidak ya diklarifikasi," kata Anam.

"Makanya ini menjadi salah satu poin rekomendasi di kami," ucap dia.

Dalam temuan investigasinya, Komnas HAM membagi dua konteks peristiwa.

Konteks pertama, dua laskar FPI tewas ketika bersitegang dengan aparat kepolisian dari Jalan Internasional Karawang Barat sampai Km 49 Tol Japek.

Sementara itu, kontek kedua adalah tewasnya empat laskar FPI. Komnas HAM menyebut keempatnya tewas ketika sudah dalam penguasaan aparat. Oleh karena itu, dalam konteks ini, aparat kepolisian dianggap telah melakukan pelanggaran HAM.

 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto