Netral English Netral Mandarin
10:40wib
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mengaku siap maju menjadi calon presiden (capres) di Pilpres 2024. Presiden Joko Widodo ingin agar pelaksanaan penyuntikan booster vaksin Covid-19 dilakukan mulai awal 2022.
Seorang Ekstremis Dibunuh Polisi di Selandia Baru, Terinspirasi ISIS

Jumat, 03-September-2021 20:00

Ekstrimis Dibunuh Polisi di Selandia Baru
Foto : Antara
Ekstrimis Dibunuh Polisi di Selandia Baru
24

WELLINGTON, NETRALNEWS.COM - Polisi Selandia Baru pada Jumat menembak hingga mati seorang "ekstremis yang kejam", kata Perdana Menteri Jacinda Ardern.

Pelaku sebelumnya menikam dan melukai sedikitnya enam orang di sebuah pasar swalayan. "Seorang ekstremis kejam melakukan serangan teroris pada warga Selandia Baru yang tidak bersalah," kata Ardern dalam sebuah pengarahan.

Dia mengatakan penyerang adalah seorang pria berkebangsaan Sri Lanka yang telah tinggal di Selandia Baru selama 10 tahun.

Pelaku terinspirasi oleh kelompok militan ISIS dan tengah "dipantau secara terus menerus", kata Ardern.

"Dia jelas merupakan pendukung ideologi ISIS," kata perdana menteri.

Penyerang yang tidak diungkapkan identitasnya telah menjadi "orang yang diawasi" selama lima tahun, kata Ardern.

Dia menambahkan pelaku telah dibunuh dalam waktu 60 detik setelah melakukan serangan di kota Auckland. Polisi yang mengikuti orang itu berpikir dia masuk ke dalam supermarket untuk berbelanja, namun menurut seorang saksi dia mengeluarkan sebuah pisau besar dan mulai menikam orang-orang.

"Kami melakukan apapun untuk memantaunya dan fakta bahwa kami mampu bertindak begitu cepat, sekitar 60 detik, menunjukkan seberapa dekat kami mengawasinya," kata Komisaris Polisi Andrew Coster dalam pengarahan itu.

Coster mengatakan penyerang beraksi sendirian dan polisi yakin tidak ada ancaman lebih lanjut kepada masyarakat.

Selandia Baru telah mewaspadai setiap potensi serangan sejak seorang pria bersenjata berideologi supremasi kulit putih membunuh 51 orang di dua masjid di kota Christchurch pada 15 Maret 2019.

Ketika ditanya apakah serangan pada Jumat merupakan aksi pembalasan terhadap penembakan masjid pada 2019, Ardern mengatakan belum jelas.

Pria itu sendiri yang bertanggung jawab atas kekerasan yang dilakukannya, bukan keyakinannya, kata Ardern.

"Itu penuh kebencian, itu adalah hal yang salah. Perbuatan itu dilakukan oleh seorang individu, bukan sebuah keyakinan," kata dia.

"Dia sendirilah yang bertanggung jawab atas perbuatannya."Sebuah video yang diunggah di media sosial memperlihatkan orang-orang sedang berbelanja di sebuah pasar swalayan beberapa detik setelah serangan dimulai.

"Ada orang di sini membawa pisau… dia memiliki pisau," terdengar suara seorang wanita berbicara. "Seseorang telah tertikam."

Seorang penjaga meminta pengunjung untuk meninggalkan pusat belanja itu sebelum terdengar suara tembakan terdengar enam kali.

Ardern mengatakan hingga Jumat, orang tersebut tidak melakukan kejahatan apa pun yang bisa membuatnya tertangkap dan ditahan.

"Jika (sebelum serangan) kami punya alasan memenjarakannya, kami akan memenjarakannya," kata dia.

Saat ditanya apakah dia kecewa dengan peristiwa itu karena otoritas telah lama mengawasinya, Ardern mengatakan: "Ya, sebab saya tahu kami telah melakukan apapun yang bisa kami lakukan… jadi saya benar-benar kecewa."

Dari enam korban penikaman, tiga di antaranya dalam kondisi kritis, seorang dalam kondisi serius dan lainnya terluka cukup parah, kata layanan ambulan St John.

Para saksi mengatakan di luar lokasi kejadian, mereka melihat sejumlah orang terbaring di lantai dengan luka tikaman.

Saksi lainnya mengaku mendengar suara tembakan ketika mereka keluar dari supermarket itu.

Video-video yang diunggah daring memperlihatkan orang-orang berlari panik ke luar gedung dan mencari tempat bersembunyi.

Reporter : Antara
Editor : Wahyu Praditya P