Netral English Netral Mandarin
05:09wib
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan memprediksi, puncak gelombang Covid-19 varian Omicron akan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret 202. Pemerintah mengakui kasus Covid-19 di Indonesia terus mengalami lonjakan akibat transmisi lokal varian Omicron dalam sepekan terakhir.
Sepahit Apapun Kisahmu, Bunuh Diri Bukanlah Solusi

Selasa, 07-December-2021 08:34

Ilustrasi niat hendak bunuh diri
Foto : Rapublika
Ilustrasi niat hendak bunuh diri
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pagi ini, Selasa (7/12/21), pegiat media sosial, Denny Siregar membuat cuitan tentang pesan bagi mereka yang ingin mengakhiri hidupnya atau bunuh diri. 

“Pesan saya ini bukan buat mereka yang sudah mengakhiri hidupnya, tapi buat mereka yang masih hidup dan berfikir untuk mengakhirinya..,” kata Denny Siregar.

“Sepahit apapun kisahmu, bunuh diri bukanlah solusi.  Tuhan memberi kita hidup dengan kasih sayangNya. Mencampakkan yang Ia berikan, sungguh menyakiti hatiNya..,” imbuh Denny.

Untuk diketahui, seseorang ingin melakukan bunuh diri ada banyak penyebabnya. Bunuh diri pun setidaknya ada dua jenis yakni bunuh diri untuk mencelakakan orang lain dan bunuh diri hanya untuk dirinya sendiri. 

Bom Bunuh Diri 

Beberapa waktu lalu, rentetan bom bunuh diri pernah terjadi di Indonesia. Jenis bom bunuh diri ini dilakukan teroris untuk menimbulkan rasa takut masyarakat. 

Aksi tersebut muncul karena adanya kesalahan dalam menginterpretasikan makna jihad. Ada doktrin-doktrin yang memotivasi pelaku bom bunuh diri.

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan, menjelaskan, pelaku bom bunuh diri biasanya nekat melakukan aksinya setelah belajar dengan guru yang salah. 

Sehingga, akhirnya cara menafsirkan ayat jihad pun mengalami kesalahan dan praktik jihadnya juga menjadi ikut salah.

Diungkapkan, pengikut kelompok teroris salah menafsirkan Alquran surat Albqarah Ayat 207 yang bunyinya "dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah."

"Mereka para teroris dan pelaku bom bunuh diri merasa menjadi manusia pilihan yang akan mendapatkan surga tanpa hisab bersama keluarga. Mereka itu taqlid buta kepada guru atau pimpinannya. Sehingga mau saja melakukan aksi bodoh itu," kata Ken Setiawan, di Jakarta, seperti dilansir Beritasatu.com, Minggu (4/4/2021).

Dijelaskan Ken, pengikut kelompok teroris juga salah dalam menafsirkan Alquran surat Al-An'am Ayat 162 yang berbunyi "Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil alamin". Adalah petikan doa iftitah yang mengandung arti "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam".

Bacaan ini berasal dari Alquran surat Al-An'am Ayat 162 yang bermakna bahwa seluruh hidup manusia, bahkan kematiannya, adalah hanya untuk Allah semata.

Menurut Ken, biasanya yang melakukan aksi bom bunuh diri justru adalah para pengikut recehan, bukan pimpinan atau gurunya. Kondisi ini lagi-lagi terjadi karena adanya anggapan guru atau pimpinan mereka adalah wakil Allah di muka bumi. Jadi perintahnya wajib ditaati seperti dalan ayat di Alquran surat Albaqarah ayat 285 yang berbunyi: "Sami'na Wa Atho' na" artinya kami mendengar dan kami taat.

"Jadi orang yang sudah bergabung dalan kelompok radikal seperti kerbau yang sudah dicokok hidungnya, sehingga mau saja melakukan apapun sesuai perintah pimpinan, termasuk melakukan aksi bom bunuh diri," ungkap Ken.

Atas kondisi itu dirinya berharap agar masyarakat bisa belajar agama kepada ahlinya. Jika sudah ada indikasi anti-Pancasila dan berkeinginan mendirikan mendirikan negara Islam atau khilafah harus diwaspadai.

"Orang yang sudah terpapar radikal juga takfiri yang berciri intoleran, cenderung antibudaya kearifan lokal, senang melabeli kelompok di luar mereka bidah sesat dan kafir," ujarnya.

Dijelaskan Ken, cirri-ciri orang yang sudah terpapar radikal sesungguhnya bisa dengan mudah dibaca. Biasanya adalah kecenderungan lemah di bidang akhlak, perilaku, dan budi pekerti. Mereka lebih menonjol pada hal-hal yang sifatnya ritual keagamaan, identitas keagamaan, tampilan luar keagamaan, sementara ahlaknya tidak mencerminkan orang yang beragama alias jahiliah.

"Di medsos termasuk di grup whatsapp, orang yang terpapar radikal cenderung berisik, dalam komunikasi tidak mau mengalah, dan bila ada yang mengkritik mereka selalu dilabeli anti-Islam dan komunis," kata Ken.

Bunuh Diri untuk Dirinya Sendiri

Pikiran untuk bunuh diri dapat dialami siapa saja, terlebih mereka yang mengalami stres berat atau tekanan batin, gangguan kesehatan, dan masalah kejiwaan. 

Menurut beberapa psikolog dan dokter seperti diulas alodokter.com, setidaknya ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk bunuh diri:

1. Gangguan bipolar

Orang dengan gangguan bipolar akan mengalami perubahan suasana hati yang sangat drastis. Misalnya, ia bisa mendadak sedih atau tidak bersemangat, padahal sebelumnya merasa gembira dan sangat antusias.

Jika dibiarkan tanpa pengobatan, penderita gangguan bipolar berisiko tinggi untuk mencoba bunuh diri.

2. Depresi berat

Orang yang mengalami depresi berat juga berisiko tinggi untuk bunuh diri. Kondisi ini umumnya ditandai dengan rasa putus asa, suasana hati yang buruk, tidak semangat menjalani aktivitas sehari-hari, atau kehilangan minat dan motivasi hidup. Gejala tersebut bahkan bisa muncul tanpa adanya sebab yang jelas.

3. Anoreksia nervosa

Penderita anoreksia nervosa selalu merasa dirinya gemuk sehingga melakukan berbagai upaya untuk menurunkan berat badan, termasuk konsumsi obat-obatan secara berlebihan hingga berisiko mengalami overdosis.

Angka kematian karena bunuh diri cukup tinggi pada pada penderita gangguan makan ini, terutama pada remaja wanita.

4. Borderline personality disorder (BPD)

Penderita borderline personality disorder (BPD) memiliki emosi yang tidak stabil dan terkadang sulit bersosialisasi. Penderita gangguan ini umumnya memiliki riwayat pelecehan seksual pada masa kecilnya dan memiliki risiko lebih tinggi untuk bunuh diri.

5. Skizofrenia

Ciri orang dengan skizofrenia adalah sering berhalusinasi, paranoid atau sulit percaya dengan orang lain, berperilaku aneh, dan memiliki paham atau percaya pada hal-hal yang belum tentu nyata.

Diperkirakan sekitar 5% penderita gangguan kejiwaan ini mengakhiri nyawanya dengan cara bunuh diri.

6. Gangguan adiksi

Gangguan adiksi adalah gangguan perilaku yang membuat seseorang menjadi sangat ketergantungan atau kecanduan dengan hal tertentu, seperti rokok, minuman beralkohol, atau narkoba.

Selain itu, gangguan adiksi juga bisa berupa kecanduan terhadap aktivitas tertentu, seperti kecanduan belanja, bermain game, seks, atau berjudi. Orang yang mengalami gangguan adiksi diketahui memiliki risiko lebih tinggi untuk bunuh diri.

Selain beberapa gangguan kesehatan mental di atas, ada faktor lain yang juga bisa memicu seseorang bunuh diri, di antaranya:

  • Memiliki riwayat pelecehan emosional atau seksual, termasuk sodomi ataupun pemerkosaan
  • Memiliki masalah sosial dan ekonomi, seperti kehilangan pekerjaan atau terjerat hutang
  • Mengalami peristiwa hidup yang penuh tekanan, seperti penolakan, perceraian, atau kehilangan orang yang dicintai
  • Menjadi korban perundungan (bully)
  • Mengalami gangguan tidur

Tanda-Tanda Ingin Bunuh Diri

Ada beberapa tanda yang bisa diperlihatkan atau ditunjukkan oleh seseorang yang memiliki keinginan untuk bunuh diri, di antaranya:

  • Sering membicarakan atau memikirkan tentang kematian
  • Suasana hati sering berubah, misalnya cepat marah atau tersinggung
  • Pernah memikirkan atau bahkan mencoba untuk menyakiti diri sendiri
  • Pernah menyampaikan atau bahkan mengancam ingin bunuh diri
  • Menarik diri dari orang-orang di sekitarnya
  • Sering merasa cemas atau gelisah
  • Tampak tidak bersemangat atau murung
  • Kehilangan minat dalam melakukan hal yang sebelumnya disukai
  • Susah tidur
  • Merasa tidak berdaya, malu, bersalah, atau tidak ada masa depan
  • Mulai mencari informasi tentang cara bunuh diri
  • Ketika Anda melihat seseorang menunjukkan tanda-tanda tersebut atau mengalami kondisi yang bisa memicu bunuh diri, Anda harus waspada. Sebisa mungkin, berikan perhatian agar ia tidak merasa sendirian. Ajak pula ia untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Jika Anda sendiri yang merasa ingin bunuh diri atau memiliki ide untuk bunuh diri, segera konsultasikan ke psikolog atau psikiater untuk mendapatkan pertolongan dan penanganan yang tepat.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Irawan HP

Berita Terkait

Berita Rekomendasi