Netral English Netral Mandarin
04:07wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Sepenggal Sejarah di Papua, Laksana Cinta Tak Berbalas

Rabu, 28-Juli-2021 20:44

Ilustrasi siswa sekolah di Papua
Foto : Edunews
Ilustrasi siswa sekolah di Papua
27

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kondisi sekolah-sekolah di Papua, sebagai lembaga pendidikan formal, ternyata sangat kontras antara daerah yang satu dengan daerah lainnya. Apalagi bila dibandingkan dengan sekolah yang ada di Jawa. Bisa dikatakan, antara langit dan bumi.

Ada sejumlah persoalan yang harus dihadapi masyarakat Papua. Upaya memenuhi kebutuhan pendidikan bagi anak-anak di sana, masih terkendala masalah kekurangan guru yang berkualitas, masalah transportasi, sarana prasarana yang tidak mendukung, dan lain-lain.

Di tengah keterbatasan tersebut, masyarakat Papua tetap mendorong agar anak-anak mereka bisa sekolah. Kecintaan dan harapan agar menjadi pandai begitu tinggi. Dengan berbagai cara, mereka menginginkan agar semua anak mengenyam bangku sekolah.

Bila melihat anak-anak mengikuti upacara bendera di hari Senin, tampak bahwa mereka berusaha menunjukkan wujud cintanya pada Indonesia. Ekspresi saat menghormat Sang Saka Merah Putih, membawa pertanyaan, “Apakah cinta mereka sudah berbalas?”

Awal mula pendidikan di Papua dari kaum zendingSebelum menjadi bagian dari wilayah Republik Indonesia, pendidikan formal sudah ada di Papua. Sekolah paling awal dirintis oleh kaum zending atau misionaris dari agama Kristen.

Perintis pertama adalah dua orang misionaris dari Jerman bernama Ottho Gerhard Herdring dan Johann Gottlob Geissler. Pada 5 Februari 1855, mereka tiba di Mansinam (sekarang masuk wilayah Manokwari) dengan menumpang sebuah kapal bernama “Ternate”.

Daerah yang terletak di Teluk Doreri dan kemudian disebut Manokwari ini adalah daerah tertua yang telah mengenyam peradaban dunia. Pelabuhan di tempat ini telah disinggahi para pedagang dari Ternate, Makassar, dan disusul kemudian para pedagang dari Eropa.

Penduduk asli di Mansinam sudah mengenal Bahasa Melayu. Mereka mayoritas terdiri dari orang Biak-Numfor dan beberapa suku lain yang telah berpuluh-puluh tahun menetap di sana. Mereka juga selalu menjalin hubungan dengan suku-suku pedalaman.

Saat menginjakkan kaki pertama kali di Papua, mereka berkata, “Dengan nama Tuhan, kami menginjak tanah ini.“ Maka, mereka pun segera berkarya. Segudang kesulitan harus mereka hadapi, dari mulai menarik simpati, mengumpulkan anak, hingga mampu mendirikan pendidikan formal.

Tentu, karya mereka tak luput dari motif penyebaran ajaran agama Kristen. Terlepas dari kepentingan tersebut, berkat pendidikan yang mereka kenalkan, tumbuhlah generasi Papua perdana, yang selain beriman Kristiani tetapi juga berpendidikan (membaca, menulis, budaya hidup sehat).

Ottho dan Geissler terlebih dahulu mempelajari bahasa dan adat istiadat penduduk setempat. Upaya tersebut tidaklah mudah, karena ternyata ada begitu banyak bahasa dan adat-istiadat dari suku-suku di Papua. Suku-suku itu tersebar dan terisolir, mereka cenderung antidunia luar.

Namun, Ottho dan Geissler tetap tekun dan sangat sabar. Orang Papua sedikit demi sedikit bisa dikumpulkan dan mau mendengarkan pewartaan mereka. Karya mereka pun mulai merambah ke daerah lain, seperti Andai, Amberbaken, dan Teluk Cenderawasih.

Pendidikan modern pertama

Seperti diungkapkan Ana Maria F Parera dan kawan-kawan dalam buku “Wondama Tempat Pertama Pendidikan Moderen Orang Papua” (2014), dipaparkan bahwa karya pendidikan kaum zending di Mansinam ditujukan bukan hanya untuk anak-anak Papua.

Anak-anak dari Ambon, Sangir, dan keturunan Tionghoa, juga dididik kaum zending. Sedangkan pendidikan formal kaum zending yang memang murni ditujukan bagi anak-anak asli Papua, pertama kali didirikan di Wondama (sekarang menjadi Kabupaten Wondama, Provinsi Papua Barat).

Pendidikan modern di Wondama pada mulanya ditujukan bagi anak-anak asli Papua dari Biak, Serui, Numfor, Sorong, Jayapura, dan Nabire. Rintisan pendidikan modern berlangsung sekitar tahun 1925.

Tanda dimulainya pendidikan modern di wilayah ini adalah dibukanya sekolah pendidikan guru desa di Wondama, tepatnya di Kampung Miei, Distrik Wasior Kota. Sekolah untuk mencetak para guru ini didirikan khusus bagi putra-putri asal Papua di wilayah bagian Barat dan Utara Papua.

Pendidikan guru desa di Miei ini berpola asrama, mereka dididik untuk hidup mandiri. Pelajaran yang diajarkan adalah membaca, menulis, dan berhitung. Di samping itu, pelajaran agama juga diajarkan, yaitu dengan mempelajari Alkitab, bernyanyi, dan berdoa.

Dengan pembukaan sekolah ini, lahirlah tenaga guru yang sangat dibutuhkan di seluruh wilayah Papua. Namun, hingga kini, jumlah guru yang dibutuhkan ternyata belum juga bisa dipenuhi.

Akankah cinta dibalas?

Jasa kaum zending dalam mencetak guru desa di Papua patut dihargai. Namun, karya pendidikan kaum zending yang kini menjadi yayasan Kristen, tak akan mampu menjawab semua kebutuhan masyarakat Papua. Kemampuan yayasan dalam menggaji guru, memenuhi sarana, sangat terbatas.

Beberapa waktu lalu, Kemendikbud menyebutkan bahwa tahun 2018 masih kekurangan sekitar 933 ribu guru. Bila dihitung dengan benar, untuk memenuhi kebutuhan di Papua, bisa jadi akan jauh lebih besar dari jumlah itu.

Saat Papua menjadi wilayah Republik Indonesia, pemerintah berusaha memenuhi kebutuhan guru di Papua dengan mengirimkan tenaga guru dari kawasan Timur Indonesia, seperti Ambon, Ternate, Tidore, Seram, Kei, Manado, Sangir-Talaud, dan Timor.

Dalam catatan peneliti The Institute for Ecosoc Rights, Rinto Trihasworo, yang berjudul “Darurat Pendidikan, Sebuah Tinjauan Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Hak di Indonesia” (2012), dipaparkan bagaimana kondisi sekolah yang sangat memprihatinkan di Kabupaten Maybrat, Papua Barat.

Selama puluhan tahun hingga 2012, satu sekolah dasar hanya ada satu hingga empat guru dan harus mengajar siswa dari kelas satu hingga kelas enam. Sekolah juga tidak memiliki perpustakaan dan tidak memiliki buku paket. Setiap kali bersekolah, siswa hanya membawa satu buku dan satu pensil.

Saat pulang dari sekolah, tak pernah siswa mengulang materi pelajaran karena tidak ada buku pegangan. Apalagi bila malam hari tiba, bagaimana mau belajar bila diliputi kegelapan tanpa penerangan. Listrik belum ada.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati