Netral English Netral Mandarin
01:01wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Kisah Arwah Orang Jawa Gentayangan Menjelang Papua Diduduki Tentara RI

Jumat, 08-Oktober-2021 19:10

Ilustrasi papua tempo dulu, Kunjungan Parlemen ke Kampung Kepi, Mappi, Papua, Agustus 1957.
Foto : Kantoor voor Voorlichting en Radio Omroep Nieuw-Gu
Ilustrasi papua tempo dulu, Kunjungan Parlemen ke Kampung Kepi, Mappi, Papua, Agustus 1957.
24

JAYAPURA, NETRALNEWS.COM - Kisah ini terjadi sekitar tahun 1962 dan tertera dalam catatan sejarah yang ditulis oleh Frits Veldkamp dengan judul “Eksperimen Demokrasi di Ujung Hari” (dibukukan Pim Scgoorl, berjudul Belanda di Irian Jaya, Amtenar di Masa Penuh Gejolak 1945-1962).

Walaupun proklamasi kemerdekaan Indonesia berkumandang sejak tahun 1945, namun hingga tahun 1962, wilayah Papua masih di bawah kekuasaan Kerajaan Belanda. 

Selama itu, sejumlah orang Belanda dikirim ke Papua untuk merintis pemerintahan dengan melibatkan warga setempat.

Salah satu kepala pemerintahan atau Kontrolir Belanda itu adalah Frits Veldkamp. Ia adalah tokoh penting yang pernah berjasa membuka pos pemerintahan Belanda pertama di Wamena, sekitar tahun 1956.

Sepanjang Frits Veldkamp membabad hutan Papua hingga tahun 1962, berbagai ragam pengalaman pernah ia alami. 

Ia menyaksikan kondisi Papua saat belum terjamah peradaban. Ia menyaksikan bagaimana budaya asli penduduk Papua. Ia juga pernah mengalami pengalaman misterius.

Pengalaman itu terjadi menjelang Presiden Soekarno mengancam akan mengirimkan pasukan mengusir warga Belanda di Papua. Ancaman Presiden Soekarno lebih dikenal dengan nama operasi Tri Komando Rakyat  (Trikora).

Akibat ancaman itu, muncul ketegangan dan kepanikan yang dialami warga Belanda di Papua. Sejumlah warga Belanda memilih meninggalkan Sorong dan kembali menuju Eropa karena kawatir akan terjadi perang besar. Sementara yang lainnya, bertahan sambil menunggu kepastian apa yang akan terjadi.

Dalam situasi tidak menentu itulah, beredar berita tentang keberadaan hantu yang membuat resah warga di sekitar Sorong. Sumber berita berasal dari warga Papua yang tinggal di Pula Doom (sekarang masuk wilayah Kota Sorong, Provinsi Papua Barat).

Di Pulau Doom, sekitar tahun  1943, konon ada seorang tuan tanah dari Jawa yang ditangkap dan dipenggal kepalanya oleh Tentara Jepang. Arwah orang itu kemudian berulang kali muncul dan mengganggu warga di Pulau Doom.

Orang Papua percaya bahwa bila roh itu menampakkan diri, maka akan terjadi malapetaka. Arwah itu dihubung-hubungkan pula sebagai simbol kekuatan Pemerintahan Indonesia yang akan segera tiba dan mengusir orang Belanda.

Di sisi lain, juga muncul berita adanya mata-mata musuh yang keluar masuk ke daerah Sorong. Antara berita berbau mistik dan berita politik saling “bercampur-aduk tak jelas ujung pangkalnya," tulis Frits Veldkamp (hal 536).

Frits Veldkamp juga mencatat bahwa konon, roh “tuan tanah” itu sekonyong-konyong muncul di lokasi tertentu, kemudian muncul juga di lain tempat, dan mendadak lenyap tak bisa dilacak. Fenomena misterius itu tidak hanya disampaikan orang Papua tetapi juga oleh orang Eropa.

Orang-orang Eropa yang terbiasa berpikir rasional, ternyata juga melaporkan hal serupa. Mereka mengaku melihat orang yang tak dikenal dan mencurigakan. 

Orang misterius itu mengintai melalui jendela lalu sekonyong-konyong menghilang ke dalam hutan dan tidak bisa ditemukan.

Situasi tak menentu itu, oleh Frits Veldkamp disebut dengan istilah massapsychose, yaitu situasi psikologis masyarakat di Papua dimana antara berpikir rasional dan irrasional saling tumpang tindih.

Frits Veldkamp berusaha berpikir rasional. Ia berpikir bahwa Pulau Doom adalah pulau yang relatif kecil. Semua orang tidak akan mudah bisa melarikan diri. 

Namun soal fenomena gaib menjadi desas-desus selama berminggu-minggu, ia pun bingung dan tidak dapat memberikan penjelasan lebih.

Ia menduga bahwa penampakan orang misterius itu, bisa jadi adalah mata-mata pendukung Republik Indonesia yang disusupkan ke Pulau Doom. 

Frits Veldkamp berusaha menolak mitos, namun tak mampu membendung menyangkal desas-desus yang telah merebak di Sorong.

Frits Veldkamp selanjutnya mencatat, “Puncaknya yang konyol adalah ketika salah seorang Eropa datang ke rumah saya, menyerahkan seorang lelaki yang ia tangkap karena tingkah laku dan tampangnya yang mencurigakan” (hal 537).

Sebelumnya, lelaki itu tak pernah terlihat di pulau itu. Kulitnya berwarna gelap, berjanggut hitam, dan cukup mengesankan. Ia ternyata mampu mengucapkan sepatah dua patah kata berbahasa Inggris.

Frits Veldkamp  sebenarnya merasa gugup menghadapi orang itu. Ia bingung harus bagaimana menghadapi orang itu. Ia kemudian mempersilakan orang itu duduk dan menyodorkan segelas bir. Dan anehnya, orang itu justru menyambutnya dengan gembira.

Dengan bahasa isyarat dan beberapa patah kata Bahasa Inggris, akhirnya terungkap bahwa orang misterius itu ternyata berasal dari India. Ia adalah seorang anak buah kapal yang tercerai-berai dengan kawan-kawannya saat berlabuh di Sorong.

Frits Veldkamp akhirnya membebaskan orang itu. Sesaat setelah dibebaskan, nampak mukanya bingung tentang dengan apa yang sebenarnya telah terjadi. Ia sadar bahwa dirinya telah ditahan tapi mengapa kemudian dibebaskan setelah menenggak segelas bir?    

Sejak kejadian itu, Frits Veldkamp  mengaku tak pernah berjumpa lagi dengan orang misterius itu. Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah orang itu yang selama ini disebut sebagai arwah tuan tanah dan mengganggu warga Sorong? Frits Veldkamp  tak mampu menyimpulkan.

Di balik pertanyaan Frits Veldkamp yang tak pernah terjawab, hingga kini di Pulau Doom, yang pasti masih ada sisa-sisa bangunan orang Belanda dan peninggalan sistem pertahanan militer Jepang.

Salah satu peninggalan Belanda yang kemudian menjadi objek wisata di Pulau ini adalah sebuah gereja Bethel. Di belakang Gereje Bethel terdapat gua.

Sekilas, gua itu hanya seperti gundukan tanah biasa yang berlubang. Di atasnya, ditumbuhi pepohonan. Gua itu sebenarnya adalah lorong bawah tanah atau bunker pertahanan tentara Jepang pada masa Perang Dunia II, yang terhubung langsung ke pelabuhan di Pulau Doom.

Seperti halnya keberadaan objek wisata peninggalan masa kekejaman Jepang lainnya, di tempat ini tetap lahir berbagai kisah mitos yang menjadi buah bibir warga Sorong. 

Ada yang mengaku masih sering melihat penampakan misterius lelaki tanpa kepala dengan leher bersimbah darah.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto