Netral English Netral Mandarin
02:33 wib
Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo meyakini dirinya tertular Covid-19 saat makan karena harus melepas masker. Ia pun mengimbau masyarakat menghindari makan-makan bersama orang lain. akan menggunakan GeNose, alat deteksi virus corona atau Covid-19 buatan Universitas Gadjah Mada (UGM), di sejumlah stasiun kereta api di Indonesia mulai 5 Februari 2021.
Sepenggal Kisah Ketika Guru Indonesia Diwajibkan Bercelana

Kamis, 26-November-2020 00:00

Ilustrasi guru dan murid tempo dulu
Foto : Istimewa
Ilustrasi guru dan murid tempo dulu
25

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Menengok bagaimana kondisi pendidikan di masa akhir Pendudukan Jepang di Nusantara, ternyata ada sepenggal catatan menarik dan unik.

Peristiwa itu terjadi di salah satu kota di Jawa Tangah, yakni Purworejo. Dalam catatan Sinar Baroe 5 Maret 2604 (5 Maret 1944) diberitakan tentang imbauan agar para guru laki-laki mengenakan celana dan rok untuk guru perempuan.

Uniknya, yang dimaksud celana ternyata bukan harus celana panjang, tetapi boleh juga kenakan celana pendek. Pertanyaannya, mengapa wajib bercelana? Sebelumnya mengenakan pakaian apa?

Baca Juga :


Pertanyaan tersebut terjawab dalam isi berita tersebut. Berikut kutipan yang dimaksud, diketik ulang sama seperti ejaan yang berlaku di kala itu.

Goeroe2 Diwadjibkan Bertjelana

Goeroe perempoean ber-,,rok’’.

Sedjak dari doeloe sampai sekarang goeroe2, baik dikota, maoepoen didesa tidak sedikit jg. Masoek sekolah dengan pakaian berkain dan berikat kepala. Keadaan ini kita lihat hampir diseloeroeh Tanah Djawa.

Belakangan ini soal olahraga mendjadi salah satoe peladjaran jg. Haroes dipentingkan. Berhoeboeng dengan ini, maka jg. Berwadjib di Poerworedjo mewadjibkan kepada kaoem goeroe masoek sekolah dengan bertjelana (tjelana pendek atau pandjang).

Peratoeran ini berlakoe moelai tg. 29 Pebroeari jl.

Goeroe perempoean jg. Biasanja berbadjoe kebaja dan berkain, wadjib membaharoei pakaianja. Mereka haroes membikin oakaian model baroe, jaitoe ,,rok” goena mengadjar. (Domei).

=celana.jpeg=

Kondisi pendidikan era Jepang

Sebenarnya, kondisi pendidikan di Nusantara selama pendudukan Jepang (1942-1945) jauh lebih buruk ketimbang era pendudukan Kolonial Belanda abad ke-20.

Orientasi Jepang berkuasa menitikberatkan  pada perang sehingga masalah pemenuhan hak pendidikan tidak mendapat perhatian yang memadahi. Bahkan tak sedikit tenaga guru dan pelajar marah dikerahkan untuk tenaga perang.

Menukil catatan Masa Pendudukan Jepang di Indonesia (2019) seperti dikutip Kompas.com, situasi perubahan sebelum Jepang dan saat Jepang berkuasa cukup tergambar. Pada tahun ajaran 1940/1941 (masa kolonial Belanda), jumlah sekolah dasar 17.848.

Namun, di akhir pendudukan Jepang (1944/1945), jumlah sekolah dasar menjadi 15.069. Jumlah guru yang tadinya 45.415 juga berkurang menjadi 36.287.  Banyak yang putus sekolah dan buta huruf karenanya.

Namun, kebijakan pendidikan di masa Jepang ada juga yang “menguntungkan” bagi Indonesia. Ini bisa dilihat di antaranya dari kebijakan:

Pertama, bahasa Indonesia dijadikan bahasa resmi pengantar pendidikan menggantikan bahasa Belanda. Kedua, sistem pendidikan diintegrasikan. Pendidikan berdasarkan kelas sosial yang sebelumnya berlaku di era Hindia Belanda, dihapuskan.

Di masa pendudukan Jepang, pendidikan tingkat dasar hanya ada satu macam yakni sekolah dasar selama enam tahun.

Jepang menyeragamkan sekolah-sekolah dasar di Indonesia agar mudah diawasi.

Kebijakan ini berdampak positif. Anak-anak pribumi dari keluarga miskin yang sebelumnya tidak berhak untuk sekolah, jadi mengenyam pendidikan yang sama dengan anak bangsawan dan keturunan Belanda.

Sekolah-sekolah berbahasa Belanda ditutup. Begitu juga materi pengetahuan soal Belanda dan Eropa.

Salah satu sekolah yang harus ditutup, Hollandsche Chineesche School atau HCS. Tutupnya HCS menyebabkan anak-anak keturunan Tionghoa kembali ke sekolah berbahasa Mandarin di bawah koordinasi perkumpulan Chung Hua Chiao Thung.

Jepang juga melarang berdirinya sekolah swasta baru. Sekolah swasta yang sudah terlanjur berdiri harus mengajukan izin ulang agar bisa tetap beroperasi.

Sekolah swasta yang dulu diasuh oleh badan-badan missie atau zending dib olehkan beroperasi kembali atas diselenggarakan oleh pemerintah Jepang seperti sekolah negeri.

Sekolah swasta baru yang boleh berdiri hanya sekolah di bawah kendali Jawa Hokokai. Jawa Hokokai adalah organisasi yang dibentuk Jepang untuk membantu perang.

Sekolah swasta lainnya hanya dibolehkan membuka sekolah kejuruan dan bahasa. Taman Siswa yang didirikan Ki Hajar Dewantara diubah namanya. Taman Dewasa menjadi Taman Tani.

Sementara Taman Guru dan Taman Madya tutup. Sementara terhadap pendidikan Islam, Jepang berusaha mengambil simpati dengan sering mengunjungi pesantren sambil membawa bantuan.

Barisan Hizbullah yang mengajarkan latihan dasar militer diizinkan dan didukung Jepang. KH Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, dan Moh Hatta diperkenankan mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta.

Jepang juga mengizinkan berdirinya Pembela Tanah Air (PETA) yang merupakan cikal bakal TNI.

Reporter :
Editor : Taat