3
Netral English Netral Mandarin
11:14 wib
Indonesia Corruption Watch (ICW) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelusuri dugaan korupsi Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah dalam sejumlah proyek infrastruktur lainnya di Sulsel. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan program vaksinasi mandiri atau gotong royong tidak ditujukan untuk komersil.
Seteru 'Baku Pukul Sampai Mati', Ini yang Dilakukan Ngabalin pada Yahya Waloni 

Jumat, 19-Februari-2021 19:40

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Ali Mochtar Ngabalin
Foto : Twitter
Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Ali Mochtar Ngabalin
2

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Ali Mochtar Ngabalin kembali berkomentar para pernyataan Ustaz Yahya Waloni. Ustaz Yahya Waloni diketahui sempat menantang Ngabalin 'baku pukul sampai mati' dan tinggal menentukan lokasi.

Menurut Ngabalin, Ustaz Yahya Waloni sudah saatnya dikandangi alias dipenjarakan. Ngabalin sebut, tinggal menunggu dan semua hanya soal waktu saja.

"si Yahya ajak ketemu"baku pukul sampai mati" *emoticon* katanya dia"emosi dgn pernyataan bang ali"di medsos," kata Ngabalin, dikutip dari cuitannya, Jumat (19/2/2021).

Ngabalin bahkan cap Ustaz Yahya Waloni sebagai Kadal Gurun atau Kadrun. Dia bahkan berkelakar bahwa Ustaz Yahya Waloni memiliki syaraf-syaraf di tubuh yang sudah putus dan memiliki isi kepala seperti septic tank.

"dasar kadrun CARI MAKAN DGN CACI MAKI ORANG DI MIMBAR MASJID prett lho yahya," tegas Ngabalin yang sempat terinfeksi Covid-19 ini.

Lebih lanjut Ngabalin katakan, apabila tidak ada aral melintang Ustaz Yahya Waloni akan nyusul sahabatnya Sugi Nur. Pasalnya, keduanya memiliki mulut yang disebut bagai comberan.

Alasannya, menurut Ngabalin Ustaz Yahya Waloni bagai baru membaca satu halaman buku agama. Namun Yahya Waloni sudah mendeklarasikan diri sebagai tokoh agama ustaz.

"SAMPAH UMMAT membohongi dan menipu ummat hanya utk urusan perut hufft memalukan prettlah," ujar Ngabalin.

 

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani