Netral English Netral Mandarin
02:19wib
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengeluarkan fatwa bahwa hukum penggunaan aset kripto. Kebijakan satu harga minyak goreng dengan harga setara Rp 14.000 per liter mulai berlaku di sejumlah minimarket pada Rabu.
Setuju dengan MUI Jatim, Politikus Partai Ummat: Hentikan Kasus Tendang Sesajen!

Sabtu, 15-January-2022 11:28

Pria yang goblokkan pemakai masker di mall akhirnya minta maaf
Foto : Kolase Tribunews
Pria yang goblokkan pemakai masker di mall akhirnya minta maaf
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politikus Partai Ummat, Mustofa Nahrawardaya menyatakan dukungan dan persetujuannya dengan seruang MUI Jawa Timur yang meminta agar kahsus pria menendang sesajen ruwatan di Gunung Semeru dihentikan. 

“Setuju MUI Jatim: Hentikan Kasus Tendang Sesajen!” kata Mustofa Nahrawardaya, Sabtu 15 Januari 2022.

Untuk diketahui, pria penendang sesajen yang viral ternyata bernama  Hadfana Firdaus. Ia telah ditangkap dan dibawa ke Polda Jatim. 

Ketua Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim KH Makruf Khozin meminta supaya pelaku untuk tidak diproses hukum terlebih dahulu.

Makruf meminta tersangka untuk dibawa ke Lumajang dan difasilitasi untuk dipertemukan dengan warga Dusun Sumbersari, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang terlebih dulu. 

Daerah tersebut merupakan lokasi kejadian dimana Hadfana membuang dan menendang sesajen dan kemudian menghilang setelah videonya viral.

Makruf mengatakan ada beberapa hal yang membuat warga kesal dan itu harus diklarifikasi apakah maksud dari tersangka menendang dan membuang sesajen dan mengeluarkan beberapa kata-kata yang menurut beberapa orang kurang pantas tersebut.

"Jadi memang seperti yang dibilang sama kawan saya di Semeru, jadi kan yang membuat warga kesal karena mereka memvideo lalu menyebarkan sambil mengata-ngatai syirik, murka Allah datang,” katanya seperti dinukilNNC dari ayoindonesia.com,  Jumat, 14 Januari 2022.

Namun, menurutnya, sebenarnya dari dulu warga telah membuat sesajen. Beberapa diantaranya hilang. 

”Mereka ngga tahu entah hilang dimakan hewan atau kena angin itu nggak masalah, tapi tidak ada unsur pelecehan ke warga. Kalau deliknya pasalnya ujaran kebencian, masuk ke ranah itu," terangnya.

Nanti, lanjut Makruf, pada saat pertemuan Hadfana dan warga Dusun Sumbersari, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang berlangsung maka pelaku bisa minta maaf dengan para warga. 

“Sehingga kejadian ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” jelasnya.

Menurutnya, saat insiden terjadi sebenarnya kala itu para relawan, salah satunya Hadfana dalam kegitan membantu penduduk sekitar setelah mengalami bencana erupsi Gunung Semeru. 

”Jadi itu relawan kan membantu logistik jadi ada kejadian itu. Menurut saya dimediasi, diselesaikan kekeluargaan, lalu pelaku minta maaf, sudah lanjutkan proses tugas relawan itu. Tapi kalau memang warga tingkat kebenciannya sudah gak mau direkonsiliasi atau cara damai ya, silakan (Dilanjut)," lanjutnya.

Makruf juga menghimbau agar jangan sampai kejadian itu memicu perpecahan ormas yang beraneka ragam di Indonesia

"Bagi MUI bersama jajaran dan semua umat Islam, ada NU, Muhammadiyah, dan lainnya, jangan sampai insiden kecil ini menghilangkan tugas mulia yang ingin membantu sebagai relawan. Jangan sampai terulang lagi hal itu," bebernya.

Kini Hadfana telah diperiksa di Polda Jatim. Direskrim Umum Polda Jatim, Kombes Pol Totok Suharyanto mengatakan, pelaku masih menjalani pemeriksaan. 

"Motif tersangka membuang sesajen tersebut adalah pemahaman keyakinan yang berbeda. Tersangka juga mengakui jika dirinya yang telah menyebarkan video itu ke grup WhatsApp," katanya, Jumat 14 Januari 2022.

Tersangka, lanjutnya, juga mengaku bahwa perbuatannya itu dilakukan secara spontan saat melihat sesajen. "Untuk keterangan sementara, tersangka mengaku melakukannya karena tindakan spontan dan video yang telah viral itu, tersangka mengaku jika dia sendiri yang menyebarkannya ke grup WhatsApp," sambungnya.

Hadfana Firdaus ditetapkan sebagai tersangka penistaan agama. Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 156 dan 158 KUHP tentang Ujaran Kebencian terhadap Satu Golongan dengan ancaman pidananya 4 tahun penjara.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli

Berita Terkait

Berita Rekomendasi