Netral English Netral Mandarin
02:12wib
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 memutuskan hanya membuka akses enam pintu masuk kedatangan perjalanan internasional untuk WNI. Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengatakan ada kemungkinan turis mancanegara bisa kembali mengunjungi Indonesia pada 2022 mendatang.
Sindir Demokrat? Ruhut: Hanya Nyinyir dan Ngebacot Tanpa Solusi, Kebencian Tidak Terukur...

Jumat, 09-Juli-2021 15:40

Politisi PDIP Ruhut Sitompul
Foto : Istimewa
Politisi PDIP Ruhut Sitompul
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politisi PDIP Ruhut Sitompul menyindir pihak- pihak yang menyerang pemerintah terkait penanganan pandemi Covid-19.

Menurut Ruhut, pihak-pihak tersebut hanya bisa nyinyir tanpa solusi dan menggiring opini untuk menyalahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Yang mengatakan permasalahan pandemi Covid-19 hanya nyinyir dan ngebacot tidak memberi solusi tapi menggiring Pemerintahan Bpk Joko Widodo salah, terlihat kebenciannya yang tidak terukur," tulis Ruhut di akun Twitter-nya, dikutip Jumat (9/7/2021).

Ruhut kemudian menyinggung soal laporan Bank Dunia (World Bank) bahwa Indonesia saat ini menjadi negara berpendapatan menengah ke bawah (lower middle income country), turun kelas dari sebelumnya negara berpendapatan menengah atas (upper middle income country).

Eks politisi Partai Demokrat itu menyebut ada pihak yang berkomentar menyamakan penurunan pendapatan nasional bruto atau GNI per kapita Indonesia itu seperti naik turun kelas di sekolah. Ruhut berpendapat, pihak yang menyamakan hal itu tampak bebal.

Entah siapa yang disindir Ruhut, namun diduga hal itu terkait respons Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono terhadap laporan Bank Dunia itu, di mana AHY menyebut 'Idealnya, kita selalu naik kelas. Jangan tinggal kelas, apalagi turun kelas'.

"Menyamakan dengan sekolah contoh naik kelas dan turun kelas, malu dong, kelihatan tololnya. MERDEKA," sindir Ruhut Sitompul.

Sebelumnya diberitakan, berdasarkan laporan Bank Dunia yang diperbarui tiap tahun per 1 Juli, menunjukkan kelas perekonomian Indonesia turun dari kategori negara berpenghasilan menengah ke atas (upper middle income) menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah (lower middle income).

Hal itu terjadi karena pendapatan nasional bruto atau GNI per kapita Indonesia mengalami penurunan dari 4.050 dolar AS pada 2019 menjadi 3.870 dolar AS pada 2020.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan pendapatan GNI per kapita Indonesia mengalami penurunan, salah satunya akibat pandemi Covid-19 yang memang mempengaruhi perekonomian Indonesia dan juga dunia.

Turunnya status Indonesia menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah ini mendapat sorotan dari Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

"Idealnya, kita selalu naik kelas. Jangan tinggal kelas, apalagi turun kelas," tulis AHY di akun Twitter-nya, Rabu (7/7/2021).

Namun demikian, AHY menyebut bahwa yang menjadi masalah genting saat ini bukan mengenai status kelas Indonesia, tapi soal mampu tidaknya negara menyelamatkan rakyat dari pandemi Covid-19.

"Masalah gentingnya, bukan dimana status kelas kita saat ini, tapi mampukah negara ini menyelamatkan rakyatnya dari Covid?" cuit @AgusYudhoyono.

Putra Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu melontarkan pertanyaan demikian mengingat pandemi di Indonesia semakin mengganas, di mana kasus baru dan yang meninggal dunia akibat terpapar Covid-19 mengalami peningkatan signifikan belakangan ini.

"Hampir sekian menit sekali terdengar sirine kencang ambulans. Hampir sekian jam sekali terima berita duka dari yang kita kenal. Ini mengonfirmasi, setiap hari ada rekor baru, baik jumlah yang positif terpapar, maupun yang meninggal dunia. Sampai kapan Indonesia?," ungkap AHY.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli