• News

  • Singkap Budaya

Adegan Pilu Cinta Tak Sampai Sejoli dari Suku Dayak

Ilustrasi remaja sejoli dari suku Dayak
foto: istimewa
Ilustrasi remaja sejoli dari suku Dayak

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Keragaman suku di Indonesia melahirkan budaya yang beragam pula. Masing-masing suku mempunyai aturan yang menjadi pedoman hidup dan tidak boleh dilanggar. Bila dilanggar, pasti ada sanksi yang harus dijalani.

Demikian halnya dalam Suku Dayak. Suku ini mempunyai subetnis yang tidak sedikit. Walaupun merupakan satu kesatuan sebagai kelompok Suku Dayak, masing-masing subetnis memiliki tata aturan yang berbeda-beda, contohnya adalah Suku Dayak Kanayan dan Dayak Jangkang.

Kedua subetnis tersebut memberlakukan hukum adat bahwa perkawinan diperkenankan bila pasangan muda-mudi itu berasal dari suku yang sama. Artinya, seorang pemuda Dayak Kanayan diharapkan menikahi pemudi dari suku yang sama. Demikian juga ketentuan dalam Dayak Jangkang.

Mengapa demikian? Tentu, aturan ini sengaja dibuat dan menjadi semacam kearifan lokal dalam upaya mempertahankan keutuhan dan kelangsungan generasi penerus bagi masing-masing suku. Lalu bagaimana kalau dilanggar? Biasanya, pernikahan akan terhalang dan tidak mendapat restu.

Alkisah, cinta yang dilarang itu terjadi. Dahulu kala, ada seorang pemuda dari Suku Dayak Jangkang jatuh cinta kepada seorang gadis dari Suku Dayak Kanayan. Layaknya sejoli pada umumnya, keduanya dilanda asmara ingin bisa sehidup-semati bersama.

Namun, apa daya ketika cinta mereka terhalang oleh hukum adat? Bagaimana mereka bisa mengatasinya? Mau kawin lari, tabu dan sangat dilarang. Sanksi kawin lari akan jauh lebih mengerikan. Mau merajuk, hanya akan menyisakan ratapan tak berkesudahan.

Maka, kedua sejoli itu akhirnya menyerah dan mengikuti hukum adat. Ketaatan terhadap norma yang berlaku di masyarakat tempat mereka tinggal, jauh lebih penting dibanding hasrat cinta di hati mereka masing-masing. Hubungan cinta itu layu serta gugur sebelum bersemi dan berbunga.

Namun, peristiwa itu tidak tinggal sebagai peristiwa yang berlalu begitu saja. Para leluhur Suku Dayak berhasil mengabadikannya menjadi seni budaya yang berhasil menjadi tradisi turun-temurun. Seni budaya itu bernama Tarian Bopureh.

Dalam Bahasa Suku Dayak Jangkang, Bopureh mengandung arti “silsilah”. Tarian ini adalah ungkapan pilu dari sejoli yang dilanda cinta. Tarian ini juga sekaligus menjadi pengingat agar setiap generasi Suku Dayak Jangkang mau untuk tetap setia dan menjunjung tinggi adat istiadat mereka.

Siapa lagi kalau bukan generasi suku itu sendiri yang akan melanjutkan adat dan tradisi mereka? Nilai, norma, dan tradisi suku, adalah lebih tinggi di atas kepentingan pribadi. Maka dalam hal ini, filosofi Tari Bopureh memang patut kita hormati dan harus kita lestarikan.

Tari Bopureh biasanya dibawakan oleh sepuluh orang. Dua penari mewakili sepasang kekasih yang saling jatuh hati dan delapan penari lain merupakan para pengiringnya.

Tarian ini didominasi oleh gerakan tangan yang meliuk-liuk. Gerak tarian menjadi menarik karena dibarengi dengan ragam formasi. Pada adegan tertentu, delapan penari yang semuanya perempuan akan membentuk formasi melingkar dengan penari pria sebagai pusat.

Ciri khas kostum Tari Bopureh dapat dilihat dari corak pakainnya yang semua mengenakan pakaian adat Suku Dayak, Provinsi Kalimantan Barat. Dalam perkembangnya, kostum dimodifikasi pula dengan berbagai aksesoris dan berbagai unsur bersifat modern.

Ciri khusus lainnya terdapat pada hiasan atau aksesoris yang dikenakan di kepala. Aksesoris itu berupa mahkota burung tingang atau burung enggang yang khusus dikenakan para penari pria. Dengan mahkota inilah, Tarian Bopureh mudah dikenali sebagai kesenian asli Suku Dayak.

Sementara itu, pada kain yang dibentangkan saat tarian berlangsung, terdapat beragam corak dan warna. Kain tersebut ingin mengatakan bahwa Suku Dayak memiliki keberagaman, baik berupa ragam subetnis maupun keragaman budaya yang selalu dijunjung tinggi oleh masing-masing subetnis.

Selain itu, setiap penonton akan mudah mengenali tari ini, karena di bagian awal tarian (prolog) akan dibacakan puisi yang menggambarkan bagaimana kegalauan hati sejoli yang saling mencintai seperti telah diulas. Bait puisi itu adalah sebagai berikut.

Kisah cinta di tanah jauh, tanah kerinduan di Rijuan Tujuh
Tujuan akhir pemuda rantau, dari jangkang di atas sanggau
Gadis kanayan memikat hati, memberikan cinta sepenuh hati
Bumi dipijak langit dijunjung, sampaikan cinta pada penghujung
Beda bahasa beda budaya, lain adat lain silsilah
Pagar batas menahan langkah, warna-warni masalah berujung kisah
Apakah cinta seputih kapas, mengubah pelangi di langit lepas

Editor : Taat Ujianto