• News

  • Singkap Budaya

Macan Mengaum: Kenang Murid Tak Terima Syekh Siti Jenar Dibunuh

Patung Macan mengaum di Boyolali lebih dikenal dengan sebutan macan tertawa
Twitter
Patung Macan mengaum di Boyolali lebih dikenal dengan sebutan macan tertawa

BOYOLALI, NETRALNEWS.COM -  Masing-masing daerah di Nusantara memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Di Boyolali, Jawa Tengah, ada satu kekhasan yang mungkin khalayak belum ketahui secara seksama, yakni keberadaan patung macan tertawa yang berada di di pertigaan depan kantor Kecamatan Simo, Boyolali.

Patung ini dibangun bukan sekadar patung biasa. Bentuknya yang memperlihatkan sosok macan tertawa terbahak pun ada alasan dan latar belakangnya. Ingin tahu legendanya?

Menukil dari catatan Perpustakaan Budaya (budaya-indonesia.org), keberadaan patung ini ada hubungannya dengan nama kecamatan di daerah tersebut yakni Kecamatan Simo, Boyolali.

"Simo" dalam bahasa Jawa berarti macan atau harimau. Warga setempat memiliki tradisi lisan tentang asal-usul nama kecamatan tersebut yakni terkait dengan kisah perjalanan Sunan Kudus dari Pengging, Boyolali menuju Demak.

Saat Sunan Kudus hendak menuju Kesultanan Demak. Dalam perjalanan, terjadi peristiwa yang menyebabkan ia menamakan daerah tersebut dengan sebutan "Simo".

Peristiwa tersebut terjadi sekitar abad ke-16. Alkisah, suatu ketika, Sunan Kudus diutus oleh Sultan Demak untuk menemui Kebo Kenongo di Peggging yang dikabarkan menolak menghadap ke Kesultanan.

Begitu tiba di Pengging, Sunan Kudus sempat disambut ramah oleh Kebo Kenongo, yang tak lain adalah ayah Joko Tingkir tersebut. Sunan Kudus pun merayu Kebo Kenongo agar berkenan menghadap Sultan Demak.

Namun Kebo Kenongo tetap bersikukuh menolak menghadap sultan karena masih masygul dengan hukuman mati terhadap gurunya, Syeh Siti Jenar, oleh pihak kesultanan.

Padahal pesan dari Sultan Demak kepada Sunan Kudus sangat jelas: "bawa menghadap, baik secara suka-rela maupun dipaksa."

Perselisihan terjadi. Terdorong rasa hormatnya kepada sang wali, Kebo Kenongo enggan melawan. Dia bahkan menunjukkan titik kelemahan tubuhnya yang bisa menyebabkan kematian jika tergores senjata.

Sang Sunan menusuk titik lemah itu sehingga Kenongo menemui ajal. Keluarga maupun warga desanya tak mengetahui peristiwa itu karena kejadiannya di ruangan khusus.

Sunan dan pengikutnya lalu kembali ke Demak melewati jalur Kali Cemoro. Dia sempat bermalam di sebuah lembah di pinggiran sungai.

Namun pagi harinya dia mendapatkan kabar bahwa ribuan rakyat Pengging memburunya karena tidak terima setelah mengetahui Sunan Kudus telah membunuh pemimpin mereka.

Merasa kalah jumlah personel, Sunan Kudus kemudian menabuh sebuah bendhe atau gong kecil. Suara yang muncul dari bendhe tersebut bukan layaknnya suara nada musik gong, namun lebih meyerupai auman macan yang sedang marah. Bendhe itu terus dibunyikan sembari terus menjauh dari kejaran.

Rakyat Pengging juga menjadi ciut nyali mendengar suara auman macan. Mereka akhirnya memilih mengurungkan niat menuntut balas kepada sang sunan, karena khawatir akan dihadang atau berhadapan dengan macan yang sedang mengamuk.

Setelah kejadian itulah maka nama daerah tersebut terkenal dengan sebutan Simo. Sedangkan tempat Sunan Kudus pernah bermalam selanjutnya disebut Simo Walen, karena pernah disinggahi sebagai seorang wali.

"Pembuatan tugu macan itu sebagai tetenger (penanda) bahwa itu daerah Simo. Mengingatkan tentang asal-muasal penamaan daerah ini," kata Ribut Budi Santoso, tokoh warga Simo, beberapa waktu silam.

Hal serupa juga disampaikan oleh Camat Simo, Hanung Mahendra. Dia mempersilakan jika ada yang menilai bahwa patung macan itu lebih terkesan tertawa daripada menunjukkan kegarangan.

Namun ditegaskannya, pembuatan patung macan dengan bentuk mulut terbuka adalah ekspresi mengaum.

"Mulut macan yang terbuka itu menggambarkan macan yang sedang mengaum. Sejarahnya kan memang seperti itu, nama simo dari suara auman macan," ujar Hanung.

"Patung macan tidak harus menakutkan, malah terlihat ramah. Dibuat dengan mulut yang terbuka itu menggambarkan macan sedang mengaum. Itu kan dikaitkan dengan penamaan daerah ini yang bersumber dari suara auman macan," kata Sumarno, warga Simo lainnya.

Editor : Taat Ujianto