• News

  • Singkap Budaya

Pernah Ditolak FUI, Sedekah Laut Bukan Syirik pada Nyi Roro Kidul

Susasana sedekah laut di Pantai Srandil, Cilacap, Kamis (10/9/2020)
Netralnews/Taat Ujianto
Susasana sedekah laut di Pantai Srandil, Cilacap, Kamis (10/9/2020)

CILACAP, NETRALNEWS.COM – Aroma dupa bersatu dengan deburan ombak di pantai Srandil Cilacap, Jawa Tengah. Tak kurang dari 250 orang warga Maos hanyut dalam keheningan di tepi laut selatan.

Mereka sedang khusyuk menjalankan ritual Sedekah Laut atau yang biasa dikenal dengan Larung Jolen Tunggul (artinya: jangan lupa pada Yang Tunggal/Tuhan). Terlihat sesepuh paguyuban Songsong Tunggul Bawana Langgeng sesekali mengayunkan dupa memberi isyarat penghormatan dengan menghadap laut.

Jolen Tunggul yang berisi aneka hasil pertanian ditata rapi dalam miniatur Pendopo Kabupaten. Di dalamnya ada kain kafan pembungkus Pendopo Kabupaten yang sudah dilepas sehari sebelumnya.

Kain Kafan akan dilarung bersama sejumlah sayuran, umbian, aneka rupa bua setaman. Semua merupakan simbul “persembahan” kepada Laut yang selama setahun memberikan penghidupan.

Bagi masyarakat Nelayan, Jolen Tunggul biasanya juga dilengkapi dengan kepala kerbau. Namun bagi masyarakat petani di Cilacap, Jolen Tunggul biasanya hanya berisi hasil pertanian.

Bagi sejumlah orang, larung sedekah laut sering dikaitkan dengan kepercayaan menyembah Ratu Kidul. Padahal, ada makna lebih dalam. Sayangnya ada sejumlah pihak yang menganggapnya musyrik maupun syirik.

"Larung sedekah laut di Pantai Selatan ditujukan bagi Nini. Sering juga disebut Ibu Ratu Kidul, tapi jangan salah, Nini atau Ibu Ratu Kidul merupakan simbol dari Ibu Pertiwi. Ibu Pertiwi telah memberikan penghidupan kepada kita, maka sedekah menjadi semacam budaya memberikan ucapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa,” papar Basuki Raharjo, ketua Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) cabang Jawa Tengah yang secara khusus ikut menyaksikan acara tersebut.

Larung sesaji tahun 2020 relatif diselenggarakan secara sederhana mengingat sedang masa pandemi. Sementara peserta tampak tertib dan khidmad dengan menjalankan protokol kesehatan serta menggunakan masker.

Namun demikian, di malam Jumat Kliwon yang jatuh pada 10 September 2020, tampak komunitas dan paguyuban antre secara bergantian menjalankan ritual larung atau sedekah laut. Bahkan tampak pula paguyuban Penghayat Kepercayaan dari Bekasi pun datang untuk Larungan.

Tahun 2018 terjadi penolakan

Ritual sedekah laut di Cilacap pernah menjadi sorotan publik. Pasalnya ada sejumlah kelompok memasang banner dan spanduk penolakan. Mereka menyebut larung dianggap musyrik dan bisa mendatangkan tsunami.

Penolakan dalam banner atau spanduk provokatif sempat terpasang di sejumlah titik dua hari sebelum acara rutin tahunan nelayan ini digelar. Namun berkat perjuangan gigih pegiat kebudayaan, masyarakat Penghayat Kepercayaan, dan masyarakat nelayan di Cilacap, banner dan spanpuk itu akhirnya dicopot.

Bahkan, selang beberapa hari muncul ikrar bersama yang dihadiri pula kelompok yang sebelumnya menolak, untuk melanjutkan dan melestarikan budaya dan tradisi tersebut.

Maka, acara berhasil tetap digelar dengan sukses yakni pada hari Jumat, 12 Oktober 2018. Setidaknya 10 Jolen Tunggul berhasil dilarung.

Sesuai pakem ratusan tahun lampau, sedekah laut diawali malam Towongan. Lantas, pagi harinya, serangkaian prosesi seserahan jolen. Seserahan ini diawali prosesi penyerahan jolen Tunggul kepada sesepuh nelayan.

Tokoh Adipati Tjakrawerdaya III yang mengawali tradisi Sedekah Laut diperankan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Cilacap, Wijonardi. Sedangkan tokoh Tumenggung diperankan oleh Tukiran, seorang guru pada salah satu SD di Kabupaten Cilacap.

Terlepas dari kekuatan spriritual yang lelatarbelakanginya, sedekah laut di Cilacap merupakan salah satu agenda yang terdaftar dalam Calender of Event Pariwisata Provinsi Jawa Tengah. Pelaksanaannya rutin dilaksanakan setiap tahun pada hari Jumat Kliwon di bulan Sura, perhitungan kalender Jawa.

"Sedekah Laut sebenarnya event budaya seremonial. Ibarat kita melihat sesuatu zaman dulu yang diadakan saat ini. Sehingga kami berharap hal ini murni dilihat dari aspek budaya, jangan dicampur adukkan dengan agama," kata Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Cilacap, Murniyah seperti dilansir Liputan6.com.

Sedekah laut dinilai cukup efektif meningkatkan pendapatan asli daerah. Tahun ini PAD sektor pariwisata ditarget Rp 2,6 miliar dan telah terpenuhi sekitar 93 persen. Sisa waktu 3 bulan, menurut Murniyah, cukup untuk menutup target tersebut.

Filosofi sedekah laut

Ketua MLKI Cilacap, Basuki Raharja menerangkan Jolen berasal dari kata Ojo Kelalen, yang berarti jangan lupa dalam bahasa Indonesia.

Jolen adalah perlambang untuk mengingatkan manusia agar tidak lupa terhadap Yang Maha Kuasa atas rizki yang diterima. Sedekah laut adalah perwujudannya.

Jolen biasanya berisi kepala sapi atau kambing, terkadang kerbau, dan juga ubo rampe lain. Ubo rampe yang dilarung itu juga pertanda agar manusia tak serakah dan tetap bersyukur.

"Kenapa kepala, karena pusatnya di kepala. Sehingga manusia punya kebijaksanaan," Basuki menerangkan.

Sebelumnya, sejumlah banner atau spandukprovokatif bernada penolakan sedekah laut muncul di sejumlah titik di Cilacap. Spanduk tersebut antara lain berbunyi, “Jangan Larung Sesaji Karena Bisa Tsunami”.

Ada pula spanduk yang berbunyi “Rika Sing Gawe Dosa, Aku Melu Cilaka” (Kamu yang berbuat dosa, saya ikut celaka) dan “Sedekah Karena Selain Allah Mengundang Azab Looh” serta “Buatlah Program Wisata yang Allah Tidak Murka”.

Seluruh spanduk mengatasnamakan Forum Umat Islam (FUI) Cilacap. Belakangan, Ketua FUI Cilacap Syamsudin mengklarifikasi bahwa FUI tak menolak sedekah laut, melainkan hanya memperingatkan agar umat Islam tak mengikuti perbuatan yang dekat dengan kesyirikan.

Spanduk provokatif ini pun lantas diturunkan atau dicopot oleh FUI sehari sebelum pelaksanaan sedekah laut usai jadi polemik dan diprotes keras oleh sejumlah ormas dan kelompok masyarakat lain.

Editor : Taat Ujianto