• News

  • Singkap Sejarah

Uang Negara Dihamburkan di Pelacuran, Hasjim Ning Naik Pitam

Hasjim Ning (kiri) dan Alamsjah Ratu Perwiranegara (kanan)
foto: historia.id
Hasjim Ning (kiri) dan Alamsjah Ratu Perwiranegara (kanan)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Cukup menarik menyimak catatan Oleh MF Mukthi berjudul "Terpaksa Ganti Uang Negara yang Dipakai Foya-Foya" seperti dilansir Historia.id. Catatan itu menunjukkan bagaimana kusutnya situasi pascakemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Dari catatan pendek tersebut, sedikit atau banyak, generasi milenial bisa mendapatkan gambaran tentang situasi  sesudah proklamasi kemerdekaan RI.

Kisah ini bersumber dari kejadian menjengkelkan yang dialami Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta sekaligus sahabat Bung Karno yang kemudian menjadi pengusaha berjuluk “Raja Mobil Indonesia”.

Ia juga pernah menjadi ajudan presiden atau birokrat di sekretariat wakil presiden. Walau berada berdekatan dengan para pejabat tinggi di era 1946 di Ibuk Kota RI, Yogyakarta, ternyata Hasjim justru merasa tersiksa dan tertekan. Sehari-hari terasa monoton.

“Aku sudah jemu di kota itu. Aktivitasku mandek. Dengan Ford Cabriolette-ku aku hanya mondar-mandir tanpa arti, selain mengantarkan pejabat negara sampai menteri yang mau bepergian ke luar kota,” keluh Hasjim dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang (1986).

Beruntung ada KSAL Laksamana M Nazir kemudian mengajaknya jalan-jalan menginspeksi pangkalan AL di Tegal dan Cirebon. Tawaran KSAL langsung diiyakan. “Setidak-tidaknya aku akan meninggalkan Kota Yogya yang menjemukan itu untuk beberapa hari,” tulisnya.

Bersama M Nazir, Hasjim menghabiskan dua hari di Tegal dan dua hari di Cirebon. Ikut bersama mereka, Darwis Djamin, panglima AL Tegal.

Di malam terakhir, Hasjim diajak Nazir berunding dengan Darwis. Tak diduga, Hasjim diminta menyelundupan persenjataan, obat-obatan, spare part kendaraan, dan kain untuk kebutuhan Angkatan Laut di Tegal.

Kala itu, tentara AL di Tegal mengalami kesulitan mendapatkan persenjataan dari Jakarta akibat pendudukan tentara Belanda. Jalan satu-satunya hanya dengan melakukan penyelundupan untuk menembus blokade Belanda.

Hasjim sempat ragu, namun akhirnya mau menerima tugas itu. Ia memang memiliki banyak kenalan. Selain itu, keinginannya untuk meninggalkan Yogyakarta menjadi penyebab ia mau menerima tawaran itu.

Dengan bekal surat Muhammad Said, kepala bagian logistik markas AL Tegal, Hasjim menjumpai seorang warga Tionghoa di Perusahaan Lip Seng & Co di Glodok, Jakarta. Perusahaan ini dikenal  biasa memasok kebutuhan AL.

Untuk menuju Jakarta, Hasjim menumpang kereta api istimewa yang secara khusus sedang membawa rombongan PM Sjahrir menuju tujuan yang sama.

Ia sampai di Jakarta dengan lancar. Ia segera ke Glodok untuk menumpai seorang tokoh Tionghoa di temoat itu. Hasjim menerima segepok uang Jepang dari tokoh tersebut namun segera Hasjim menolaknya karena yang ia butuhkan adalah Uang Merah atau uang NICA.

Dengan Uang Merah, Hasjim akan lebih leluasa melakukan transaksi di kota-kota yang  diduduki tentara Belanda.  Untuk mendapatkan uang yang dimaksud, Hasjim terpaksa haru menunggu beberapa lama.

Ketika menerima uang itu, jumlahnya pun masih jauh dari apa yang dibutuhkan tentara di pangkalan AL Tegal, yakni hanya f10 ribu. Walau begitu, uang itu sangat berarti.

Petualangan Hasjim  dalam menyelundupkan senjata sebenarnya cukup lancar. “Mendapat barang-barang kebutuhan angkatan laut sebagaimana dipesankan tidak begitu sulit di Jakarta. membawanya keluar dari Jakarta cukup sulit.

Setiap jalan ke luar kota dijaga dengan berlapis-lapis. Penjagaan militer Inggris tidaklah masalah. Akan tetapi cegatan-cegatan serdadu NICA yang suka berpatroli sangat berbahaya,” kata Hasjim mengenang masalah utama yang dihadapi.

Untuk bisa lolos, Hasjim harus putar otak dan cerdik mencari celah. Hasjim akhirnya sukses melakoni perannya. Ia berhasil mendapatkan peluru, revolver, hingga granat untuk menyuplai tentara AL di Tegal secara berkala.

Akan tetapi, pernah juga ia mengalami nasib sial. Penyebabnya sebenarnya bukan karena ulah dirinya sendiri. Hasjim menyebutkan mayoritas karena ulah “orang-orang sendiri” yang tak amanah atau tak kuat godaan.

Salah satu kegagalan yang diceritakannya adalah saat Hasjim menitipkan beberapa ribu Uang Merah kepada seorang kawannya untuk diserahkan kepada Mayor Tumbelaka, petinggi AL di Jakarta. Uang itu ternyata tidak sampai ke tujuan.

Hasjim tak mau namanya tercoreng dan dituduh menggelapkan. Ia segera mencari kawannya tersebut. Dikejarnya ke kota Karawang. Ia mendapat informasi bahwa kawannya sudah bergerak menuju Yogya. Ia pun segera bergegas ke Yogyakarta.

Di salah satu sudut di kota Yogyakarta, Hasjim akhirnya berhasil menemui orang tersebut.  Kemarahannya sudah tampak sejak ia menanyakan mengapa uang yang ia titipkan tidak disampaikannya kepada Mayor Tumbelaka.

Jawaban dari kawannya sangat mengejutkan. “Telah habis, Sjim. Ketika kami bersama-sama ke Solo dan Malang,” jawab kawan itu bergetar ketakutan.

Terang saja Hasjim naik pitam. “Bukan peluru dan granat yang aku suruh bawa padamu. Tapi uang. Kau hambur-hamburkan uang negara itu pada cabo-cabo (pelacur, red). Dengan apa akan kau ganti? Atau aku yang harus mengganti uang yang kau foya-foyakan itu?”

Melihat Hasjim sedang naik pitam, semua orang yang ada di ruangan itu diam ketakutan. Namun ia merasa marahnya sia-sia. Uang itu sudah habis.

Walau bukan karena ia yang menikmati uang itu, Hasjim tetap merasa harus bertanggung jawab menggantinya karena itu adalah uang negara.

“Untuk mengganti uang itu, aku terpaksa melepaskan sedan Vauxhall-ku pada Mayor Tumbelaka,” kata Hasjim.

Editor : Taat Ujianto