• News

  • Singkap Sejarah

Kepala Kampung Jawa Didakwa Makar, Dihukum Penggal dan Dicincang

Ilustrasi para pesakitan yang siap dihukum serdadu VOC di Batavia
foto: istimewa
Ilustrasi para pesakitan yang siap dihukum serdadu VOC di Batavia

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Di bawah cengkeraman Penguasa VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur), warga Batavia diatur sedemikian rupa sehingga pemukiman terbentuk berdasarkan etnis dan suku serta pribumi dan nopribumi. 

Pemukiman mewah berupa kastil milik para penguasa berada di pusat, sementara kampung-kampung berdiri di luar tembok kota.

Jejak sistem pengelompokan tersebut masih bisa kita lihat melalui julukan nama kampung yang kini masih ada antara lain Kampung Bali (Jakarta Pusat), Kampung Melayu (Jakarta Timur), dan Kampung Jawa (Jakarta Barat).

Dahulu, orang Belanda menggebyah uyah (mencampuradukan) orang Jawa. Sebutan Kampung Jawa sebenarnya terdiri dari orang Banten, Jawa Tengah, hingga orang dari Jawa Timur. Artinya, etnis yang disebut Jawa sebenarnya bisa terdiri dari beberapa suku.

Orang-orang Jawa ini selalu dicurigai oleh VOC karena di abad ke-17, terjadi perseteruan panas antara penguasa Kerajaan Mataram dan Kesultanan Banten melawan VOC.

Menurut Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia (2007) disebutkan bahwa VOC kala itu tidak bisa membedakan orang Banten, orang Mataram, atau orang Jawa dari kawasan lain.

“Di mata penguasa VOC itu, semuanya adalah orang Jawa yang mereka sebut Javanen,” tulis Mona.

Lalu di manakah lokasi Kampung Jawa di masa itu? Letaknya ternyata di kawasan yang kini bernama Mangga Dua, Jakarta Barat.

Sementara bila dibandingkan dengan peta tahun 1682 buatan Johan Nieuhof, Kampung Jawa digambarkan berada di Jl. Kaum (sekarang Jl. Jatinegara Kaum), yakni satu jalan menuju ke makam Pangeran Jayakarta di Jakarta Timur.

Menukil catatan Hendri F. Isnaeni berjudul “Kepala Kampung Jawa Dihukum Mati dengan Keji” dalam Historia.id, disebutkan bahwa menurut Hendrik E. Niemeijer dalam Batavia: Masyarakat Kolonial Abad XVII, Kampung Jawa berada di sebelah barat kota didirikan pada 1643.

Kampung itu dahulu menempati lahan berukuran 917 x 30 roeden (1 roede kurang lebih 3,75 meter). Dahulu, lahan besar itu ditumbuhi pepohonan kelapa dan dimaksudkan untuk menampung para penebang pohon (orang Jawa) yang biasa berdagang kayu di sepanjang tembok kota.

Kampung Jawa di sebelah barat kota ini dipimpin oleh seorang Nasrani asal Ternate, Jan Pekel atau Jan Cleyn.

Perkampungan dipimpin oleh seorang kepala kampung dengan tugas mengatur administrasi, ekonomi, hingga persoalan keamanan. Kepala kampung inilah yang kemudian diberikan julukan sebagai kapiten atau letnan.

Untuk Kampung Jawa, kepala kampung bergelar inlandsche commandant atau komandan pribumi. Sebutan komandan, kapiten, atau letnan disebabkan karena pada mulanya latar belakang pemimpin itu adalah bagian dari serdadu atau anggota pasukan VOC.

Ketika sudah dalam kondisi bebas perang, ia memimpin warga untuk menjadikan lahan sekitar pemukiman menjadi lahan pertanian.

Salah satu pemimpin Kampung Jawa yang terkenal dalam catatan sejarah bernama Jan Cleyn.

Hendrik E. Niemeijer menyebutkan bahwa Jan Cleyn dan warganya dikenal setia. Bersama 20 orang Jawa lainnya, ia pernah ikut berperang bersama serdadu VOC di Sailan (Srilanka). Ia juga pernah membantu pengepungan Kota Malaka tahun 1641.

Sayangnya, tiga tahu kemudian VOC terjadi peristiwa yang kemudian merubah catatan baik yang sebelumnya diperoleh. Jan Cleyn disebut-sebiut memiliki hubungan rahasia dengan penguasa Banten dan Mataram.

Dia ditengarai telah bersekongkol dengan Kiai Mas Goula, tokoh Moor (dari Bahasa Portugis: mouro artinya orang muslim) di Batavia.

Akibatnya, banyak penduduk mengaku takut dan khawatir terhadap orang-orang Jawa. Munculah stereotip orang Jawa sebagai kelompok yang tidak dapat dipercaya, cepat mengamuk, dan keras kepala.

Mas Goula merupakan keturunan termuda dari keluarga Arab dari Surat, India. Konon, ia ke Batavia karena Sultan Mataram memerintahkannya untuk memasok serdadu.

Januari 1644, Mas Goula mendapat bantuan Jan Cleyn sehingga mendapat izin bermukim di kawasan ommelanden (luar tembok kota) bersama keluarga dan budaknya. Syaratnya, dia harus lapor ke kastil setiap bulan.

Namun, pada Agustus 1644, kedua tokoh tersebut diseret ke pengadilan atas dugaan melakukan makar. Dalam dakwaannya, Jan Cleyn dituduh telah menanggalkan agama Nasrani sejak kecil, buktinya ia bersedia disunat. Dengan dakwaan itu, orang hilang kepercayaan terhadapnya.

Dakwaan lain menyebutkan bahwa Jan Cleyn telah mengumpulkan 500 orang Banten dan 1.000 orang Cirebon bersenjata. Mereka diduga akan menyerang Gubernur Jenderal dan penduduk Batavia.

Jan Cleyn disebut-sebut berniat akan membunuh Gubernur Jenderal Antonio van Diemen. Strategi yang digunakan, Jan Cleyn akan bertamu dengan dalih hendak memberikan hadiah.

Sementara ia bertamu, pasukan Banten dan Cirebon akan memanjat tembok kota kemudian menyerbu serta merebut kota.

Dakwaan itu sangat berat akibatnya. Dakwaan tersebut menyeret ingatan masyarakat Batavia terhadap serangan Mataram tahun 1628 dan 1629. Akibatnya pun fatal, Jan Cleyn dijatuhi hukuman berat dan mengerikan.

“Tubuhnya dicincang, kepalanya dipenggal, dan bagian-bagian tubuhnya dipotong empat dan dipertontonkan di empat penjuru angin untuk membuat orang lain jera,” tulis Hendrik.

Nasib yang sama dialami Mas Goula. Selain itu sejumlah orang yang dianggap terlibat ikut dihukum gantung.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber