• News

  • Singkap Sejarah

Heboh Majapahit Berdiri Lagi

Candi Simping, peninggalan Majapahit di masa kolonial Belanda.
foto: KITLV
Candi Simping, peninggalan Majapahit di masa kolonial Belanda.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Baru-baru ini publik dihebohkan dengan berita tentang klaim berdirinya Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah, sebagai penerus Kerajaan Majapahit.

Sayangnya, sebelum keraton itu kembali mampu menguasai Nusantara, raja dan ratu Keraton Agung Sejagat yang bertahta di singgasananya harus berurusan dengan aparat keamanan.

Raja dan ratu tersebut merupakan pasangan suami istri yang bernama Toto Santoso (42) dan Fanni Aminadia (41). Mereka akhirnya dicokok polisi atas dugaan penipuan.

Padahal, baru sepekan sebelumnya, Toto Santoso (42) dan Fanni Aminadia (41) menggelar kirab bersama pengikutnya, di Desa Pogung Jurutengah, RT 03/RW 01, Bayan, Purworejo.

Keraton Agung Sejagat di Kabupaten Purworejo yang mengklaim sebagai kerajaan penguasa penerus Majapahit dianggap telah meresahkan warga sekitar dan diduga telah melakukan tindak penipuan.

Sebelum “raja” dan “ratu” ditangkap, Kodam IV Diponegoro berkoordinasi dengan Polda Jawa Tengah ikut menyelidiki kebenaran Keraton Agung Sejagat di Kabupaten Purworejo.

Penyelidikan termasuk hal kemungkinan adanya upaya mendirikan pemerintahan sendiri atau makar yang dilakukan Keraton Agung Sejagat.

"Kalau soal makar, kita belum sampai ke situ. Kan pastinya berkoordinasi dengan Polri yakni Polda Jawa Tengah. Kita cek semua dulu," kata Kepala Staf Kodam IV Diponegoro Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa, Selasa (14/1/2020).

Begitu mendapatkan informasi tersebut, TNI meminta ada pemeriksaan khusus terlebih dulu sebelum sampai pada kesimpulan tertentu.

"Kami sudah menerima semua informasi, termasuk foto dan videonya. Kami akan cek dulu kebenarannya, untuk kemudian melakukan tindakan apa," kata Teguh Muji.

Hari Selasa (15/1) petang, sekitar pukul 18.00 WIB, 'sang raja dan ratu' itu dibawa ke Polres Purworejo untuk dimintai keterangan. Selanjutnya, kedua orang ini dibawa ke Mapolda Jawa Tengah di Semarang.

Kapan Majapahit runtuh?

Kontroversi tentang klaim Keraton Agung Sejagat di Purworejo sebagai penerus Majapahit, mengingatkan kita pada kisah kontroversi tentang keruntuhan Majapahit di abad ke-15.

Sampai sekarang masih banyak yang menganggap bahwa Kerajaan Majapahit runtuh pada 1400 saka (1478 M). Kesimpulan tersebut didasarkan pada candrasengkala sirna ilang kertaning bhumi.

Namun, sesungguhnya, pembahasan soal keruntuhan Majapahit masih belum berakhir hingga kini.

Menukil catatan Risa Herdahita Putri berjudul “Polemik Keruntuhan Majapahit” yang dilansir Historia, disebutkan bahwa hingga kini, para pakar sejarah masih beda pendapat soal kepastian kapan Majapahit runtuh.

Arkeolog Hasan Djafar menyebut bukti-bukti sejarah memperlihatkan kerajaan itu masih ada sampai beberapa tahun kemudian.

“Sumber sejarah Majapahit akhir yang ada sangat sedikit jumlahnya. Selain itu, sumber-sumber yang ada tidak banyak memberikan keterangan,” tulis Hasan dalam Masa Akhir Majapahit (2009).

Thomas Stamford Raffles, salah satu yang mendukung pendapat keruntuhan Majapahit pada 1400 saka. Dalam The History of Java, dia menyebut Majapahit diruntuhkan Demak pada 1400 saka (sirna ilang kertaning bhumi) berdasarkan Serat Kanda.

Sementara itu, Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara (2005) juga menyatakan hal senada dengan Raffles.

Majapahit sirna pada 1400 saka akibat gempuran Demak. Pendapatnya berdasarkan berita-berita tradisi dan resume laporan Residen Poortman tentang naskah kronik Cina dari Kelenteng Sam Po Kong Semarang dan Kelenteng Talang Cirebon.

Pada 1899, G.P. Rouffaer dalam “Wanneer is Madjapahit Gevallen?” juga secara panjang lebar mengupas masalah keruntuhan Majapahit. Dia berpendapat kerajaan itu tumbang antara 1516 dan 1521, yaitu sekira 1518.

Kemudian sejarawan Belanda, N.J Krom berpendapat Majapahit masih berdiri sampai 1521. Bahkan, berdasarkan temuan prasasti tembaga dari daerah Malang, Prasasti Pabanolan (1463 saka atau 1541 M), Krom berpendapat Majapahit masih ada pada 1541 M.

Lebih jauh, Krom tak setuju keruntuhan Majapahit karena serangan koalisi daerah Islam pesisir, yang dipimpin Demak.

Menurutnya, Majapahit bubrah akibat serangan kerajaan Hindu lainnya dari Kadiri, yaitu dinasti Girindrawarddhana. Dinasti ini kemudian meneruskan pemerintahan Majapahit sampai beberapa lamanya.

Muhammad Yamin juga mengemukakan pendapatnya.Menurutnya, Majapahit runtuh antara 1522 dan 1528, yaitu sekira 1525. Pendapatnya berdasarkan keterangan penjelajah Italia, Pigaffeta, yang menyebut adanya Majapahit (Magepaher) pada 1522.

Selain itu, pendapat Yamin juga didasarkan pada keterangan Joao de Barros, sejarawan Portugis, yang menyebut daerah Panarukan mengirim duta ke Malaka pada 1528.

Dengan adanya perjanjian antara Panarukan dan Portugis pada 1528, Yamin menafsirkan kalau pusat politik Majapahit sudah tak ada lagi.

Mana yang masuk akal?

Di antara banyak pendapat, dalam analisa Risa Herdahita Putri, pendapat Hasan Djafar yang menyatakan bahwa Majapahit runtuh pada 1400 saka, lebih masuk akal jika ditafsirkan sebagai peristiwa perebutan takhta Majapahit oleh Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya terhadap Bhre Krtabhumi.

“Dalam penyerangan itu, Bhre Krtabhumi gugur di kadaton dan Ranawijaya sebagai pewaris sah berhasil menguasai kembali Majapahit,” kata Hasan.

Menurut Hasan, selain prasasti Raja Girindrawarddhana (1408 saka), bukti lain yang menguatkan Majapahit masih lama berdiri yaitu pembangunan tempat keagamaan bercorak Hindu di lereng Gunung Penanggungan pada masa Ranawijaya antara 1408-1433 saka (1486-1511 M).

Hasan menjelaskan, antara 1518 dan 1521, terjadi pergeseran politik di Majapahit yaitu beralihnya penguasaan Majapahit ke tangan Adipati Unus yang memerintah di Demak.

Hal itu berdasarkan pemberitaan Pigafetta pada 1522 bahwa Pati Unus adalah raja Majapahit yang sangat berkuasa ketika masih hidup.

Pati Unus meninggal pada 1521. Jadi memang benar jika pada 1522 Pigafetta menyebutkan Pati Unus sebagai penguasa Majapahit dengan kata-kata ‘ketika rajanya (Pati Unus) masih hidup.
 
Dengan dikuasainya Majapahit oleh Pati Unus, kerajaan ini pun kehilangan kedaulatannya. “Dengan demikian, pada 1519 untuk sementara dianggap sebagai saat keruntuhan Majapahit,” ujar Hasan.

Namun, Hasan menambahkan, dengan berakhirnya Majapahit, bukan berarti semua bekas kekuasaan Majapahit menjadi Islam setelah direbut Demak. Pasalnya, hingga abad 17, daerah Blambangan masih menjadi kekuasaan Hindu.

Editor : Taat Ujianto